AdSense Page Ads

Thursday, October 19, 2017

Bukan Salah Anda

Saat disuit-suitin…
"Kamu sih, pakai baju begitu."
"Kamu sih, jalan sendiri disana."
"Kamu sih, keluar jam sekian."
"Lebay ah, bagus nggak dicolek."
"Makanya, jalan jangan menggoda."

Saat dicolek atau digrepe di bis…
"Kamu sih, bukan bawa kendaraan sendiri."
"Kamu sih, nggak waspada."
"Emangnya kamu nggak bisa teriak gitu, kan punya mulut."
"Kenapa mesti keluar sih?"
"Mungkin kamu terlihat 'Minta'."

Saat 'ditawar' atau dilecehkan…
"Udah, pergi aja. Jangan didengarkan."
"Ngapain juga diladenin, orang gila."
"Siapa suruh lewat sana, kamu memang cari masalah."
"Tapi dia kan berduit. Masalah loe apa?"
"Elu keliatan perek kali hahaha." 

Saat diperkosa…
"Ih, jijik melihatnya."
"Pasti dia yang kelihatan ngasi ijin, emang nggak bener."
"Jadi perempuan jangan kegatelan makanya."
"Nggak mungkin kejadian kalau dia cewek bener."
"Kok pasangannya masih mau ya?"

Saat mengalami kekerasan (seksual) di rumah…
"Itu kan suami, wajib dilayani."
"Bagus pasangannya udah nafkahin, jangan lebay ah."
"Siapa suruh pilih pasangan begitu, dari awal sudah nggak bener."
"Bagus punya pasangan, ga tahu diri sama muka."
"Wanita yang baik itu yang mengalah dan menerima."

Seringkali kita terlalu cepat memberikan pendapat, walau nggak diminta. Dan sangat sering pendapat yang kita berikan itu bukan pendapat, tapi penghakiman. Saat sesuatu yang buruk terjadi, kita seolah paling mengerti dan memberikan masukan "Mestinya kamu…", seolah kita bisa memprediksi apa yang terjadi sebelumnya.

Bagi yang pernah curhat sama saya, pasti tahu kalau saya nggak pernah bilang "Lagian sih kamu…" Buat apa? Sudah kejadian. Padamkan dulu apinya, bukan sibuk cari penyebab saat sekeliling anda terbakar hebat. Ada yang tahu di halaman berapa "Dear Mantan Tersayang" saya tulis ini ? #EhKokJualan . Lagipula, saya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, apa perasaan anda, apa yang menyebabkan semua itu terjadi.

Tapi lebih mudah menghakimi. Lebih mudah sok tahu. Lebih mudah berpikir kalau kita [baca: wanita] jadi orang [baca: wanita] baik-baik, nggak akan ada hal buruk yang terjadi pada kita. Kalau kita menjalankan hidup kita sesuai norma masyarakat, hidup kita akan lurus-lurus saja tanpa dinamika. Dan kalau ada sesuatu yang terjadi, itu salah kita.

Kalau dirampok… Itu salah kita
Kalau dipecat… Itu salah kita
Kalau diputuskan/diceraikan… Itu salah kita
Kalau dilecehkan… Itu salah kita
Kalau diperkosa… Itu salah kita
Kalau mengalami KDRT… Itu salah kita

Lalu kapan salah yang melakukan? Kapan salah orang-orang yang harusnya tahu itu tidak dilakukan, tapi tetap dilakukan? Bukan salah buah terlarang tumbuh di kebun surga, tapi salah Adam dan Hawa yang memakannya. Semua agama dan kepercayaan mengajarkan kita untuk menahan, mengontrol hawa nafsu. Semua agama dan kepercayaan menempatkan manusia sebagai mahluk yang mulia, yang memiliki akal budi diatas ciptaan Tuhan lainnya. Lalu kenapa manusia lain yang disalahkan atas ketidakmampuan kita mengontrol diri kita?

Bagi saya, anugrah terbesar Tuhan untuk manusia adalah empati, kemampuan merasakan apa yang orang lain rasakan. Bukankah Tuhan juga demikian? Bukankah Tuhan mampu merasakan apa yang dirasakan umatnya? Tapi dengan ketidak-tahuan (serta kesok-tahuan) kita, kita menempatkan diri kita 'lebih' dan 'maha tahu'. Kita tidak lagi mampu merasakan apa yang dirasakan seseorang yang berduka, karena "Toh itu salah dia,". Sejak kapan kita sedemikian jauh dari Tuhan?

