AdSense Page Ads

Saturday, November 18, 2017

Dare to Love

I cleaned out my computer files today, and I found a picture of me and an ex-boyfriend. That beaming smile, that confident eyes, that certainty that he was the one, that for once my life will be alright. I was so pretty. Even prettier than when I was with my ex-husband, and back then I thought he was the one too.

Just like my marriage, it didn't work out.

Why do we love, anyway? Nothing lasts forever. Human is too finicky for our own good. Mind changes faster than politicians taking sides. That, or us blinding ourselves of the truth, only seeing what we want to see and refuse to accept the whole package. Either way, disappointment is bound to happen.

When that one moment arrives, it is that special feeling as if everything falls right into place and for a brief moment you can see the whole completed jigsaw, or you'd like to think so. You are Disney's Cinderella, transfixed to your Prince(ss) Charming, quietly and dazedly mumbled: "So this is love… So this is what makes life divine..." Nothing, nothing can go wrong.

At least for a minute or two. Then the world starts to go crashing down, or stagnation crept in. Then it's like a bad series of franchise movies, where it gets worse and boring with every new production but you don't have the heart to stop watching it because you are already committed to it.

And when it is all over, you sat there and weep. You walk around acting like nothing happened, other than how the world seemed so dead to you. You flinched every time someone smiled at you, or when they showed the slightest interest in you. Not again. Not so soon, anyway. That last one was special, therefore it shouldn't be forgotten that soon, right?

Yet even after that, your heart will give way again. And then you'll be in love again. You'll forget how awful it will make you feel, or the amount of hard work you have to put to make it work. It doesn't matter. The fun right now is what matter. You are going to be drunk on love, and it feels so damn good. Come what may, you'll be careful anyway. Or so you say.

Then the morning comes, along with regrets and 'hangovers'. And you swore never, never again. You closed your eyes and heart. No more, you promised yourself. Until the next person arrived, and you fell in love yet again.

Was it worth it? I don't know. For me it was. I make a name by writing about romance and such, which almost all stemmed from my own romantic escapades. For some, it wasn't. They'll guard their heart carefully and even rejecting the notion of happiness, devoid of all emotions. It's akin to choosing to eat minimally spiced food to protect yourself from adverse health risk, as opposed to getting all crazy with explosive spices and exotic herbs. Nothing wrong with either.

I live for those moments. I live for those tender touch and hungry eyes, for the nervous smiles and warm embraces. I live for love. Whose love, I cannot tell, as I observe my locked soul. The fires that burn outside has nothing on the icy cold soul inside. 'The one' might never arrive, and honestly, I kinda hope he won't arrive. I am good with where I am right now.

The fear of love debilitates me, the same love that gave me wings. "You'll heal," they say, "you'll love again." Maybe. Not really counting on it, but maybe. When the time is right. When the grief has ebbed. When the heart is strong again. When I finally dare to love again. For now, I am my own friend, my own companion, my own lover. Honestly, it's been great so far 😉 .

Thursday, November 16, 2017

Berpindah Haluan

Kemarin saya ke Universal Studio lagi. Akhirnya menyerah beli Annual Pass (tiket setahun), dengan alasan untuk menemani teman SMA yang sedang main ke LA. Ini epic banget lho, karena sebelumnya saya males banget pergi ke taman hiburan. 

Saya selalu berpikir pergi ke taman hiburan itu garing, apalagi saya jomblo. Saya juga nggak fanatik banget sama film dan sebagainya. 3 tahun lebih tinggal di LA, nggak pernah sekalipun pergi ke Disneyland atau Universal Studio yang notabene sejengkal dari rumah. Yah, nggak sejengkal amat sih. "Mahal," alasan saya yang lainnya, padahal Annual Pass Universal Studio itu lebih murah dari budget jajan saya sebulan. Pokoknya nggak deh.

Perasaan saya berubah saat dapat kesempatan masuk ke Universal Studio secara gratis. Siapa sih yang nggak suka gratisan? Orang-orang yang bersama saya itu menyenangkan. Saya masuk atraksi nggak pakai mengantri karena kebetulan teman saya punya Fast Pass. Pokoknya semua menyenangkan deh. Segala iming-iming yang saya dengar sebelumnya mendadak masuk akal. Dunia terasa indah. Saya nggak mikir dua kali untuk beli Annual Pass dan minta cuti dengan alasan 'menemani teman'. 

Kenapa sih agama nggak seperti ini?

Seriusan lho. Kalau saya pertama kali ke Universal Studio ini dengan paksaan, baik karena ancaman, karena diledek, atau karena dibuat merasa tak nyaman dengan diri saya, pasti saya yang nggak lagi-lagi deh main kesana. Males banget kan. Nggak butuh-butuh amat juga. Tapi pengalaman saya dengan Universal Studio ini sangat positif, sangat menyenangkan, dan saya merasa sangat bermanfaat untuk diri saya. Seperti saya bilang, malah saya yang antusias untuk menjadi 'warga' Universal Studio.

Kebayang nggak kalau ini agama dan/atau kepercayaan? Saya sih nggak mengerti ya kenapa orang suka repot mengajak orang masuk agama/kepercayaan lain. Apakah karena merasa benar sendiri? Apakah karena mengharap pahala (baca: recruitment bonus) bagai pekerja MLM? Apakah karena memang ingin membantu orang? Tapi kalau mau membantu orang, berlaku agresif dan memaksakan pendapat kayanya malah bikin orang kabur, bukan?

Soal rekomendasi, saya pakarnya. Kalau ada orang yang duduk ngobrol sama saya, pasti saya akan memberikan rekomendasi ABC. "Coba deh jalan-jalan naik kereta, asik lho!" "Nonton opera itu bisa cuma seharga $16 lho!" "Naik blue line ke Santa Monica itu paling top deh…" Kenapa? Karena hal-hal yang saya rekomendasikan itu membuat saya bahagia, dan saya ingin membagikan kebahagiaan saya kepada orang lain. 

Namun kalau terlihat orangnya nggak nyaman atau nggak tertarik rekomendasi saya, ya sudah, nggak apa-apa. Saya harus menghormati perasaan lawan bicara saya. Lagipula, yang cocok buat saya belum tentu cocok dengan orang lain. Ada orang yang nggak suka pedas, ada orang yang takut ketinggian, ada orang yang nggak suka bergaul. 

Nggak ada satupun rekomendasi yang semua orang pasti cocok. Kalau buat saya itu memang cocok buat orang tersebut, pendekatannya yang saya ubah agar sesuai dengan kebutuhannya. Kalau masih nggak cocok ya nggak apa-apa. Mungkin belum saatnya. Nggak usah dipaksa.

Adem kan kalau begini? Seperti saya dan Universal Studio tadi. Yang mengajak saya pertama kali (dengan gratis) itu orangnya baiiiik banget, dan saya percaya sama dia. Kalaupun saya harus bayar setengah harga mungkin saya masih mau bela-belain, karena ya itu, orangnya yang suuuper baik dan sudah menunjukkan dia bisa saya percayai. 

'Trust is earned, respect is given, and loyalty is demonstrated.' Kepercayaan itu didapatkan (dari usaha), rasa hormat itu diberikan, dan kesetiaan itu ditunjukkan. Teman saya telah memperoleh kepercayaan saya, telah memperoleh rasa hormat saya, dan telah menunjukkan kesetiaannya. Jangankan disuruh datang main (gratis) ke Universal Studio, disuruh menemani main ke kuburan pun mungkin saya mau.

Dikala riuhnya kesinisan soal artis yang lepas jilbab, atau cerita teman berjilbab yang dibentak ibu-ibu yang juga berjilbab saat mencari tahu lebih lanjut tentang pendaftaran di sekolah Kristen, saatnya kita bertanya, apa sih yang kita cari dari agama kita? Jangan salah, semua agama dan kepercayaan memiliki orang-orang yang seperti ini, para ekstrimis yang menggunakan agama untuk menjustifikasi tindakan dan hasrat mereka. Baca deh soal ekstrimis Hindu di India, ekstrimis Katolik di Irlandia, ekstrimis Kristen, Buddha, semua lengkap kok. 

