AdSense Page Ads

Monday, June 8, 2015

Bunuh Diri dan Bunuh Orang: Sebuah Risalah Kematian

Kadang kalau baca komen di medsos yang isinya bunuh-bunuhan (misalnya saja dibawah ini), rasanya jadi mengelus dada dan pengen bilang, "Kok gampang banget bilang begitu? Terus kalau hidup orang lain nggak dihargai, apa iya bisa menghargai hidup diri sendiri?"


Yang namanya mati itu ya, kayaknya seram sekali. Sekarang ada, besok tidak ada. Belum lagi kalau ditakut-takuti: "Ih nanti masuk neraka lho...", atau diiming-imingi: "Ayo, biar nanti masuk surga!". Sementara pengalaman saya melihat sekian banyak mayat saat pelajaran anatomi dulu adalah kalau sudah mati ya sudah. Urusan rohnya bakal ke surga atau ke neraka atau nyangkut di dunia bukan urusan saya, nggak bisa saya bantuin juga kok. Hal itu membuat saya berpikir, kematian sebenarnya bukanlah melulu urusan orang yang meninggal, kematian sebenarnya juga urusan orang yang masih hidup. 

Tulisan ini terbersit setelah membaca cerita tentang seorang gadis yang bunuh diri dengan melompat dari jembatan. Ia meninggal, namun orang yang kebetulan mobilnya kejatuhan badan si gadis ini menjadi trauma seumur hidup. Orang-orang berkomentar, "There is no victimless suicide". Dan mereka benar. Waktu saya abg dulu dan dengan segenap emosi jiwa seorang abg saya sempat terpikir untuk bunuh diri dengan menenggak cairan pembersih tipe-ex. Nggak penting banget kan. Setelah lebih besar dan mengalami broken home sempat terpikir ingin bunuh diri dan menimbang-nimbang cara paling efektif. Saat itu saya mahasiswa kedokteran, jadi cara yang dipakai harusnya bisa tokcer. Semuanya saya batalkan karena a) kalau tidak mati nanti saya bakal sangat kesakitan, dan saya tidak mau sakit; b) biaya rumah sakit untuk pemulihan bakalan mahal; c) biaya pemakaman juga sama atau bahkan lebih mahal; dan d) kalau nanti roh saya nyangkut di dunia/tidak bisa move on bisa gawat. Realistis banget kan? Belum lagi nanti keluarga saya yang harus menahan pedihnya kepergian saya dan rasa malu. Saya mungkin tidak ngeh lagi dengan masalah di dunia, tapi itu karena saya melemparkan masalah tersebut ke orang yang saya tinggalkan. Nggak bisa begitu dong.

Waktu saya sekali 'main' tidak aman saya langsung panik karena takut saya terinfeksi HIV. Sekedar intermezzo saja ya, main tidak aman itu lebih banyak ruginya daripada enaknya dari segi fisik dan mental, apalagi kalau sampai terinfeksi penyakit atau bahkan hamil. Kalau bisa dihindari deh, serius. Lanjut soal kepanikan saya, walau saat itu saya belum dites HIV saya sudah sibuk membayangkan berbagai rencana agar orang tua saya tidak tahu kalau saya kena HIV, apalagi sampai meninggal karena HIV. Salah satunya adalah rencana untuk memalsukan kematian saya, seolah terseret arus laut gitu, dan memulai hidup baru di pulau/negara lain. Lebih baik keluarga saya berpikir saya meninggal karena sebab alami dan bukan karena HIV. Lebay banget ga sih. Tapi itulah yang saya rasakan saat itu. Anda tidak bisa, atau sangat sulit, menjernihkan pikiran orang yang kalut. Apalagi kalau anda tidak tahu orang tersebut kalut. Saya ternyata tidak tertular HIV, dan langsung pikiran saya jadi jernih dan bisa berpikir kalaupun saya kena HIV buat keluarga saya mungkin lebih menyakitkan bila saya tiba-tiba menghilang/meninggal. Kebayang ga kalau saya tidak menunggu hasil dan langsung menjalankan rencana saya?

Terkadang yang dibutuhkan orang-orang kalut seperti saya adalah kesempatan kedua. Perpanjangan waktu istilahnya. Beda 10 atau 15 menit saja bisa berarti hidup dan mati bagi seseorang. Sebuah senyuman atau kata-kata ramah bisa berarti hidup dan mati bagi seseorang. Dan kalaupun anda berpikir kalau cuma orang pengecut yang bunuh diri, setidaknya lakukan kebaikan ini demi orang-orang yang mungkin akan merasa sakit bila si pengecut ini meninggal. Karena (lagi-lagi) kematian itu bukan cuma tentang si orang yang meninggal, namun juga tentang orang-orang yang ia tinggalkan. Seorang teman memposting tulisan ini: "The worst thing about the death of your loved one is that it repeat itself every morning". Yang hiduplah yang harus berjuang memahami dan mengisi luka dan kekosongan/kehilangan tersebut. Kita hidup untuk Tuhan, kata orang agamis. Kita hidup untuk diri kita sendiri, kata orang egois. Kita hidup untuk orang lain, kata saya yang realistis. Manusia adalah mahluk sosial yang sedemikian kompleksnya, sehingga setiap hal yang kita lakukan tidak peduli sekecil apapun akan mempengaruhi hidup orang lain.

Balik lagi soal postingan marah-marah diatas, mungkin saja orang-orang tersebut kebanyakan testosteron atau masih Ababil (ABG Labil). Mungkin saja mereka masih belum bisa menghargai betapa berharganya hidup manusia. Namun mungkin saja mereka memang percaya kalau mereka memang berhak menyakiti orang lain. Ini yang bisa jadi masalah, saat segala justifikasi/pembenaran dipakai untuk membenarkan kesadisan diri sendiri. Kalau anda menghargai hidup anda tidak akan bisa membenarkan tindakan yang menyakiti orang lain, apalagi sampai membunuh. Sayangnya, orang-orang seperti ini kalau diajak bicara frontal pasti tidak akan mendengarkan. Tapi anda yang mau membaca artikel ini sampai akhir pastinya masih lebih bisa diajak berlogika. Anda pastinya mau (mencoba) mengerti betapa penting dan berharganya hidup, baik untuk orang yang bersangkutan maupun orang lain yang mengenalnya. Mari kita coba membuat hidup kita sendiri dan hidup orang-orang lain di sekitar kita menjadi lebih baik. Surga konon ada setelah kematian, tapi tidak ada alasan kenapa kita tidak bisa menciptakan surga kita sendiri yang damai dan tentram di dunia. Mari mencoba. Salam damai untuk semua.

No comments:

Post a Comment

Search This Blog