AdSense Page Ads

Saturday, November 18, 2017

Dare to Love

I cleaned out my computer files today, and I found a picture of me and an ex-boyfriend. That beaming smile, that confident eyes, that certainty that he was the one, that for once my life will be alright. I was so pretty. Even prettier than when I was with my ex-husband, and back then I thought he was the one too.

Just like my marriage, it didn't work out.

Why do we love, anyway? Nothing lasts forever. Human is too finicky for our own good. Mind changes faster than politicians taking sides. That, or us blinding ourselves of the truth, only seeing what we want to see and refuse to accept the whole package. Either way, disappointment is bound to happen.

When that one moment arrives, it is that special feeling as if everything falls right into place and for a brief moment you can see the whole completed jigsaw, or you'd like to think so. You are Disney's Cinderella, transfixed to your Prince(ss) Charming, quietly and dazedly mumbled: "So this is love… So this is what makes life divine..." Nothing, nothing can go wrong.

At least for a minute or two. Then the world starts to go crashing down, or stagnation crept in. Then it's like a bad series of franchise movies, where it gets worse and boring with every new production but you don't have the heart to stop watching it because you are already committed to it.

And when it is all over, you sat there and weep. You walk around acting like nothing happened, other than how the world seemed so dead to you. You flinched every time someone smiled at you, or when they showed the slightest interest in you. Not again. Not so soon, anyway. That last one was special, therefore it shouldn't be forgotten that soon, right?

Yet even after that, your heart will give way again. And then you'll be in love again. You'll forget how awful it will make you feel, or the amount of hard work you have to put to make it work. It doesn't matter. The fun right now is what matter. You are going to be drunk on love, and it feels so damn good. Come what may, you'll be careful anyway. Or so you say.

Then the morning comes, along with regrets and 'hangovers'. And you swore never, never again. You closed your eyes and heart. No more, you promised yourself. Until the next person arrived, and you fell in love yet again.

Was it worth it? I don't know. For me it was. I make a name by writing about romance and such, which almost all stemmed from my own romantic escapades. For some, it wasn't. They'll guard their heart carefully and even rejecting the notion of happiness, devoid of all emotions. It's akin to choosing to eat minimally spiced food to protect yourself from adverse health risk, as opposed to getting all crazy with explosive spices and exotic herbs. Nothing wrong with either.

I live for those moments. I live for those tender touch and hungry eyes, for the nervous smiles and warm embraces. I live for love. Whose love, I cannot tell, as I observe my locked soul. The fires that burn outside has nothing on the icy cold soul inside. 'The one' might never arrive, and honestly, I kinda hope he won't arrive. I am good with where I am right now.

The fear of love debilitates me, the same love that gave me wings. "You'll heal," they say, "you'll love again." Maybe. Not really counting on it, but maybe. When the time is right. When the grief has ebbed. When the heart is strong again. When I finally dare to love again. For now, I am my own friend, my own companion, my own lover. Honestly, it's been great so far 😉 .

Thursday, November 16, 2017

Berpindah Haluan

Kemarin saya ke Universal Studio lagi. Akhirnya menyerah beli Annual Pass (tiket setahun), dengan alasan untuk menemani teman SMA yang sedang main ke LA. Ini epic banget lho, karena sebelumnya saya males banget pergi ke taman hiburan. 

Saya selalu berpikir pergi ke taman hiburan itu garing, apalagi saya jomblo. Saya juga nggak fanatik banget sama film dan sebagainya. 3 tahun lebih tinggal di LA, nggak pernah sekalipun pergi ke Disneyland atau Universal Studio yang notabene sejengkal dari rumah. Yah, nggak sejengkal amat sih. "Mahal," alasan saya yang lainnya, padahal Annual Pass Universal Studio itu lebih murah dari budget jajan saya sebulan. Pokoknya nggak deh.

Perasaan saya berubah saat dapat kesempatan masuk ke Universal Studio secara gratis. Siapa sih yang nggak suka gratisan? Orang-orang yang bersama saya itu menyenangkan. Saya masuk atraksi nggak pakai mengantri karena kebetulan teman saya punya Fast Pass. Pokoknya semua menyenangkan deh. Segala iming-iming yang saya dengar sebelumnya mendadak masuk akal. Dunia terasa indah. Saya nggak mikir dua kali untuk beli Annual Pass dan minta cuti dengan alasan 'menemani teman'. 