Kalau memang niatnya baik, sampaikanlah dengan baik. Nggak ada lho ceritanya Tuhan menilai dan menghakimi: "Ih jijay deh eike sama yu," Ada juga bertebaran cerita betapa pengasih dan pemaafnya Tuhan, yang bahkan mahluk terkecil dan terhina pun dikasihi. Siapa kita sih yang dengan pedenya takut ketularan jelek, makanya sibuk menghakimi? Bila iya, apakah itu nilai agama bagi kita, sekedar pembenaran diri bahwa kita lebih baik dari yang lain?

Kita mencari kebaikan di dunia ini, dan kita ingin membagikan kebaikan itu, ingin membagikan hal-hal yang membuat kita bahagia agar orang lain ikut bahagia. Wajar banget kok, dan terimakasih banyak sudah menjadi seseorang yang super dengan mau berpikir tentang kebahagiaan orang lain. Ini yang harus ada dalam tiap langkah kita: ketulusan hati ingin membuat orang lain bahagia.

Kalau dia nggak bahagia dengan rekomendasi kita, ya pendekatannya yang kita ubah, atau bahkan diri kita sendiri. Sudahkah kita menunjukkan kita layak mendapat kepercayaannya dan membuatnya percaya kita memikirkan kebahagiaannya? Kalau masih tidak bisa, biarkan dia dengan pilihannya. Ingat, nggak semua orang cocok dengan apa yang cocok untuk kita. Pilihanmu pilihanmu, pilihanku pilihanku.

Nah sekarang, kalau ada pembaca yang main ke Los Angeles kasi tahu ya, kita main ke Universal Studios bareng hihihi.

Monday, November 13, 2017

Narasi Hidup

Kemarin saya diajak masuk ke Universal Studio gratis. Karena dadakan, saya hanya sempat berada disana 3 jam saja, tapi itu sudah lumayan banget, mana teman punya fast-pass pula jadi nggak usah mengantri. Rejeki anak baik.

Lho, memangnya saya anak baik? Nggak tahu ya. Mungkin bagi banyak orang saya biasa saja, mungkin bagi beberapa orang saya horror dan tidak baik. Tapi bukti berbicara, rejeki saya lancar jaya dan orang-orang baik sama saya.

Sering kita melihat postingan: "Nggak bisa kalah kalau bersama Tuhan". Ya ini maksudnya. Kalau ada yang kita percayai, apapun sebutannya, kita nggak akan kalah atau bertekuk lutut. Begitu dapat masalah nggak gentar, karena percaya Tuhan (atau kosmos atau apapun) akan membantu kita dan menguatkan kita. Masalah tetap berlangsung, kita berpikir itu ujian dan makin pede menjalaninya. Masalah membuat kita terkapar, kita berpikir kalau sedang dicoba oleh Tuhan. Bagaimana energi negatif mau menang kalau begini caranya?

Begitupula saat mendapat anugerah. Biarpun kita pantas mendapatkannya, tetap merasa bersyukur dan nggak pantas karena kan Tuhan (atau kosmos atau apapun) itu keren banget, sementara siapa pula kita? Kita yang merasa perlu membagi anugerah ini pada sesama karena mungkin hanya numpang lewat/titipan saja, atau yang ingin orang lain merasakan nikmatnya anugrah Tuhan juga. Lagi-lagi, bagaimana energi negatif mau menang?

Kelihatannya enak ya hidup saya, nggak kurang satu apapun. Tapi kalau saya mau protes dan merasa hidup saya itu berat, bisa banget kok. Narasi hidup kita, kan kita yang atur. Ada orang yang hidupnya terlihat berkecukupan tapi hati merasa kurang, ada orang yang hidupnya nggak banget tapi hati merasa cukup. Kurang-lebihnya kita, kita yang mengatur.

Kalau soal kecukupan kebutuhan hidup, itu sudah jelas. Kita butuh dan harus berusaha agar setidaknya kebutuhan dasar seperti sandang pangan papan itu terpenuhi, begitupula dengan akses pendidikan dan kesehatan. Bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain, untuk semua orang.

Dan disinilah kita terpaku: semua orang. Hidup kita bukanlah melulu tentang diri kita sendiri. Hidup bukanlah sebuah perjalanan mengejar 'surga', apapun definisi 'surga' itu, entah kenikmatan setelah mati atau kenikmatan duniawi. Hidup bukanlah seperti game yang pelaku utamanya maju terus pantang mundur mengejar garis finish. 

Hidup itu bagaikan sebuah mosaik yang indah, yang tiap bagian yang berbeda bersatu membuat sebuah karya seni yang indah. Hidup itu bagaikan film atau novel yang tiap orang memiliki peranan tertentu dan di akhir cerita kita berkata, "Whoa…". Hidup itu bagaikan pohon, yang setiap bagiannya tumbuh dan berkembang dan menjadi tempat hidup/habitat mahluk lain.

Kita yang sibuk melihat kedalam, seringkali tidak sadar dampak apa yang kita berikan pada orang lain disekitar kita, pada dunia yang kita tinggali. Senyuman kita, keramahan kita, kepedulian kita, semua ini berdampak bagi orang disekeliling kita, baik yang terkena imbas langsung atau tidak. Entah berapa kali kesedihan saya lenyap saat melihat dua orang yang tidak saling mengenal sibuk berbincang dan tertawa lepas. Atau saat melihat seseorang yang tampak begitu bahagia, walau saya tak mengenalnya.

Sebaliknya, saat berada di dekat orang yang marah-marah, saat berada di dekat orang yang tampak membenci dunia, rasanya dunia menjadi ikut kelam. Tidak ada yang lebih menular daripada energi negatif, yang bagaikan awan gelap menutupi matahari membuat semua orang menggigil dan tak nyaman. Dan terkadang, orang dengan sengaja menularkan energi negatif ini untuk membuat dirinya sendiri merasa lebih baik.

Tapi itu gunanya kita punya Tuhan, kita punya sesuatu yang kita percayai. Kita belajar rendah hati, bahwa ada yang lebih 'besar' daripada kita. Kita belajar tahu diri, bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita belajar percaya, belajar memberi, belajar berbagi, karena bukankan Tuhan yang kita percayai telah memberi, membagi, mempercayai kita?

Terkadang kita sibuk meng-secure tempat kita di kerajaan Tuhan, kita lupa kitalah perpanjangan tanganNya. Kalau pas bagian menghukum orang lain, langsung mengaku-ngaku utusan Tuhan, pede banget gitu ah hahahah. Padahal ya, Tuhan kan konon maha pengasih dan penyayang, kok bukan bagian itu yang kita berjuang untuk sebarkan di dunia ini?

Kita nggak pernah perlu alasan untuk baik pada seseorang, untuk menyapa hangat atau tersenyum ramah. Satu-satunya alasan yang valid adalah kalau orang tersebut terlihat dalam kesulitan, kehangatan hati menjadi sebuah keharusan dan bukan hanya pilihan. Kita nggak perlu pilih-pilih siapa yang akan kita perlakukan dengan baik, karena Tuhan juga nggak pilih-pilih saat membagi anugerah kan? 

Mungkin hidup saya nggak enak-enak banget, tapi saya saja yang berdelusi ria. Tapi rasanya enak lho. Saya pernah hidup terbakar amarah. Saya pernah hidup beranggapan semua harus seperti apa yang saya percayai, dan orang-orang yang tidak sesuai standar saya adalah warga negara kelas dua, nggak level dan nggak penting. Terus dan terus api itu membakar sampai tak ada lagi yang tersisa kecuali arang yang menghitam didalam jiwa.

Namun perlahan tunas baru muncul, pucuk hijau yang menjanjikan kehidupan. "Sudah ah marahnya," "Nggak apa-apa kalau mereka beda," "Emangnya loe siapa?" "Tiap orang punya cerita sendiri," "Dunia itu… indah ya." Satu demi satu mereka muncul dari arang yang menghitam itu, menutupi kelam yang tersisa dan melahirkan jiwa yang baru: Jiwa yang percaya, jiwa yang welas asih, jiwa yang berperasaan.

Dan sekarang, hidup saya indah. Kulit saya berseri dan rambut saya tergerai indah. Senyuman saya membuat orang merasa hangat, dan keberadaan saya membuat ruangan terasa terang. Hampir tiap kali saya selfie saya harus meng-sms teman saya setelahnya: "Gilak, kok gue cakep banget ya??" Bukan pamer, tapi beneran nggak percaya. Soal rejeki… jangan ditanya. Indahnya hati akan tercermin pada indahnya diri, dan secara kolektif akan terlihat pada indahnya dunia.

