AdSense Page Ads

Tuesday, August 22, 2017

Sekedar Tipuan

Duduk melamun di kafe, memandangi foto kue yang diblow up indah untuk mempercantik dinding kafe, sambil merenungi cerita terbaru tentang motivator kondang yang mempidanakan penulis status fesbuk. Ya iya dong, biar bengong tetep mesti updet.

Masalah sama si penulis status ini adalah dia mencari tahu motivator ini siapa, tapi hasil telusuran di gugel nggak sesuai dengan apa yang diaku motivator ini. Ditulislah hasil penelusurannya di fesbuk, dan marahlah si motivator ini. Pake dipidanakan segala si penulis status. Maklum, susah kalau sudah menyangkut urusan dapur.

Terlepas dari urusan pidana ria ini, masih banyak lho orang Indonesia yang nggak paham cara pakai mesin pencari seperti Google, Bing, dan kawan-kawan. Padahal Indonesia dengan jumlah penduduk yang termasuk salah satu terbesar di dunia pastinya juga memiliki pengguna internet yang seabrek.

Banyak alasannya sih kenapa gugel dkk ga laku: koneksi yang nggak stabil, sumber informasi yang kebanyakan Bahasa Inggris, sampai soal malas. Jadilah yang dipakai dan ditelan info dari wassap bbm etc yang nggak bisa dipertanggungjawabkan. Masih ingat kan soal manfaat pete yang ternyata salah terjemahan dari iklan kolagen Purtier? Gagalnya total euy...

Padahal gugel itu teman baik kita lho. Apalagi yang hobi stalking hahaha. Dari semenjak saya di Indonesia, kalau mau ketemuan orang dari online dating pasti saya gugel habis-habisan. Disini apalagi, yang serial killernya horor-horor. Saya nggak mau ketemuan kalau saya merasa orang ini bukan seperti apa yang dia tulis di profilnya. Gini ya, perusahaan aja disini ada yang minta nama akun sosial media biar bisa dicek, apalagi yang mau kencan cuma berdua. Safety first. Utamakan Selamat. Bukan pak Slamet.

Gugel itu juga penting biar anda nggak dikadalin. Diajak investasi? Gugel aja perusahaan investasinya, cari link yang resmi dan kredibel. Sekali lagi, RESMI dan KREDIBEL. Nggak susah mendaftar jadi penulis tamu di situs-situs, apalagi sekedar bikin website dengan tampilan wah. Saya misalnya, bisa aja ngaku saya pemilik perusahaan jasa penulis lepas Yogezwary Words. Masalah benar atau nggak, emangnya ada yang mau ngecek?

Ada pula soal masalah hukum. Sering banget saya lihat di forum imigrasi atau kawin campur orang bertanya pertanyaan yang sebenarnya ada jawabannya di website resmi imigrasi. FYI, disini resminya nggak boleh lho mengisi formulir [imigrasi] dibantu orang lain. Di bagian akhir harus tanda tangan bahwa kita mengerti apa yang ditanyakan, plus nama orang yang membantu kita (kalau ada). Kenapa? Karena kita harus mengerti apa yang ditanyakan dan bukan ho oh-ho oh aja.

Anda pikir bagaimana saya bisa bertahan hidup disini? Gugel itu best pren saya banget. Mungkin 80% yang saya tahu disini itu berkat gugel. Waktu kita pindah ke Los Angeles, saya kok yang mengajarkan si Akang sistem bis/kereta disini. Padahal dia yang punya negara. Gugel juga yang mengajarkan apa hak dan kewajiban saya. Waktu si Akang mengumumkan bisa membuat saya dideportasi kapan saja setelah saya meninggalkan dia, respon saya cuma satu: Try me. Coba aja.

Gimana terus cara ngegugel yang baik dan benar? Latihan, latihan, latihan. Terus terbitkan rasa penasaran dan rasa kritis. Tetap objektif dan jangan cuma memilih apa yang ingin kita baca/ketahui, karena kebenaran itu nggak selalu indah ataupun nyaman. Si A dan B penulis di website 789 misalnya, cari tahu bagaimana bisa menjadi penulis disitu. Jangan telan mentah-mentah semua klaim yang ada di internet. 