Bagi anda yang disuit-suitin di jalan, bukan salah anda.
Bagi anda yang disentuh dan dilecehkan, bukan salah anda.
Bagi anda yang dipaksa berhubungan badan, bukan salah anda.
Bagi anda yang di'tawar', bukan salah anda.
Bagi anda yang terpasung dalam KDRT, bukan salah anda.
Bagi anda yang diperkosa, bukan salah anda.

Semua ini membuat diri kita terasa kotor, terasa murah, terasa begitu menjijikkan. Kepercayaan diri kita hilang, dan hidup menjadi kelam penuh ketakutan dan amarah. Walau secara fisik kita terlihat utuh, kekerasan seksual merampas bagian yang penting dari diri kita: Harga diri. Dan saat kita mencari tempat aman, seringkali penolakan yang kita terima, baik karena orang-orang merasa lebih baik dari kita maupun karena mereka tidak tahu harus berbuat apa.

Saya tahu harus berbuat apa. Saya bisa berempati.

Bagi anda yang merasa kotor, nggak. Anda nggak kotor. Anda tetaplah anda. Bagi anda yang merasa takut, masih ada tempat aman di dunia ini, masih ada orang-orang yang mampu mengontrol diri. Bagi anda yang merasa hilang dalam amarah, ada tempat damai menanti anda saat anda siap. Dan satu hal yang pasti, anda tidak sendiri. Tangisanmu adalah tangisan saya. Amarahmu adalah amarah saya. Kepedihanmu adalah kepedihan saya. 

Tidak ada yang berhak mengambil sesuatu yang bukan haknya, bukankah semua kitab suci dan lontar menuliskan seperti itu? Bukankah sepanjang hidup kita kita diajar (dan terkadang dihajar) untuk mampu mengendalikan hawa nafsu? Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang welas asih dan penuh cinta, yang bahkan menghargai kita umatnya yang nista dan penuh dosa? Bukan salah seseorang memiliki harta, salah pencuri yang menganggap itu haknya.

Bukan salah anda. Bukan salah anda. Bukan salah anda.

Tuesday, October 17, 2017

Me, Too

I stood in that dinghy room, trying to put on my clothes as fast as possible. The sun will soon set and my folks will be wondering why I was late from work. Except I wasn't at work. I was in a rendezvous with a guy I met on the internet. A quick meeting where I ended up getting screwed, literally and figuratively speaking.

For years I told myself it was not an assault. We met, we kiss, and then we fuck. I was fully aware that that's what going to happen. After all, was I not the one who obediently agreeing to hang with him? I was a bad, bad girl for saying yes to a date so fast, even though I barely knew him. I got what I deserve. Good girl doesn't wander around meeting strangers off the internet.

I spent the next six months waiting nervously for my HIV test. But I deserve it. I did the walk of shame at the doctor's office, a haughty residence that scorned visibly at me when I told her I was unwed but need STD testing. But I deserve it. My ex-boyfriend said he can't be with me again. But I deserve it. I was told for years by the person I loved what a cheap whore I was. But I deserve it.

I deserved those wretched periods. I deserved that filthy look. I deserved the shock when his wife (whom he said he had none) called me on both of my numbers and cussed me for sleeping with her husband. I deserved the "Oh wow, I didn't know that" by a mutual friend who previously swore he's a good man, and then that friend conveniently disappear after. I deserved that all. After all, am I not just a filthy whore who gets what she deserves?

But I don't deserve all of that. 

It wasn't after my divorce and my life in the US that I started to see things with a different perspective. The male enhancement that I saw in the room. The ease of talking of him and his friend. The phone that kept on vibrating. It was a setup. A trap. They knew what they were after, and I fell in their trap. They want free sex, and many women will give it to them. I didn't know. Even though I talked big and bragged about it afterward, inside I feel so filthy, so low. I feel like something was taken from me.

"But it's your decision. You deserve it." No. No, I don't. Now that I understand myself more, there was no way that man doesn't realize I don't want it. It took an hour or so with heavy hints for me to finally followed him to the room. And in there, it was not voluntarily i.e. I wanted to have him, it was "Oh fuck, I guess I have to follow with the program." It was a "yes" under pressure. It was a "yes" because I don't feel like I have an option. Because I already choose to be the whore when I decided to meet him.

The pattern continues with the next few men I dated. If I decide on meeting up with these strangers, sex is to be expected. My feeling was irrelevant. With the first foreigner I dated, I even went as far as making an excuse: "I exchange sex with good conversation, it's perfectly acceptable". Which speaks volume of my desperation, as my country was a very conservative country. I was already a whore. I was already tainted. Yet I feel so filthy, so dirty.