Hidup kita adalah narasi yang kita buat sendiri, yang kita pilih dan terapkan dalam hidup saya. Narasi saya adalah senyuman dan iman, gelak tawa dan petualangan, hangatnya hati manusia dan indahnya kasih Tuhan. Apa narasi hidup anda?

Thursday, November 9, 2017

Indonesia Berbenah

Ngebaca keluhan orang soal nggak bisa sms banking di luar negeri karena kartu SIM Indonesianya nggak bisa di registrasi. Antara kasihan dan pengen tepok jidat rasanya hahaha.

Jadi gini yaaaa.... Sistem bank di Indonesia itu minta diurek-urek rasanya. Makanya saya nggak pulang-pulang 😅. Jangankan yang SMS banking, saya yang murni pakai online banking saja ingin nangis dayak tiap kali harus transfer uang antar bank di Indonesia. Repooooot.

Asal tahu, lebih cepat saya transfer uang dari bank saya disini ke akun saya di Indonesia daripada dari sesama akun Indonesia hahaha. Dan SMS "Mama minta pulsa" itu ga ngefek buat saya, karena untuk tiap belanja/transfer online mesti pakai pinpad itu, sementara pinpad saya biasanya saya tinggal dirumah hahaha.

Disini transfer etc itu sih nggak perlu pinpad etc. Mau transfer antar bank kalau sesama teman/saudara tinggal pakai PayPal atau Venmo, bebas biaya. Mobile banking sebegitu canggihnya sampai mau deposit cek tinggal foto dan unggah di aplikasi hape bank tersebut. Saya terakhir ketemu teller itu cuma pas buka tabungan.

Keamanan kartu pun terjamin. Jarang banget saya pegang tunai, karena semua tinggal gesek. Mau pakai kartu debit atau kredit, bisaaaaa. Kalau tempatnya mencurigakan saya pakai kartu kredit, karena nanti bisa dicancel transaksinya kalau kenapa-kenapa. Bank pun aktif membatalkan transaksi yang mencurigakan. Saya pernah lho ditelp bank karena tumben beli Sephora (titipan teman) dengan jumlah besar. Ketahuan nggak pernah dandan xixixi.

Sementara itu di Indonesia... Pulkam tahun lalu saya nggak berani pakai kartu kredit saya, takut dibobol. Pake kartu debit akun bank Indonesia takut dicolong, dan tiap narik duit yang sibuk parno lihat kanan kiri. Belanja pakai kartu pada nggak ada mesinnya/nggak aman, bayar tunai yang "Wah ga ada kembalian mbak". Urgghhhhhh!!!

Mulailah anda mengangguk-angguk. "Tul, tul. Emang Indon itu yah...." Bentar bentar. Jangan salah. Di Amerika bisa gampang begini karena... Eng ing eng... Semua terdata! Yup. Karena semua punya nomor induk penduduk yang disini sebutannya Social Security Number (SSN). SSN ini juga yang dipakai untuk perpajakan, data gaji, buka usaha, semua deh.

Saya sampai disini nggak bisa begitu saja buka rekening bank, harus punya SSN baru bisa buka rekening. Waktu ingin buka rekening saat green card lagi diperpanjang, ditolak oleh bank, disuruh datang lagi saat kartu saya jadi. Dampaknya jelas, saya nggak bisa macam-macam. Nggak ada tuh cerita rekening dicuekin sampai mati sendiri karena proses menutup rekening terlalu berbelit. Selain karena prosesnya gampang, saya juga bisa masuk daftar hitam.

Sekali lagi kuncinya: terdata! Makanya saya yang sorak sorai bergembira saat program e-ktp mulai, atau sekarang saat registrasi kartu prabayar. Langkah bayi banget ini, tapi kedepannya semoga semua akan jadi lebih baik dan lebih mudah bagi rakyat Indonesia. Kalau dari awal sudah terdata, verifikasi dan proses apapun nggak perlu berbelit.

Apakah ada dampaknya? Jelas ada. Pencurian identitas adalah masalah besar disini. Karena semua tersambung dengan SSN itu, kalau ada yang bisa mendapatkan SSN plus data pribadi (tanggal lahir etc), orang bisa 'menjadi' kita: cari utangan, melakukan penipuan etc; dan kita yang bisa jadi tersangka. Oh noooo....

Karena semua terlacak, kita juga tidak bisa tipu-tipu disini. Nggak bisa punya rekening siluman dimana-mana atau money laundering. Mau urusan ilegal atau esek esek pun dana bisa terlacak. Transaksi tunai diatas $3000 itu wajib dilaporkan lho. Sementara di Indonesia banyak banget yang dengan santai jual tas/barang mewah sekian milyar di sosmed hahaha.

Jadi mending nggak usah dong. Ngapain bikin repot dan mengekang? Kita kan senang bebas bo'. Kita kan maunya bisa hura-hura tapi semua lancar jayahh. Idealnya tetap nggak repot daftar diri kanan kiri, tapi hidup teratur terjamin dan aman kayak di luar negeri. Err... Situ mengigau?

Penduduk yang terdata = turunnya tingkat kejahatan. Lho iya dong, kalau gampang kelacak males banget kan tipu menipu ria.

Penduduk yang terdata = mudahnya meningkatkan perekonomian. Pajak ketahuan siapa yang mesti bayar, dan duit pajak bisa dipakai untuk infrastruktur etc. Bukan buat pelesir ya sodara-sodara...

Penduduk yang terdata = penduduk yang terjamin. Karena jelas berapa banyak orang yang ada, tingkat pendapatan etc. Mau hitung subsidi silang orang ga mampu itu lebih mungkin. Kalau ada institusi yang menipu orang juga ketahuan, ada buktinya kan siapa setor ke apa.

Apa iya pendataan itu nyusahin? Iya bangeeeet. Apa iya pendataan itu perlu? Perlu bangeeeeeeet. Untuk alasan-alasan yang saya sebut diatas. Lagian, kalau kita iya-iya saja dengan pendataan dan pengecekan saat kita keluar negeri, yang kemana-mana harus siap nunjukin paspor, kenapa di dalam negeri malah sensi sendiri?

Apa iya proses ini bakal babak belur seperti BPJS? Pastinyaaaaa. (Ngumpet sebelum disambit sama temen temen yang orang DepKeu). Tapi siapa sih dari kita yang nggak pernah nyungsep cium tanah saat baru belajar jalan? Atau yang lahir langsung berjalan anggun ala model runway? Semua pada awalnya memang harus babak belur dulu sebelum terkoodinir. Awesome took effort. Keren itu butuh usaha.

Yang khawatir ini bakal balik lagi ke semrawut dot com begitu ganti pemerintahan, jangan dong ah. Berhenti berharap pejabat pemerintah mendadak jadi X-Men atau Justice League atau Ksatria Piningit. Kan kita negara demokrasi. Orang-orang yang baik, bersih, jujur di pemerintahan datangnya dari orang-orang yang baik, bersih, jujur di masyarakat. Jadi siapa yang mesti mulai berbenah sodara-sodara??

Colek juga oom tante encang encing mas mbak yang pernah merasakan atau sedang di luar negeri. Bantu mencerahkan yang di Indonesia gitu, dibagi pengetahuan dan pengamatannya kenapa disana lebih teratur, dan dibantu dipraktekkan disini juga. Jangan jauh-jauh melanglang buana eh pulang-pulang cuma nyebar hoax di watsap n fesbuk.

Jangan takut repot saat disuruh berbenah, saat dipaksa rapi. Nantinya demi kita juga kok. Kamar berantakan dan kamar yang rapi, mana yang lebih membuat anda bahagia dan ingin pulang? Yang kenal saya pasti tahu banget maksud saya hahahaha. #nggakbisarapi . Jadi jangan putus asa ya. Ingat, demi Indonesia yang lebih baik!

Saturday, November 4, 2017

Welcome To The New America

Imagine waking up in the morning, and reaching out to your phone. "Hello world," you said with a smile, or maybe with a grumpy tone. After all, like it or not, social media *is* a part of your world.

You unlocked it. You hit the button. Nothing happened. That's weird.

You tried pressing the button again. And again. And again. It keeps showing the message that your account was inactive. Maybe if you log out. And log in. And log out. And log in.

It takes a while to realize that somebody, somehow, deactivate your social media. You got tingle all over your body. If 'they' can deactivate it, what else can 'they' do with it?

Somebody told you your account was deactivated because it is nasty. Because you are a horrible, horrible person. And you just don't get it.