Kenapa sih agama nggak seperti ini?

Seriusan lho. Kalau saya pertama kali ke Universal Studio ini dengan paksaan, baik karena ancaman, karena diledek, atau karena dibuat merasa tak nyaman dengan diri saya, pasti saya yang nggak lagi-lagi deh main kesana. Males banget kan. Nggak butuh-butuh amat juga. Tapi pengalaman saya dengan Universal Studio ini sangat positif, sangat menyenangkan, dan saya merasa sangat bermanfaat untuk diri saya. Seperti saya bilang, malah saya yang antusias untuk menjadi 'warga' Universal Studio.

Kebayang nggak kalau ini agama dan/atau kepercayaan? Saya sih nggak mengerti ya kenapa orang suka repot mengajak orang masuk agama/kepercayaan lain. Apakah karena merasa benar sendiri? Apakah karena mengharap pahala (baca: recruitment bonus) bagai pekerja MLM? Apakah karena memang ingin membantu orang? Tapi kalau mau membantu orang, berlaku agresif dan memaksakan pendapat kayanya malah bikin orang kabur, bukan?

Soal rekomendasi, saya pakarnya. Kalau ada orang yang duduk ngobrol sama saya, pasti saya akan memberikan rekomendasi ABC. "Coba deh jalan-jalan naik kereta, asik lho!" "Nonton opera itu bisa cuma seharga $16 lho!" "Naik blue line ke Santa Monica itu paling top deh…" Kenapa? Karena hal-hal yang saya rekomendasikan itu membuat saya bahagia, dan saya ingin membagikan kebahagiaan saya kepada orang lain. 

Namun kalau terlihat orangnya nggak nyaman atau nggak tertarik rekomendasi saya, ya sudah, nggak apa-apa. Saya harus menghormati perasaan lawan bicara saya. Lagipula, yang cocok buat saya belum tentu cocok dengan orang lain. Ada orang yang nggak suka pedas, ada orang yang takut ketinggian, ada orang yang nggak suka bergaul. 

Nggak ada satupun rekomendasi yang semua orang pasti cocok. Kalau buat saya itu memang cocok buat orang tersebut, pendekatannya yang saya ubah agar sesuai dengan kebutuhannya. Kalau masih nggak cocok ya nggak apa-apa. Mungkin belum saatnya. Nggak usah dipaksa.

Adem kan kalau begini? Seperti saya dan Universal Studio tadi. Yang mengajak saya pertama kali (dengan gratis) itu orangnya baiiiik banget, dan saya percaya sama dia. Kalaupun saya harus bayar setengah harga mungkin saya masih mau bela-belain, karena ya itu, orangnya yang suuuper baik dan sudah menunjukkan dia bisa saya percayai. 

'Trust is earned, respect is given, and loyalty is demonstrated.' Kepercayaan itu didapatkan (dari usaha), rasa hormat itu diberikan, dan kesetiaan itu ditunjukkan. Teman saya telah memperoleh kepercayaan saya, telah memperoleh rasa hormat saya, dan telah menunjukkan kesetiaannya. Jangankan disuruh datang main (gratis) ke Universal Studio, disuruh menemani main ke kuburan pun mungkin saya mau.

Dikala riuhnya kesinisan soal artis yang lepas jilbab, atau cerita teman berjilbab yang dibentak ibu-ibu yang juga berjilbab saat mencari tahu lebih lanjut tentang pendaftaran di sekolah Kristen, saatnya kita bertanya, apa sih yang kita cari dari agama kita? Jangan salah, semua agama dan kepercayaan memiliki orang-orang yang seperti ini, para ekstrimis yang menggunakan agama untuk menjustifikasi tindakan dan hasrat mereka. Baca deh soal ekstrimis Hindu di India, ekstrimis Katolik di Irlandia, ekstrimis Kristen, Buddha, semua lengkap kok. 

Kalau memang niatnya baik, sampaikanlah dengan baik. Nggak ada lho ceritanya Tuhan menilai dan menghakimi: "Ih jijay deh eike sama yu," Ada juga bertebaran cerita betapa pengasih dan pemaafnya Tuhan, yang bahkan mahluk terkecil dan terhina pun dikasihi. Siapa kita sih yang dengan pedenya takut ketularan jelek, makanya sibuk menghakimi? Bila iya, apakah itu nilai agama bagi kita, sekedar pembenaran diri bahwa kita lebih baik dari yang lain?