To many, very many people, assault is physical, violent. That's why when there was no visible violence going on, it is not considered an 'assault'. Being proposed for lewd acts, men showing up their dicks, getting masturbated into in a public place, catcalled or being ogled at, these are all being dismissed by "You have the option to leave," "Nothing's missing from you anyway," "No harm done," "Well maybe if you dressed…"

No. No. No.

1) We do not have the option to leave. A lot of times assault victim is placed in the position where they don't really have the option to leave or even to say, "Fuck off". Me with the predators back home. The authority figures (boss, teacher, partner, etc) whom we just can't say no to without jeopardizing our position. The society who pressed us into submission and made us think it is ok for us to be treated that way.

2) Nothing's missing from us. Well, nothing's missing except our pride and self-esteem. Nothing's missing except the feeling of safety that we have and our trust in people and the world. As for "No harm's done", we are reduced into feeling we're nothing like a slab of meat. Our feelings, our thoughts, our self does not matter. Our self-confidence was destroyed and we saw the world, perhaps forever, as scared as a rabbit might. Is that not enough harm?

3) I already have ample breasts by the time I was in high school, and I'll never forget the way the school guard looked at me in my uniform. What, you expect me to get a breast reduction at that age so people won't ogle me? Or do you want me to cover up from top to bottom as to not rouse the very fragile manhood? But men get raped too. Shall we all get covered then?

I dated a man not long after my divorce. We met, he was fun, I knew panty drop will happen. Because it was expected, right? His words forever change my life: "When you are ready." He could've very easily taken advantage of me, me being confused and hurt at that time, but he didn't. Few more date nights happened, but nothing happened. I asked him then, "Don't you want me?" He shrugged. "When you are ready. I will feel guilty if I take advantage of your emotional state," I cried so hard in his arms his dog started barking, thinking he had somehow hurt me.

Another date asked my permission to possibly have sex once we're home from the club. I looked at him confusedly and asked, "Why? You know I won't mind." He replied, "I don't want to have sex without consent, especially if you get too drunk to give consent later." Another date always asks me ever so nicely, and never once our Netflix and Chill turned into sex flicks and willies. These people know I will always say yes, being the somewhat-nympho I am, but that doesn't mean they won't respect how I feel or what I think. This, this is the standard to live on.

If the current me was placed with that predator a decade back, I know I can say, "Not now, homeboy." Because I know I have options, I know I will not be preyed upon. Not by predators like him, not by society, not by the insecure lovers who beat me emotionally to make them feel good about themselves. But the only way to know you have these options is to learn it from your surroundings, by seeing and learning from others. It falls in our shoulders and our hands to established acceptable boundaries and instilling one's worth.

It's ok to say no.
You need to listen what other's feel.
It's not your fault when you are assaulted.
You should not assault people.
What happened to you does not make you an object.
Do not objectify people.
Treat people like you want to be treated.
Have compassion. Have mercy. Have respect.
Don't let your lust run your head.
There is not a single person that is 'asking for it', unless he/she on his/her own clear conscience come to you and literally asked for it, whatever 'it' was.

Changes don't happen overnight. While it was overwhelming to read so many #MeToo stories, nothing will change if we do not take action. Men and women should work together, should realize that when assault happens, it is a crime. Focus on the victims and make them feel better, punish the perpetrators so people will think twice, but above all, understand that it. is. a. crime. Safety and self-esteem are one of the most precious things a person can have, and nobody has the right to rob a person of it.

I feel like I need a good long shower after this, and I might just do that. As measly as it was, my story still scarred me. The repeated words of how dirty I was, both from myself and from others, were still echoing now and then. But I am getting better. I am getting stronger. And no, I do not 'ask' for it nor do I 'deserve' it. Me, too. Me, too.

Thursday, October 12, 2017

Cinta Dalam Sepotong Beha

Saya tuh paling hobi belanja daleman. Terutama beha, apalagi disini kalau lagi sale bisa cuma $8. Biar saya belanja merk Victoria Secret atau La Senza, nggak pernah seingat saya beli yang harganya diatas $15. Model dan warnanya pun beragam, mulai yang biasa, yang ceria, sampai yang siap tarung (#aww).

Tapi saya nggak selalu seperti ini. Waktu masih di Indonesia punya satu dua jeroan yang seksi, tapi hampir semua 'normal'. Sesuai budget dan sesuai kebutuhan, titik. Setelah di Amerika pun, karena masih bergantung pada si mantan, tahu diri nggak minta macam-macam. Cukup yang ada saja. Toh nggak ada yang lihat.