You are not a horrible person. You tried to bring people to their sense. You are speaking the truth. You are protecting what you think is important. And it is your right to speak. First amendment, right?

Maybe people take it the wrong way. But it is their business, their problem, not yours. You have the right to voice your opinion, and nobody has the right to silence it as long as it still within the acceptable scope. You are not breaking the law.

And for that reason, you do not deserve one-sidedly cut off like this. If you are not breaking the rule, nobody has the right to block your social media account. Just like nobody has the right to refuse you service in restaurants or other business. It will be discrimination.

But you still got blocked. And it is scary. It is scary because it shows rules doesn't matter. People can disagree with you and silence you. Your right to voice your opinion was taken away from you. What's next?

You remember the stories told by that Indonesian girl, how in her country people can get in trouble by saying something against the grain. You remember the teen in Singapore who got jailed for proclaiming he was an atheist. You remember the 'disappearances' of people who speak out against tyrans in other countries. It makes you shiver to the bones.

You absent-mindedly check your social media again. It was on now. You are back on track. It should made you leap with joy, right? Instead, it made you even feel colder and scared. No purpose, just because *they* disagree with with what you said, or who you are. Is this even America?

You check the statuses, likes, and such, and *they* are congratulating whoever did this. You don't break the rules, but people take matter in their own hand. Does that mean next time a majority decide on something and you are against it, they have the right to take corrective action towards you, regardless on what rules that has been laid out?

A lynch mob is a lynch mob. Just because *they* think it is right doesn't mean they can go at it, regardless whether the person who is prosecuted is right or wrong. That's why there is law, there are rules, so people don't infringe on other people's right just because they think they are the *good side*.

So people wont hurt others with different race.
So people wont hurt others with different belief.
So people wont hurt others in the name of "Truth".
So people wont hurt others (innocently) because they think they are doing the world a favor.

Yet people think what happen to you is ok, because they don't like you. Don't *they* understand this could work against them? That next time *they* are against bigger voices, *they* will get silenced too?

Your social media is back on again, but your rights are forever infringed. You will forever feel insecure, unsafe. Your safety net, the laws and rules around you, has been violated. You have been judged and prosecuted even though you are not breaking any rules.

All because you are not what majority wants you to be. All because you say things that doesn't corespond to 'the spirit' even though many silent ones might feel the same way you do. But you got prosecuted nevertheless.

Welcome, my dear, to the new America.

Thursday, October 19, 2017

Bukan Salah Anda

Saat disuit-suitin…
"Kamu sih, pakai baju begitu."
"Kamu sih, jalan sendiri disana."
"Kamu sih, keluar jam sekian."
"Lebay ah, bagus nggak dicolek."
"Makanya, jalan jangan menggoda."

Saat dicolek atau digrepe di bis…
"Kamu sih, bukan bawa kendaraan sendiri."
"Kamu sih, nggak waspada."
"Emangnya kamu nggak bisa teriak gitu, kan punya mulut."
"Kenapa mesti keluar sih?"
"Mungkin kamu terlihat 'Minta'."

Saat 'ditawar' atau dilecehkan…
"Udah, pergi aja. Jangan didengarkan."
"Ngapain juga diladenin, orang gila."
"Siapa suruh lewat sana, kamu memang cari masalah."
"Tapi dia kan berduit. Masalah loe apa?"
"Elu keliatan perek kali hahaha." 

Saat diperkosa…
"Ih, jijik melihatnya."
"Pasti dia yang kelihatan ngasi ijin, emang nggak bener."
"Jadi perempuan jangan kegatelan makanya."
"Nggak mungkin kejadian kalau dia cewek bener."
"Kok pasangannya masih mau ya?"

Saat mengalami kekerasan (seksual) di rumah…
"Itu kan suami, wajib dilayani."
"Bagus pasangannya udah nafkahin, jangan lebay ah."
"Siapa suruh pilih pasangan begitu, dari awal sudah nggak bener."
"Bagus punya pasangan, ga tahu diri sama muka."
"Wanita yang baik itu yang mengalah dan menerima."

Seringkali kita terlalu cepat memberikan pendapat, walau nggak diminta. Dan sangat sering pendapat yang kita berikan itu bukan pendapat, tapi penghakiman. Saat sesuatu yang buruk terjadi, kita seolah paling mengerti dan memberikan masukan "Mestinya kamu…", seolah kita bisa memprediksi apa yang terjadi sebelumnya.

Bagi yang pernah curhat sama saya, pasti tahu kalau saya nggak pernah bilang "Lagian sih kamu…" Buat apa? Sudah kejadian. Padamkan dulu apinya, bukan sibuk cari penyebab saat sekeliling anda terbakar hebat. Ada yang tahu di halaman berapa "Dear Mantan Tersayang" saya tulis ini ? #EhKokJualan . Lagipula, saya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, apa perasaan anda, apa yang menyebabkan semua itu terjadi.

Tapi lebih mudah menghakimi. Lebih mudah sok tahu. Lebih mudah berpikir kalau kita [baca: wanita] jadi orang [baca: wanita] baik-baik, nggak akan ada hal buruk yang terjadi pada kita. Kalau kita menjalankan hidup kita sesuai norma masyarakat, hidup kita akan lurus-lurus saja tanpa dinamika. Dan kalau ada sesuatu yang terjadi, itu salah kita.

Kalau dirampok… Itu salah kita
Kalau dipecat… Itu salah kita
Kalau diputuskan/diceraikan… Itu salah kita
Kalau dilecehkan… Itu salah kita
Kalau diperkosa… Itu salah kita
Kalau mengalami KDRT… Itu salah kita

Lalu kapan salah yang melakukan? Kapan salah orang-orang yang harusnya tahu itu tidak dilakukan, tapi tetap dilakukan? Bukan salah buah terlarang tumbuh di kebun surga, tapi salah Adam dan Hawa yang memakannya. Semua agama dan kepercayaan mengajarkan kita untuk menahan, mengontrol hawa nafsu. Semua agama dan kepercayaan menempatkan manusia sebagai mahluk yang mulia, yang memiliki akal budi diatas ciptaan Tuhan lainnya. Lalu kenapa manusia lain yang disalahkan atas ketidakmampuan kita mengontrol diri kita?

Bagi saya, anugrah terbesar Tuhan untuk manusia adalah empati, kemampuan merasakan apa yang orang lain rasakan. Bukankah Tuhan juga demikian? Bukankah Tuhan mampu merasakan apa yang dirasakan umatnya? Tapi dengan ketidak-tahuan (serta kesok-tahuan) kita, kita menempatkan diri kita 'lebih' dan 'maha tahu'. Kita tidak lagi mampu merasakan apa yang dirasakan seseorang yang berduka, karena "Toh itu salah dia,". Sejak kapan kita sedemikian jauh dari Tuhan?

Bagi anda yang disuit-suitin di jalan, bukan salah anda.
Bagi anda yang disentuh dan dilecehkan, bukan salah anda.
Bagi anda yang dipaksa berhubungan badan, bukan salah anda.
Bagi anda yang di'tawar', bukan salah anda.
Bagi anda yang terpasung dalam KDRT, bukan salah anda.
Bagi anda yang diperkosa, bukan salah anda.

Semua ini membuat diri kita terasa kotor, terasa murah, terasa begitu menjijikkan. Kepercayaan diri kita hilang, dan hidup menjadi kelam penuh ketakutan dan amarah. Walau secara fisik kita terlihat utuh, kekerasan seksual merampas bagian yang penting dari diri kita: Harga diri. Dan saat kita mencari tempat aman, seringkali penolakan yang kita terima, baik karena orang-orang merasa lebih baik dari kita maupun karena mereka tidak tahu harus berbuat apa.

Saya tahu harus berbuat apa. Saya bisa berempati.

Bagi anda yang merasa kotor, nggak. Anda nggak kotor. Anda tetaplah anda. Bagi anda yang merasa takut, masih ada tempat aman di dunia ini, masih ada orang-orang yang mampu mengontrol diri. Bagi anda yang merasa hilang dalam amarah, ada tempat damai menanti anda saat anda siap. Dan satu hal yang pasti, anda tidak sendiri. Tangisanmu adalah tangisan saya. Amarahmu adalah amarah saya. Kepedihanmu adalah kepedihan saya. 