Kalau anda baca portfolio online saya misalnya, semua perusahaan tempat saya pernah bekerja terlihat begitu keren dan glamor [#kibasrambut]. Ini saya nggak pake bohong lho, cuma pemilihan kata-katanya saja yang bagus. Mana berani saya bohong di internet, gampang banget soalnya ketahuannya hahaha. Tapi nggak berarti saya nggak bisa memolesnya. Tergantung si pembaca yang mau bersusah-payah mengecek dan cross check apakah yang saya tulis sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

Jangan ditanya soal scam. Setelah tulisan saya viral, banyak banget yang ngaku-ngaku jadi saya, bikin akun palsu, ngajak chat mesum. Stress nggak sih? Ada juga yang cerita dimintain uang sama pacar gantengnya yang nemu di internet. Saya pernah diajak chat oleh orang yang foto fesbuknya nyolong foto gubernur Moskow. Kayanya semua yang di internet itu sekedar tipuan gitu.

Balik lagi sih, kitanya mau belajar pintar nggak? Dulu kita nggih ndoro iya baginda raja selama berabad-abad, lalu iya meneer 350 tahun, masa nggak capek hidup terus diatur orang lain? Bersikap kritis itu penting untuk menemukan jati diri kita, untuk menentukan siapa kita. Sekali lagi, kritis yang objektif ya. Kalau kritis yang subjektif alias cuma mau menerima info dan ide yang sesuai, ya sama saja tetap di dalam tempurung.

Pulsa internet di Indonesia sayangnya memang mahal, dan koneksinya pun bikin stres. Percaya deh, nggak heran banyak bule yang mencari orang Indonesia. Kita sudah terlatih sabar dan nrimo oleh koneksi internet hahaha. Tapi jangan menyerah untuk menjadi cerdas, untuk tetap kritis. Batas-batas dunia telah luruh dengan keberadaan internet. Kita bukan lagi hanya warga negara Indonesia, kita pun bagian dari warga dunia alias global citizen. Sudah siap menerima peran ini? Kita bisa kok. Jangan takut.

Selamat ngegugel...

The Little Gnarly Creature

I glanced at the bar tab and cringe a little bit. It has been a great weekend, but it comes with a price. Ouch. Mind you, I am not the one who's paying it all. My contribution is minimum and only when I was able to whipped out my card faster than him. Which, in my mind, what makes me cringe.

I'm worthy. I know this. I keep telling myself this fact over and over again. In a world filled with suspicion and fear, having someone who's unafraid to smile is priceless. Having someone who wont judge, someone who'll listen, someone who actually care is worth that someone's weight in gold. And yes, I am not so bad looking myself.

Yet I keep refusing 'payments'. Good things happened to me and I thank my lucky stars. Better things happened to me and I freaked out. I can't tell you how many times my friends and best friend roll their eyes in exaspiration, "because you deserve it", "because you work hard for it", "it's not good fortune, it's good karma". But the bar tab was still etched in my mind.

People think I am being humble. I am not. I am being a coward. It's easier to give than it is to receive. 'Giving' gives you the control of the situation, you get to dictate the term and how you feel about the whole exchange. 'Receiving' puts you in the mercy of the person who gives it to you. You don't have a say when you choose to receive something, your power is limited to either accept it or reject it. It is scary. It debilitates you.

But I give freely. I do things without thinking what I can gain from it. I want people to be happy. I want people to know they are not alone, that even though life is hard it is also beautiful and fun. I don't go around calculating life, who owes me what or whom should I 'invest' to. Why is it so difficult for me to think other people feels the same way too? Why is it incomprehensible for me that it is people just want to see me happy, no strings attached?

Beneath the bright and bubbly exterior, the little ball of sunshine, beneath the teddy bear appearance that ready for a hug anytime or to give comfort against the scary darkness of the night, deep down inside lies a little gnarly looking creature tightly hidden by a mass of knobbed thorny black roots. It looks at the world through the slits of the thick, suffocating roots that protect it. It keeps on looking at the world, longing to be there. But it can't.

The world is a scary place and human is not to be trusted. Deception and lies come in abudance. There is no shortage of greed and selfishness. The hand that feeds you may be the hand that hits you next. Expectation is beyond foolish. Why bother to hope when the only one you can rely on is yourself?

"But they are not giving it for free," the voice in my head reprimanded me. She was right. Didn't I show my gratitude and appreciation to people who help and care about me by showering them with love and affection? The food I cook, silly little surprises, never ending supply of hugs and kisses. And by them graciously accepting it, haven't I feel the surge of joy and a sense of accomplishment?

I am not Belle, the smart Stockholm-syndrome survivor who turn the table on her capturer. I am not Aurora, a damsel in such distress she'd rather sleep on it and still manage to snag a prince. I am not Cinderella, a house cleaning OCD that satiate the king's son's feet fetish. But that doesn't mean I don't have my merit. That doesn't mean people shouldn't love me for who I am, nor should I forbid them to. They are allowed to give, and I should be brave enough to receive.