Namun setelah saya berpisah dengan si mantan, saya memberanikan diri melirik VS. Belanja pertama masih polos, barang yang dibeli nggak diskon-diskon amat dan tampilan masih "normal". Belanja-belanja berikutnya perlahan menggila, renda dan tali saling silang dimana-mana hahaha. Sekali beli cuma 1-2 potong, tapi karena sale nya bisa 2-3 bulan sekali...

Tapi ini lebih dari sekedar beha. Walau nggak terlihat, namun secarik kain ini memberikan rasa nyaman dan kepercayaan diri untuk saya. Ini lho saya. Saya yang kuat. Saya yang seksi. Saya yang menarik. Baju luar boleh cuek, tapi isi dalam sangat 'saya'. Untuk pertama kalinya saya menerima diri saya apa adanya. Dan ya, mulai mencintai diri saya sendiri.

Langkah berikutnya: baju. Mulailah saya membeli baju-baju yang saya sukai. Lalu makeup. Mulailah saya merias diri. Lebih cermat memperharum diri. Seiring dengan perkembangan kepercayaan diri saya, saya terlihat semakin menarik, dan lebih mampu memilih dan memilah calon pasangan. Saya bukan yang dulu lagi. Saya tidak keberatan jomblo sampai mendapat yang sesuai standar saya.

Dan semua ini terjadi karena beha.

Tiap orang punya sesuatu yang mendefinisikan dirinya, sesuatu yang sangat ia sukai sehingga walau besok kiamat pun ia akan oke saja selama ia masih memiliki benda itu. Buat saya, beha. Buat teman saya, karir menarinya. Teman yang lain, meditasinya. Ada yang 'pegangan'nya sepatu atau tas. Ada yang senang gelang atau per-akik-an.

Semua orang punya benda seperti ini, tapi tidak semua orang tahu atau ngeh benda apa yang dimaksud. Kadang nafsu juga disalah artikan sebagai zona nyaman, yang mengkoleksi barang hanya agar bisa berkata: "Gue mampu lohhh..." Atau sebaliknya, menolaknya karena merasa ada yang lebih penting.

Hidup itu... Berat. Kalau ringan namanya gulali. Dalam ketergesaan dan ke-stres-an kita dalam hidup, tak jarang kita menafikan bagian dari diri kita, apalagi ditambah tekanan masyarakat yang "Loe harusnya..." Lalu di penghujung hari kita merasa tersesat, merasa bingung, merasa tak tahu arah. Bagaimana kita bisa menavigasi di dunia yang riuh, bila kita sendiri tak tahu siapa diri kita, tak nyaman dengan siapa kita?

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, dan kita tidak mencari sekedar pelipur lara laksana alkohol dan candu. Yang kita cari adalah sesuatu yang sangat 'anda', sesuatu yang membuat anda nyaman dan mencintai diri anda sendiri, sesuatu yang akan menjadi jangkar kokoh anda disaat lautan mengganas agar anda tak lagi kehilangan diri anda.

Kepercayaan diri dan rasa nyaman dengan diri sendiri adalah investasi yang terbaik yang bisa anda berikan untuk diri anda dan orang-orang disekitar anda. Selama anda mampu, tidak ada salahnya memiliki sesuatu yang membuat anda nyaman dan pede, untuk mengingatkan diri anda: "You are worth it". Nggak ada operasi plastik yang bisa menyamai binar di wajah seseorang yang sadar dirinya berharga.

Hidup ini rumit. Kadang lebih gampang setel mode otomatis dan menurut apa kata orang. Tapi kita kan bukan sapi atau bebek yang tinggal ikut apa kata gembala. Kita manusia yang memiliki naluri untuk maju, untuk berkembang. Kita bukan sekedar bunga dandelion yang terlupakan di halaman rumah, kita adalah mawar yang merona ganas, melati yang harum semerbak, anggrek indah nan eksotis.

Dunia terus berputar, dan perubahan terus terjadi. Apakah yang kita inginkan dari dunia? Apakah yang kita inginkan dari diri kita sendiri? Karena diam bukan lagi sebuah pilihan. Anak cucu kita bergantung pada kita untuk memberikan mereka dunia yang aman dan baik untuk mereka. Kita pun harus berani bertanggung jawab untuk memajukan diri kita sendiri.

Carilah 'cinta' itu didalam diri, carilah jangkar yang akan melabuhkan anda. Pupuk bibit itu lalu rangkullah diri anda sendiri. Dan mekarlah, pembaca tersayang. Mekarlah dengan sempurna dan percantik dunia yang begitu menakutkan ini. Jadilah oasis penyegar di bumi yang panas ini. Bagaimana anda bisa mencintai orang lain dan dunia bila anda tidak mencintai diri anda sendiri? Bersinarlah, pembaca-pembaca saya. Bersinarlah.

Search This Blog