Tidak ada yang berhak mengambil sesuatu yang bukan haknya, bukankah semua kitab suci dan lontar menuliskan seperti itu? Bukankah sepanjang hidup kita kita diajar (dan terkadang dihajar) untuk mampu mengendalikan hawa nafsu? Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang welas asih dan penuh cinta, yang bahkan menghargai kita umatnya yang nista dan penuh dosa? Bukan salah seseorang memiliki harta, salah pencuri yang menganggap itu haknya.

Bukan salah anda. Bukan salah anda. Bukan salah anda.

Tuesday, October 17, 2017

Me, Too

I stood in that dinghy room, trying to put on my clothes as fast as possible. The sun will soon set and my folks will be wondering why I was late from work. Except I wasn't at work. I was in a rendezvous with a guy I met on the internet. A quick meeting where I ended up getting screwed, literally and figuratively speaking.

For years I told myself it was not an assault. We met, we kiss, and then we fuck. I was fully aware that that's what going to happen. After all, was I not the one who obediently agreeing to hang with him? I was a bad, bad girl for saying yes to a date so fast, even though I barely knew him. I got what I deserve. Good girl doesn't wander around meeting strangers off the internet.

I spent the next six months waiting nervously for my HIV test. But I deserve it. I did the walk of shame at the doctor's office, a haughty residence that scorned visibly at me when I told her I was unwed but need STD testing. But I deserve it. My ex-boyfriend said he can't be with me again. But I deserve it. I was told for years by the person I loved what a cheap whore I was. But I deserve it.

I deserved those wretched periods. I deserved that filthy look. I deserved the shock when his wife (whom he said he had none) called me on both of my numbers and cussed me for sleeping with her husband. I deserved the "Oh wow, I didn't know that" by a mutual friend who previously swore he's a good man, and then that friend conveniently disappear after. I deserved that all. After all, am I not just a filthy whore who gets what she deserves?

But I don't deserve all of that. 

It wasn't after my divorce and my life in the US that I started to see things with a different perspective. The male enhancement that I saw in the room. The ease of talking of him and his friend. The phone that kept on vibrating. It was a setup. A trap. They knew what they were after, and I fell in their trap. They want free sex, and many women will give it to them. I didn't know. Even though I talked big and bragged about it afterward, inside I feel so filthy, so low. I feel like something was taken from me.

"But it's your decision. You deserve it." No. No, I don't. Now that I understand myself more, there was no way that man doesn't realize I don't want it. It took an hour or so with heavy hints for me to finally followed him to the room. And in there, it was not voluntarily i.e. I wanted to have him, it was "Oh fuck, I guess I have to follow with the program." It was a "yes" under pressure. It was a "yes" because I don't feel like I have an option. Because I already choose to be the whore when I decided to meet him.

The pattern continues with the next few men I dated. If I decide on meeting up with these strangers, sex is to be expected. My feeling was irrelevant. With the first foreigner I dated, I even went as far as making an excuse: "I exchange sex with good conversation, it's perfectly acceptable". Which speaks volume of my desperation, as my country was a very conservative country. I was already a whore. I was already tainted. Yet I feel so filthy, so dirty.

To many, very many people, assault is physical, violent. That's why when there was no visible violence going on, it is not considered an 'assault'. Being proposed for lewd acts, men showing up their dicks, getting masturbated into in a public place, catcalled or being ogled at, these are all being dismissed by "You have the option to leave," "Nothing's missing from you anyway," "No harm done," "Well maybe if you dressed…"

No. No. No.

1) We do not have the option to leave. A lot of times assault victim is placed in the position where they don't really have the option to leave or even to say, "Fuck off". Me with the predators back home. The authority figures (boss, teacher, partner, etc) whom we just can't say no to without jeopardizing our position. The society who pressed us into submission and made us think it is ok for us to be treated that way.

2) Nothing's missing from us. Well, nothing's missing except our pride and self-esteem. Nothing's missing except the feeling of safety that we have and our trust in people and the world. As for "No harm's done", we are reduced into feeling we're nothing like a slab of meat. Our feelings, our thoughts, our self does not matter. Our self-confidence was destroyed and we saw the world, perhaps forever, as scared as a rabbit might. Is that not enough harm?

3) I already have ample breasts by the time I was in high school, and I'll never forget the way the school guard looked at me in my uniform. What, you expect me to get a breast reduction at that age so people won't ogle me? Or do you want me to cover up from top to bottom as to not rouse the very fragile manhood? But men get raped too. Shall we all get covered then?

I dated a man not long after my divorce. We met, he was fun, I knew panty drop will happen. Because it was expected, right? His words forever change my life: "When you are ready." He could've very easily taken advantage of me, me being confused and hurt at that time, but he didn't. Few more date nights happened, but nothing happened. I asked him then, "Don't you want me?" He shrugged. "When you are ready. I will feel guilty if I take advantage of your emotional state," I cried so hard in his arms his dog started barking, thinking he had somehow hurt me.

Another date asked my permission to possibly have sex once we're home from the club. I looked at him confusedly and asked, "Why? You know I won't mind." He replied, "I don't want to have sex without consent, especially if you get too drunk to give consent later." Another date always asks me ever so nicely, and never once our Netflix and Chill turned into sex flicks and willies. These people know I will always say yes, being the somewhat-nympho I am, but that doesn't mean they won't respect how I feel or what I think. This, this is the standard to live on.

If the current me was placed with that predator a decade back, I know I can say, "Not now, homeboy." Because I know I have options, I know I will not be preyed upon. Not by predators like him, not by society, not by the insecure lovers who beat me emotionally to make them feel good about themselves. But the only way to know you have these options is to learn it from your surroundings, by seeing and learning from others. It falls in our shoulders and our hands to established acceptable boundaries and instilling one's worth.

It's ok to say no.
You need to listen what other's feel.
It's not your fault when you are assaulted.
You should not assault people.
What happened to you does not make you an object.
Do not objectify people.
Treat people like you want to be treated.
Have compassion. Have mercy. Have respect.
Don't let your lust run your head.
There is not a single person that is 'asking for it', unless he/she on his/her own clear conscience come to you and literally asked for it, whatever 'it' was.

Changes don't happen overnight. While it was overwhelming to read so many #MeToo stories, nothing will change if we do not take action. Men and women should work together, should realize that when assault happens, it is a crime. Focus on the victims and make them feel better, punish the perpetrators so people will think twice, but above all, understand that it. is. a. crime. Safety and self-esteem are one of the most precious things a person can have, and nobody has the right to rob a person of it.

I feel like I need a good long shower after this, and I might just do that. As measly as it was, my story still scarred me. The repeated words of how dirty I was, both from myself and from others, were still echoing now and then. But I am getting better. I am getting stronger. And no, I do not 'ask' for it nor do I 'deserve' it. Me, too. Me, too.

Thursday, October 12, 2017

Cinta Dalam Sepotong Beha

Saya tuh paling hobi belanja daleman. Terutama beha, apalagi disini kalau lagi sale bisa cuma $8. Biar saya belanja merk Victoria Secret atau La Senza, nggak pernah seingat saya beli yang harganya diatas $15. Model dan warnanya pun beragam, mulai yang biasa, yang ceria, sampai yang siap tarung (#aww).

Tapi saya nggak selalu seperti ini. Waktu masih di Indonesia punya satu dua jeroan yang seksi, tapi hampir semua 'normal'. Sesuai budget dan sesuai kebutuhan, titik. Setelah di Amerika pun, karena masih bergantung pada si mantan, tahu diri nggak minta macam-macam. Cukup yang ada saja. Toh nggak ada yang lihat.

Namun setelah saya berpisah dengan si mantan, saya memberanikan diri melirik VS. Belanja pertama masih polos, barang yang dibeli nggak diskon-diskon amat dan tampilan masih "normal". Belanja-belanja berikutnya perlahan menggila, renda dan tali saling silang dimana-mana hahaha. Sekali beli cuma 1-2 potong, tapi karena sale nya bisa 2-3 bulan sekali...

Tapi ini lebih dari sekedar beha. Walau nggak terlihat, namun secarik kain ini memberikan rasa nyaman dan kepercayaan diri untuk saya. Ini lho saya. Saya yang kuat. Saya yang seksi. Saya yang menarik. Baju luar boleh cuek, tapi isi dalam sangat 'saya'. Untuk pertama kalinya saya menerima diri saya apa adanya. Dan ya, mulai mencintai diri saya sendiri.