Under the purple light of the cantina I glanced at the bar tab once again. A young Jedi walked past our booth. Behind the bar, the bartender with crazy contact lenses photobombed somebody's photo. Some people put glowsticks on their hair, one for every drink they purchased. My date looked at me and smiled. "Ready?" he asked. I took a deep breath, swallowed my fear, and nodded with a smile.

Deep inside a tiny piece of the knobbed thorny black root fell, and the little gnarly creature can see ever so slightly a bit more of the world. It frightens it, it hurts the little gnarly creature. Close it down, it begged, block it up! But the world outside is so beautiful. Its eyes lit with wonder over the tiniest sliver of the view from the world outside. The fear coiling up around it like a black boa, yet it still fixed its gaze on the little slit that showed it the world. It took a deep breath. We will be fine. I will be fine.

Monday, August 21, 2017

Meneror Si Pelakor

Saya masih nggak ngerti kenapa tiap ada cerita heboh baru soal pelakor saya masih kena tag (#sambitsendal) . Tahu sih, biar gimana juga cerita saya yang viral itu kan memang tentang si Mbak selingkuhan suami saya. Tapi yang sekarang sibuk ikutan ngeshare info pribadi soal selingkuhan masing-masing (bahasa kerennya: pelakor), yuk sabar dulu…
 
Waktu saya tulis soal selingkuhan suami saya, saya cuma ingin dia tahu kalau jalan yang dia pilih itu salah. Bukan cuma dia saja, namun juga sekian banyak orang lainnya yang sedang terpikat bujuk rayu untuk melakukan perselingkuhan. Si Cah Ayu ini (dan calon-calon selingkuhan lainnya), harus mengerti bahwa bahasa semanis madu orang yang sudah berpasangan itu belum tentu benar, dan cerita asli pasangan yang diselingkuhi mungkin jauh berbeda. Sudah, itu saja. Bukan balas dendam, tapi pembelajaran. Ada lho yang SMS saya bilang mereka sudah selesai jadi selingkuhan setelah membaca artikel itu. Ini yang saya harapkan.
 
Lalu Ibu-ibu dan mbak-mbak yang sampai sebar foto pribadi, alamat kantor, alamat rumah, dan data pribadi lainnya itu mengharapkan apa?
 
Nggak banyak yang tahu kalau saya mati-matian berusaha melindungi Cah Ayu ini. Saya punya kok data pribadinya dia, lengkap kap kap. Semua nama akun sosial media dia, sampai nomor induk mahasiswa, alamat rumah, dan nomor telepon saya punya. Semua foto dia bersama si akang tersayangnya pun ada. Tinggal posting di sosial media saya, lalu selamat tinggal bye bye Cah Ayu… Tapi terus saya dapat apa? Suami saya nggak akan balik, saya juga nggak sudi balik sama dia. Lalu apa yang saya capai dengan amarah saya?
 
Waktu tulisan saya jadi viral, mantan suami saya menghubungi saya dengan penuh kemarahan, bilang bahwa Cah Ayu ini habis dikejar-kejar dan dimaki-maki semua orang, walau saya nggak pernah menginfokan namanya. Saya ingat membaca e-mail itu dengan tangan gemetar, karena bukan niat saya menyakiti Cah Ayu ini sampai dia diteror seperti itu. Bahkan saat ada blogger yang berhasil menemukan dan menulis info plus foto Cah Ayu ini (berkat ketololan mantan suami saya), saya memohon-mohon blogger cantik ini untuk menghapus tulisannya. Sampai sekarang pun saya nggak sembarangan nge-add orang di Facebook, takut mereka cuma kepo dan penasaran siapa sih mantan suami saya dan Cah Ayu nya.
 
Kenapa? Karena bukan saya korbannya disini. Kalau bukan sama Cah Ayu ini, mantan suami saya akan dapat orang lain kok. Saya yang beruntung, bukan dia. Saya yang bisa lepas dari seseorang yang nggak bisa menghargai saya. Saya yang bisa menemukan orang-orang yang benar-benar sayang dan peduli pada saya. Saya yang bisa melihat diri saya di cermin dan berkata: "Loe keren. Gue bangga sama elu." Tuhan memberi saya kesempatan untuk menguatkan diri saya, dan saya rasa saya berhasil melaksanakan ujian-Nya. Bagus di saya kan?
 