Kita mencari kebaikan di dunia ini, dan kita ingin membagikan kebaikan itu, ingin membagikan hal-hal yang membuat kita bahagia agar orang lain ikut bahagia. Wajar banget kok, dan terimakasih banyak sudah menjadi seseorang yang super dengan mau berpikir tentang kebahagiaan orang lain. Ini yang harus ada dalam tiap langkah kita: ketulusan hati ingin membuat orang lain bahagia.

Kalau dia nggak bahagia dengan rekomendasi kita, ya pendekatannya yang kita ubah, atau bahkan diri kita sendiri. Sudahkah kita menunjukkan kita layak mendapat kepercayaannya dan membuatnya percaya kita memikirkan kebahagiaannya? Kalau masih tidak bisa, biarkan dia dengan pilihannya. Ingat, nggak semua orang cocok dengan apa yang cocok untuk kita. Pilihanmu pilihanmu, pilihanku pilihanku.

Nah sekarang, kalau ada pembaca yang main ke Los Angeles kasi tahu ya, kita main ke Universal Studios bareng hihihi.

Monday, November 13, 2017

Narasi Hidup

Kemarin saya diajak masuk ke Universal Studio gratis. Karena dadakan, saya hanya sempat berada disana 3 jam saja, tapi itu sudah lumayan banget, mana teman punya fast-pass pula jadi nggak usah mengantri. Rejeki anak baik.

Lho, memangnya saya anak baik? Nggak tahu ya. Mungkin bagi banyak orang saya biasa saja, mungkin bagi beberapa orang saya horror dan tidak baik. Tapi bukti berbicara, rejeki saya lancar jaya dan orang-orang baik sama saya.

Sering kita melihat postingan: "Nggak bisa kalah kalau bersama Tuhan". Ya ini maksudnya. Kalau ada yang kita percayai, apapun sebutannya, kita nggak akan kalah atau bertekuk lutut. Begitu dapat masalah nggak gentar, karena percaya Tuhan (atau kosmos atau apapun) akan membantu kita dan menguatkan kita. Masalah tetap berlangsung, kita berpikir itu ujian dan makin pede menjalaninya. Masalah membuat kita terkapar, kita berpikir kalau sedang dicoba oleh Tuhan. Bagaimana energi negatif mau menang kalau begini caranya?

Begitupula saat mendapat anugerah. Biarpun kita pantas mendapatkannya, tetap merasa bersyukur dan nggak pantas karena kan Tuhan (atau kosmos atau apapun) itu keren banget, sementara siapa pula kita? Kita yang merasa perlu membagi anugerah ini pada sesama karena mungkin hanya numpang lewat/titipan saja, atau yang ingin orang lain merasakan nikmatnya anugrah Tuhan juga. Lagi-lagi, bagaimana energi negatif mau menang?

Kelihatannya enak ya hidup saya, nggak kurang satu apapun. Tapi kalau saya mau protes dan merasa hidup saya itu berat, bisa banget kok. Narasi hidup kita, kan kita yang atur. Ada orang yang hidupnya terlihat berkecukupan tapi hati merasa kurang, ada orang yang hidupnya nggak banget tapi hati merasa cukup. Kurang-lebihnya kita, kita yang mengatur.

Kalau soal kecukupan kebutuhan hidup, itu sudah jelas. Kita butuh dan harus berusaha agar setidaknya kebutuhan dasar seperti sandang pangan papan itu terpenuhi, begitupula dengan akses pendidikan dan kesehatan. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain, untuk semua orang.

Dan disinilah kita terpaku: semua orang. Hidup kita bukanlah melulu tentang diri kita sendiri. Hidup bukanlah sebuah perjalanan mengejar 'surga', apapun definisi 'surga' itu, entah kenikmatan setelah mati atau kenikmatan duniawi. Hidup bukanlah seperti game yang pelaku utamanya maju terus pantang mundur mengejar garis finish. 

Hidup itu bagaikan sebuah mosaik yang indah, yang tiap bagian yang berbeda bersatu membuat sebuah karya seni yang indah. Hidup itu bagaikan film atau novel yang tiap orang memiliki peranan tertentu dan di akhir cerita kita berkata, "Whoa…". Hidup itu bagaikan pohon, yang setiap bagiannya tumbuh dan berkembang dan menjadi tempat hidup/habitat mahluk lain.