Langkah berikutnya: baju. Mulailah saya membeli baju-baju yang saya sukai. Lalu makeup. Mulailah saya merias diri. Lebih cermat memperharum diri. Seiring dengan perkembangan kepercayaan diri saya, saya terlihat semakin menarik, dan lebih mampu memilih dan memilah calon pasangan. Saya bukan yang dulu lagi. Saya tidak keberatan jomblo sampai mendapat yang sesuai standar saya.

Dan semua ini terjadi karena beha.

Tiap orang punya sesuatu yang mendefinisikan dirinya, sesuatu yang sangat ia sukai sehingga walau besok kiamat pun ia akan oke saja selama ia masih memiliki benda itu. Buat saya, beha. Buat teman saya, karir menarinya. Teman yang lain, meditasinya. Ada yang 'pegangan'nya sepatu atau tas. Ada yang senang gelang atau per-akik-an.

Semua orang punya benda seperti ini, tapi tidak semua orang tahu atau ngeh benda apa yang dimaksud. Kadang nafsu juga disalah artikan sebagai zona nyaman, yang mengkoleksi barang hanya agar bisa berkata: "Gue mampu lohhh..." Atau sebaliknya, menolaknya karena merasa ada yang lebih penting.

Hidup itu... Berat. Kalau ringan namanya gulali. Dalam ketergesaan dan ke-stres-an kita dalam hidup, tak jarang kita menafikan bagian dari diri kita, apalagi ditambah tekanan masyarakat yang "Loe harusnya..." Lalu di penghujung hari kita merasa tersesat, merasa bingung, merasa tak tahu arah. Bagaimana kita bisa menavigasi di dunia yang riuh, bila kita sendiri tak tahu siapa diri kita, tak nyaman dengan siapa kita?

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, dan kita tidak mencari sekedar pelipur lara laksana alkohol dan candu. Yang kita cari adalah sesuatu yang sangat 'anda', sesuatu yang membuat anda nyaman dan mencintai diri anda sendiri, sesuatu yang akan menjadi jangkar kokoh anda disaat lautan mengganas agar anda tak lagi kehilangan diri anda.

Kepercayaan diri dan rasa nyaman dengan diri sendiri adalah investasi yang terbaik yang bisa anda berikan untuk diri anda dan orang-orang disekitar anda. Selama anda mampu, tidak ada salahnya memiliki sesuatu yang membuat anda nyaman dan pede, untuk mengingatkan diri anda: "You are worth it". Nggak ada operasi plastik yang bisa menyamai binar di wajah seseorang yang sadar dirinya berharga.

Hidup ini rumit. Kadang lebih gampang setel mode otomatis dan menurut apa kata orang. Tapi kita kan bukan sapi atau bebek yang tinggal ikut apa kata gembala. Kita manusia yang memiliki naluri untuk maju, untuk berkembang. Kita bukan sekedar bunga dandelion yang terlupakan di halaman rumah, kita adalah mawar yang merona ganas, melati yang harum semerbak, anggrek indah nan eksotis.

Dunia terus berputar, dan perubahan terus terjadi. Apakah yang kita inginkan dari dunia? Apakah yang kita inginkan dari diri kita sendiri? Karena diam bukan lagi sebuah pilihan. Anak cucu kita bergantung pada kita untuk memberikan mereka dunia yang aman dan baik untuk mereka. Kita pun harus berani bertanggung jawab untuk memajukan diri kita sendiri.

Carilah 'cinta' itu didalam diri, carilah jangkar yang akan melabuhkan anda. Pupuk bibit itu lalu rangkullah diri anda sendiri. Dan mekarlah, pembaca tersayang. Mekarlah dengan sempurna dan percantik dunia yang begitu menakutkan ini. Jadilah oasis penyegar di bumi yang panas ini. Bagaimana anda bisa mencintai orang lain dan dunia bila anda tidak mencintai diri anda sendiri? Bersinarlah, pembaca-pembaca saya. Bersinarlah.

Monday, October 9, 2017

On The Altar of God I Kneeled

On the altar of God I kneeled
Eyes wide in horror
Lips slightly opened in desperation
A singular tear fell down my cheek
Too stricken to cry some more
"Please…" I called in a whisper
"Please…" My voice rasped with pain
"Please help us…" I said inaudibly
Too devastated to say it out loud
The anguish of the world rushed upon me
Drowning me, waves after waves
I struggled to breathe, to keep my sanity
Yet there is too much pain
Too much sadness
Too much loss and defeats
"Please…" I whisper again
"I beg you…" The eyes grew wider in fear
"Help us, please… I beg you…"
Then the head hung down
Embarrassed for asking such favor
Rejected for knowing no answer would come
Why would salvation come?
We have forsaken ourselves so far and so thorough
Heaven's doors are barred against us
No help will come
Only pain. Only defeat. Only suffering.
As we walk through this earth devouring others
Quenching our insane appetite for the hole we can't close
Forgetting the beautiful being we are
We're doomed. We're dead.

On the altar of God I kneeled
Forcing myself to smile
Why end things in frown and in ugliness
If you can end it with grace and beauty
The corner of my lips rose slowly
And then the tears run freely
There is beauty everywhere
There is love and kindness and hope
Why did I forget about that
The darkness around me accentuated the light in me
How bright it shone, how pretty it looked
And I don't need help anymore
I don't care about salvation or promises of heaven
This is me, and this is my world
The tears that have fallen
The blood that has shed
The souls that have been lost
The hearts that have been broken
This is my world, this is who I am
Good or wretched, beautiful or ugly
I will live on
I lifted my chin up high
Straighten out my back in defiance
 "Thank you," I said loud and clear
"Thank you for the life You given me"
"Thank you for the world You created"
"Thank you for the lessons and trials"
"Thank you for who I am"
And with that, I bowed deeply

On the altar of God I kneeled
I lost myself but now I've found me back
I was drowned in despair but now I walk on it
I was blinded by pain but now I see clearly
For this is my life
For this is my world
For this is my people
And I won't back down
There will still be pain and anguish
There will still be heartache and misery
There will still be darkness all around
But there will be hope
There will be light flickering in our soul
The little candle that others hold on to
The singular light that guides us through the storm
The promise of safety among the wretchedness
Let there be light in us
Let there be hope
Let there be love in us
Let there be haven
I smiled even bigger
A smile that turned into a grin
A grin that turned into a chuckle
A chuckle that turned into a hearty laughter
This is my life which I will fight for
This is my world which I will protect
These are my people whom I shall love
On the altar of God I kneeled solemnly
And say "Thank you, Lord," with a loving smile

Sunday, October 8, 2017

Bukan Cinta

"Jangan pakai baju seperti itu"
"Bilang dong mau pergi kemana"
"Kamu jalan sama siapa?"
"Jangan suka boros"
"Ngapain beli itu?"

Dulu saya pernah punya hubungan kayak begini, yang apa-apa mesti lapor dan harus nurut apa katanya. Yang konon dia melakukannya demi kebaikan saya. T*i kucing. Ini bukan bentuk cinta atau kepedulian, tapi bentuk awal pengendalian dan hubungan yang tidak sehat.

Buat kita yang perempuan, hal-hal seperti ini seringkali kita anggap wajar. Seringkali kita memposisikan diri kita sebagai mahluk yang harus diarahkan, dituntun. Padahal kita yang menjalani hidup dengan payudara dan vagina dan segala hormon yang menggila, tahu apa lelaki tentang diri kita dan perasaan bergejolak di dalamnya?

Bukan berarti kita nggak mau mendengarkan nasihat ya, tapi ada baiknya kita berpikir: apa alasannya? Sialnya ya itu tadi, posisi wanita di masyarakat patriarki membuat kita merasa hal ini wajar tanpa kritis mempertanyakan kenapa. Apalagi ditambah perasaan gak pede dan minimnya pengalaman.

Dulu, misalnya, saya sampai tukar password Fesbuk dan melacak satu sama lain di GoogleMap. Saat itu terjadi saya merasa sangat bahagia lho, "Ya ampun, so sweet! Segitu sayangnya dia sama aku!". Soal "Aku ga mau kamu dilihat lelaki lain" juga membuat saya melambung karena merasa sangat diinginkan. Itu bukan cinta. Itu bentuk pengekangan karena pasangan anda merasa insecure dengan dirinya sendiri.