Tahu kok kalau ada yang memang predator diluar sana, yang semangat '45 memangsa pasangan orang. Tapi mau predator atau korban buaya, tetap nggak ada urusannya nyebarin data pribadi mereka. Selingkuh itu bukan soal yang lama vs yang baru. Selingkuh itu soal perasaan kita dan perasaan pasangan kita. Kalau memang pasangan khilaf, kita harus fokus ke bagaimana memperbaiki hubungan yang ada. Kalau memang pasangan doyan, kita harus fokus ke bagaimana mengatasi atau bahkan menerimanya. Sama sekali nggak ada urusan dengan selingkuhannya.
 
Lain cerita kalau selingkuhannya nyolot ya, yang sengaja cari gara-gara. Tapi tetap lho nggak berarti karena kita sensi diajak berantem langsung semua data diri dipublish. Apa yang sudah ada di internet itu nyaris mustahil dihapus. Bayangkan bila itu terjadi pada anda, yang harus tiarap dan mungkin selamanya nggak bisa menggunakan sosial media karena suatu kesalahan yang anda perbuat. Coba deh anda off sosial media seminggu saja, off terima telepon atau sms teman-teman seminggu saja, dan pikirkan betapa nggak enaknya. Saya jujur sampai saat ini masih merasa bersalah kepada Cah Ayu ini, walau yang terjadi di luar control saya dan saya sudah berusaha melindunginya.
 
Kita juga cepat sekali menyerang para pelakor, layaknya mengeroyok copet atau maling mangga. Tahu urusannya juga nggak, yang penting bogem duluan melayang. Susah kan kalau begini? Sekali lagi, ada memang yang karirnya mengejar pasangan orang, tapi ada juga yang cuma korban, yang karena lelakinya yang gatal syalalala. Kenapa kita lebih menghakimi perempuan (baca: pelakor) daripada pelaku perselingkuhan (baca: si lakor)? Yang semua membanjiri SMS inbox dan sebagainya meneror si pelakor, sementara si lakor dibiarkan bebas. Ada juga harusnya si lakor yang diteror bukan? Apalagi yang memang track recordnya nggak setia.
 
Selingkuh itu bukan seperti Jack dan Pohon Kacang, yang bim salabim biji kacang ditebar menjadi pohon raksasa. Selingkuh itu adalah hasil dari kondisi dan perasaan si pelaku, si pasangan resmi, dan si selingkuhan. Di buku "Dear, Mantan Tersayang" saya tulis berbagai penyebab kenapa perselingkuhan itu terjadi. Selingkuh itu bukan cuma sekali lirik lalu jatuh cinta dan lupa semuanya, dan kalau iya, mungkin ada yang salah dengan hubungan yang sudah ada. Mempersekusi pelakor itu tidak akan mereparasi hubungan anda, nggak akan mendadak membuat pasangan kembali kepada anda. Jadi buat apa?
 
Kata-kata paling terkenal Michelle Obama, istrinya Barack Obama, adalah: "When they go low, we go high", terjemahan bebasnya: "Saat mereka bermain kasar, kita bermain cantik". Kalau anda merasa perlu menulis soal apa yang anda alami, bila anda merasa terbantu dengan bercerita dan membagikannya (atau lebih penting lagi: orang lain bisa terbantu!), silakan lho. Tapi jangan lagi berfokus pada orang lain. Fokuslah pada diri anda, fokuslah pada memperbaiki dan mendorong diri anda menjadi lebih baik. Jangan biarkan amarah dan rasa ingin balas dendam merongrong anda. Anda sudah kehilangan hal yang berharga, jangan sampai anda kehilangan diri dan nurani anda juga.
 
Pada akhirnya, ini semua adalah tentang anda: tangisan anda, kepedihan anda, remuknya hati anda, hancurnya harapan anda. Tapi bukan hanya itu. Ini juga tentang kekuatan anda, ketegaran anda, anugrah dan dukungan yang diberikan pada anda, kemampuan anda untuk berdiri kuat di penghujung hari dengan rasa syukur telah bisa melewati ujian-Nya. Menangislah bila anda ingin menangis, namun jangan pernah lupa badai pasti berlalu, bahwa Tuhan tidak tidur, bahwa Ia tahu yang terbaik untuk kita. Dan jangan, sekali-kali jangan menjadi iblis yang terbakar api amarah. Kita lebih baik daripada itu. Angkat dagumu, sayangku, jangan sampai mahkotanya jatuh.

Search This Blog