Kita yang sibuk melihat kedalam, seringkali tidak sadar dampak apa yang kita berikan pada orang lain disekitar kita, pada dunia yang kita tinggali. Senyuman kita, keramahan kita, kepedulian kita, semua ini berdampak bagi orang disekeliling kita, baik yang terkena imbas langsung atau tidak. Entah berapa kali kesedihan saya lenyap saat melihat dua orang yang tidak saling mengenal sibuk berbincang dan tertawa lepas. Atau saat melihat seseorang yang tampak begitu bahagia, walau saya tak mengenalnya.

Sebaliknya, saat berada di dekat orang yang marah-marah, saat berada di dekat orang yang tampak membenci dunia, rasanya dunia menjadi ikut kelam. Tidak ada yang lebih menular daripada energi negatif, yang bagaikan awan gelap menutupi matahari membuat semua orang menggigil dan tak nyaman. Dan terkadang, orang dengan sengaja menularkan energi negatif ini untuk membuat dirinya sendiri merasa lebih baik.

Tapi itu gunanya kita punya Tuhan, kita punya sesuatu yang kita percayai. Kita belajar rendah hati, bahwa ada yang lebih 'besar' daripada kita. Kita belajar tahu diri, bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita belajar percaya, belajar memberi, belajar berbagi, karena bukankan Tuhan yang kita percayai telah memberi, membagi, mempercayai kita?

Terkadang kita sibuk meng-secure tempat kita di kerajaan Tuhan, kita lupa kitalah perpanjangan tanganNya. Kalau pas bagian menghukum orang lain, langsung mengaku-ngaku utusan Tuhan, pede banget gitu ah hahahah. Padahal ya, Tuhan kan konon maha pengasih dan penyayang, kok bukan bagian itu yang kita berjuang untuk sebarkan di dunia ini?

Kita nggak pernah perlu alasan untuk baik pada seseorang, untuk menyapa hangat atau tersenyum ramah. Satu-satunya alasan yang valid adalah kalau orang tersebut terlihat dalam kesulitan, kehangatan hati menjadi sebuah keharusan dan bukan hanya pilihan. Kita nggak perlu pilih-pilih siapa yang akan kita perlakukan dengan baik, karena Tuhan juga nggak pilih-pilih saat membagi anugerah kan? 

Mungkin hidup saya nggak enak-enak banget, tapi saya saja yang berdelusi ria. Tapi rasanya enak lho. Saya pernah hidup terbakar amarah. Saya pernah hidup beranggapan semua harus seperti apa yang saya percayai, dan orang-orang yang tidak sesuai standar saya adalah warga negara kelas dua, nggak level dan nggak penting. Terus dan terus api itu membakar sampai tak ada lagi yang tersisa kecuali arang yang menghitam didalam jiwa.

Namun perlahan tunas baru muncul, pucuk hijau yang menjanjikan kehidupan. "Sudah ah marahnya," "Nggak apa-apa kalau mereka beda," "Emangnya loe siapa?" "Tiap orang punya cerita sendiri," "Dunia itu… indah ya." Satu demi satu mereka muncul dari arang yang menghitam itu, menutupi kelam yang tersisa dan melahirkan jiwa yang baru: Jiwa yang percaya, jiwa yang welas asih, jiwa yang berperasaan.

Dan sekarang, hidup saya indah. Kulit saya berseri dan rambut saya tergerai indah. Senyuman saya membuat orang merasa hangat, dan keberadaan saya membuat ruangan terasa terang. Hampir tiap kali saya selfie saya harus meng-sms teman saya setelahnya: "Gilak, kok gue cakep banget ya??" Bukan pamer, tapi beneran nggak percaya. Soal rejeki… jangan ditanya. Indahnya hati akan tercermin pada indahnya diri, dan secara kolektif akan terlihat pada indahnya dunia.

Hidup kita adalah narasi yang kita buat sendiri, yang kita pilih dan terapkan dalam hidup saya. Narasi saya adalah senyuman dan iman, gelak tawa dan petualangan, hangatnya hati manusia dan indahnya kasih Tuhan. Apa narasi hidup anda?

Search This Blog