Bagi yang sudah beli dan baca buku "Dear, Mantan Tersayang" pasti sudah lumayan paham maksud saya. Di buku itu saya menulis tentang hubungan yang sehat dan yang tidak. Manusia itu... nggak bisa cuma hidup berdua. Manusia itu... disetting dari sananya untuk berkembang, untuk maju. Inilah kenapa kita punya smartphone. Inilah kenapa Obama yang leluhurnya diperbudak bisa jadi presiden Amerika. Inilah kenapa manusia bisa sampai ke bulan.

Hubungan yang sehat adalah yang kedua belah pihak jadi maju dan berkembang. Yang dulunya cuma karyawan bisa jadi manajer, yang dulunya gaptek bisa lancar komputer, misalnya. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saat melihat kebelakang kita bisa melihat kebelakang dan berkata: "Saya bisa sejauh ini berkat XYZ".

Hubungan yang nggak sehat adalah hubungan yang membuat hidup mandeg. Tiap saya mendengar "Gue ga rela loe diliat orang lain" saya selalu terbayang dua tipe anak TK: yang nggak mau berbagi mainannya (tapi rajin mengambil mainan orang), dan yang ngumpet di pojokan nggak mau bersosialisasi. Egois dan ga pede. Ke dua tipe ini akan membuat pasangannya mandeg, atau lebih buruk lagi, kehilangan jati dirinya.

Pertanyaannya adalah, apa yang kita harapkan dari hubungan kita? Karena hidup nggak akan selalu sekedar "Ai lop yu pull bebe". Sebelum memberikan saran pada pasangan, tanyakan dulu ke diri sendiri: "Ini demi dia atau demi saya?" Sebelum mengiyakan saran dari pasangan juga harus berpikir demikian.

Bisa lho, peduli tanpa mengekang. Bedakan antara "Jangan makan melulu, nanti gemuk" dengan "Kamu sebaiknya pola makannya yang lebih sehat deh". Atau antara "Jangan pakai celana pendek, nanti dipelototin orang" dengan "Jangan pakai celana pendek, daerah itu rawan". Atau yang ngecek keberadaan karena takut kamu selingkuh, dengan yang ngecek karena kamu kebiasaan bablas jjs lalu besoknya nggak mau masuk kerja.

Bukan hanya pria, wanita juga banyak yang seperti ini. Seorang teman bolak balik memastikan pacarnya nggak pergi jjs karena sebagai pasangan mereka harusnya jjs bersama, padahal saat itu teman saya ini sedang pergi ke kondangan bersama grup kami. Jeng jeng jeng. Wanita itu bisa kejam dan memerintah juga lho. Ketidakpedean itu bukan hak milik satu jenis kelamin saja.

Saat kita tidak pede, saat kita insecure dengan diri kita sendiri, kita seringkali menproyeksikannya ke orang lain. Bila anda merasa pasangan terlalu banyak aturan, mungkin ia merasa hanya dengan cara itu ia bisa tetap memiliki anda. Bila anda merasa ia terus merendahkan atau membuat anda tidak nyaman, itu karena ia tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Tapi ini urusan dia dengan dirinya sendiri, jadi buang jauh-jauh "Oh aku akan menyelamatkanmu kekasih tersayang!" dan mau saja terjajah karena kasihan. Karena anda tidak akan bisa. Yang bisa menolongnya lepas dari ketidakpedeannya adalah dirinya sendiri.

Bagi wanita Indonesia yang masih merasa kaum lelaki 'berhak' memperlakukan anda seperti ini, mari saya ingatkan betapa hebatnya wanita Indonesia. Kita bisa tangguh dan tetap penyayang, bisa manja tapi siap bertindak. Ini paduan maut kalau disini, sifat feminin kita yang membuat lelaki cetar membahana plus kesiapan kita menghadapi dunia yang membuat lelaki merasa nyaman dan percaya dengan kita. Kurang apalagi, coba?

Jangan anggap kelebihan kita ini 'keharusan' atau 'kodrat' belaka. Kalau kita bicara kodrat, kodrat lelaki juga sama, bukan? Yang mampu menjadi kepala keluarga, menafkahi, membantu kita menjadi lebih baik. Sori sori aja ya kalau cuma mampu beli Av*nza tapi berharap pengalaman berkendara sekelas Ferrari. Berharap pasangan yang sempurna, kita sendiri sudah sempurna belum?

Masih berpikir bahwa pengontrolan dan pendiktean itu benar? Coba berpikir sejenak, dari kalimat-kalimat itu apa yang anda lihat setahun kedepan? Apakah itu akan membantu anda atau membuat anda berkembang? Bila jawabannya "Saya akan bisa tetap bersamanya", maka ada yang salah dari hubungan anda. Cinta itu melebarkan sayap kita, bukan mengguntingnya.

Oh dan yang marah-marah dan berkata: "Apa sih perempuan ini??", tandanya anda merasa kalau saya itu benar. Bukan cuma soal ga pede atau insecure, ada lho hubungan yang senang mengontrol dan senang dikontrol. Kalau anda salah satu dari ini, cari pasangan yang klop. Jangan ngerusak orang lain gituh. Kalau ini soal insecure, pelan pelan ya sodara-sodara, bisa kok itu diperbaiki. Tuhan menyiapkan yang terbaik dan setara bagi kita, jadi kalau mau yang wah kitanya juga harus wah. Semangat!!!

Thursday, October 5, 2017

Ibunda Dan Ayahanda

Wahai Ibunda dan Ayahanda,
Siapkanlah anak lelakimu untuk menjadi suami teladan,
Yang mapan bukan hanya secara finansial namun juga mapan mental,
Yang mampu melihat dan memilih Pasangan Terbaik: seseorang yang mampu dan mau bekerja sama untuk memajukan hidup kedua belah pihak dan hidup keluarganya,
Yang mampu mengerti dan menghadapi badai kecemburuan,
Yang mengerti bahwa godaan adalah godaan belaka,
Yang sanggup menafkahi keluarganya sehingga bila istrinya bekerja itu adalah pilihan si istri dan bukan keharusan,
Yang mau memahami pilihan tersebut dan tidak menafikan kebutuhan sang istri.

Wahai Ibunda dan Ayahanda,
Siapkanlah anak perempuanmu untuk menjadi istri idaman,
Yang kuat secara mental dan mampu berdikari.
Yang percaya diri untuk memilih Pasangan Terbaik karena tahu dirinya begitu berharga,
Yang mampu mengangkat kepala tinggi disaat badai menyerang dan pasang badan untuk melindungi keluarganya,
Yang sanggup mengambil alih kendali rumah tangga dan menjadi tulang punggung disaat sang suami tiada atau tak bisa,
Yang mengerti dan memberikan sang suami kedamaian rumah yang suami butuhkan,
Yang menyadari bahwa pengambilan keputusan (sekalipun sang suami menolak) adalah hak sekaligus kewajibannya selaku istri.

Ingatlah Ibunda dan Ayahanda,
Perkawinan bukanlah tujuan akhir, 
Perkawinan adalah pengesahan tim sebelum memulai petualangan panjangnya,
Perkawinan bukanlah sekedar opsi "Daripada berzina atau pacaran",
Perkawinan adalah rekanan bisnis dengan konsekuensi stigma masyarakat bilamana tidak dijalani dengan baik,
Perkawinan adalah investasi yang bisa membuahkan hasil maksimal atau justru membangkrutkan anda,
Dan bahwa istri lebih daripada sekedar trofi atau boneka pajangan,
Dan suami lebih dari sekedar ATM berjalan

Kepercayaan diri
Kecerdasan
Kemampuan berkomunikasi
Welas asih
Kemandirian
Rasa hormat
Ini yang harus dimiliki para calon istri
Ini yang harus dimiliki para calon suami

Karena, Ibunda dan Ayahanda,
Anak perempuan bukanlah obyek semata,
Anak lelaki tak perlu terbebani dunia,
Dan mereka harus mampu bekerjasama.

Karena, Ibunda dan Ayahanda,
Anak perempuan haruslah kuat
Anak lelaki haruslah penyayang
Dan dalam perkawinan mereka saling melengkapi

Karena, Ibunda dan Ayahanda,
Mereka begitu berharga,
Keturunan mereka begitu berharga,
Dan orang tua mereka juga begitu berharga.

Mari, Ibunda dan Ayahanda,
Kita didik anak-anak kita dengan semestinya
Demi mereka dan demi kita
Dan demi kebaikan dunia yang kita tinggali

Selamat malam, Ibunda dan Ayahanda ❤....

Tuesday, October 3, 2017

Dear, Mantan Tersayang

ini ceritanya, jadi saya tuh punya buku. Bikin buku. Well, sebenarnya tim penerbit dari Grasindo yang membuat bukunya, tugas saya memasukkan dan menyusun transkripnya. Berkat kinerja kita bersama (#Jyahhh) jadilah buku ini yang cantik, warna-warni, seru, enak dibaca, dan yang paling penting: Bermanfaat!

Seriusan. Walau judulnya "Dear, Mantan Tersayang", memang anda pikir saya cuma bakalan nyampah menghina-dina mantan saya? Ish… Kalau iya dari awal kan saya nyampah aja ya, seperti banyak 'seleb' sosmed yang beken karena tulisannya yang (uhuk-uhuk) sakit. Tapi ini bukan soal nyampah. Ini bukan soal "Liat gue, kasihanin gue". Ini tentang move on, tentang lepas dari masa lalu. Ini tentang kemampuan untuk bersuara.

Waktu tulisan saya viral, banyak lho yang mengingatkan saya: "Jangan buka aib". Sampai sekarang buku ini terbit, lebih heboh teman-teman saya disini (yang nggak bisa baca bukunya karena nggak ngerti Bahasa Indonesia) daripada mayoritas teman-teman saya di Indonesia. Beberapa teman dan satu-dua keluarga malah pura-pura nggak ngeh buku ini terbit. Pas saya curhat, jawabannya selalu sama: "Yah mungkin karena isinya" . Wait, tapi isinya itu self-improvement…

Kalau kata orang jangan menilai buku dari covernya, mungkin ini kasus yang lumayan telak hahaha. Padahal isi buku saya itu bagaimana mencintai diri sendiri, bagaimana mencintai seseorang dengan sepantasnya, bagaimana mendapatkan/membina hubungan yang sehat, dan sebagainya. Bukan karena saya jadi viral berkat menulis tentang selingkuhan suami saya lalu itu saja yang saya tulis. Yang rajin mantengin/baca tulisan saya di Fesbuk pasti tahu, karena saya membahas berbagai hal.

Disisi lain, inilah wajah sebenarnya di Indonesia, dimana perceraian dan (atau) kegagalan hubungan dianggap tabu dibicarakan, dianggap memalukan. Setelah tulisan saya viral, sekian banyak orang mendadak menghubungi di social media dan curhat syalala. Yang bisa saya bantu, saya bantu lho. Namun saya tetap shock. Ternyata sebegitu perlunya sosok seseorang yang mau mendengarkan dan tidak menghakimi. Gimana nggak, saat sepupu laki-laki saya membeli buku ini si mbak SPG toko buku mesem-mesem melihatnya. Udahan kali menghakiminya.

Buku ini peluk erat saya bagi semua orang yang sedang atau pernah dirundung kesedihan dalam hubungan. You are worth it. Kamu itu berharga. Kegagalan dalam hubungan bukanlah akhir dunia. Baca buku saya dan mengerti kalau kamu itu, kalau setiap orang itu sangat spesial. Jangan terus menunduk kebawah dan meneteskan airmata. Dongakkan kepala dan tersenyumlah untuk dunia. Bukan pilihanmu ini semua terjadi.

Buku ini salam jari tengah saya bagi semua pencibir dan penyinyir yang sibuk menghakimi dibelakang. Diselingkuhi itu bukan sesuatu yang memalukan. Ada juga yang selingkuh yang harusnya malu. Hubungan kandas pun bukan sebuah aib. Baca buku saya agar mengerti berbagai faktor penyebab perselingkuhan itu terjadi. Kalau anda masih melihat buku saya (atau orang yang membeli buku saya) dengan tatapan sinis, anda bagian dari permasalahan ini. Lho, iya dong. Selingkuh itu marak karena tekanan terhadap si korban (dan sang selingkuhan) lebih kuat daripada tekanan terhadap si pelaku. Dubes Norwegia untuk Indonesia ditarik pulang tahun ini karena dituduh melakukan 'Perbuatan tidak terpuji' (baca: selingkuh), sementara perempuan Indonesia yang diselingkuhi malah diingatkan "Jangan buka aib!"

Buku ini tamparan dan pe-er besar buat saya, yang masih malu-malu kucing (baca: nggak pede) sama hasil karya saya. Yang masih menganggap ini bukan apa-apa makanya promosinya juga malu-malu kucing. Kalau kata presiden Amrik terkini: This is huge. Ini besar banget. Saya nggak bikin buku ini demi saya, agar saya tenar. Saya menulis buku ini untuk berkoneksi dengan sekian pembaca diluar sana yang selama ini hanya mampu merasa dalam diam. Saya berhak dan harus bangga dengan diri saya, dengan karya saya, walau sejuta suara diluar sana menentang saya. Kalau saya nggak bangga dengan siapa saya, bagaimana saya bisa memotivasi orang lain untuk bangga dengan diri mereka?

Jadi begitulah.
- Kalau anda seseorang yang ingin mengenal lebih jauh tentang diri anda dan berusaha mendapatkan plus membina hubungan yang sehat, beli buku saya.
- Kalau anda sedang terpuruk dan ingin keluar dari lubang gelap kesedihan anda dan move on, beli buku saya.
- Kalau anda merasa pihak yang diselingkuhi pada khususnya, dan para wanita pada umumnya, berhak didengar suaranya, beli buku saya.
- Kalau anda merasa perasaan anda valid dan sudah penat mendengar kata-kata: "Jangan bikin malu!", beli buku saya.

Karena kita berhak bersuara. Kita berhak merasakan apa yang kita rasakan. Kita berhak mencintai diri kita. Kita berhak tahu bahwa kita berhak mendapatkan yang lebih baik.

Dan situ-situ yang merasa saya adalah contoh perempuan yang memalukan dan tidak seharusnya berada di Bumi Indonesia dan kalau perlu kewarganegaraannya dicabut, beli buku saya. Jangan cuma satu, tapi pastikan semua grup arisan dan peserta grup WA anda kebagian satu-satu. Bedah buku deh rame-rame, agar semua waspada bahaya laten orang yang menolak tahu malu. Kalau beli via manajer saya di Jakarta dapat bonus postcard yang ada tanda tangan saya lho.

Terimakasih banyak yang sudah membeli buku saya. Terimakasih banyak tim Grasindo yang sudah membuat buku ini seindah mungkin, dan tak kenal lelah mempromosikannya. Terimakasih manajer dadakan saya Mbak Ayu yang percaya pada saya dan karya saya. Kita semua berhak bersuara. Kita semua berhak merasa. Dan nggak, kita nggak memalukan. Peluk erat!

- "Dear, Mantan Tersayang" bisa didapatkan di berbagai toko buku besar, Grasindo online, atau kontak Ayu di 0817 816 341 (sama Mbak Ayu kayanya masih ada stok postcard + tanda tangan saya-

Friday, September 8, 2017

Big Girls Don't Cry

The smell of your skin lingers on me now
Well not your skin, but the bags of potpourri in my drawer
The first and last thing you gave me for my birthday
And then you passed away

The memory of your smile still hankering in my mind
The gentle touch, the safe haven
We'll be playmates and lovers and share our secret world
Even though we live our own life now

The palms of my hands feel empty without your small fragile hands 
I need some shelter for my own protection, baby
And it means to say goodbye to both of you
But this body will forever miss your embraces and kisses

The warmth of your body etched on my mind
From time and era that seemed like a lifetime away
Fairy tales don't always have a happy ending, do they
And reality is never a loving place to be

And it's time for me to go home, it's getting late
Even when I don't know where home is
I must take baby steps till I'm full grown, full grown
Yet I carry pieces of you with me

I hope you know that it has nothing to do with you
But of course you know it has everything to do with you
My life is a collage of experience
And every single one of you, turning me into who I am

And I am gonna miss you like a child misses their blanket
It's ok, it's alright, it's a part of life
It's personal, myself and I
Though you all are a part of it, then and forever more

It's time to be a big girl now, and big girls don't cry
Nevertheless I will shed a tear now and then when it feels too much
Thank you for being a part of the journey
Thank you for making me who I am today



Note: I had waaay too much fun deconstructing Fergie's song. This is but a fraction of people who shape me into who I am. I love you all.

Tuesday, August 29, 2017

Hello World

Hello world,
Haven't seen you in a while. I know, I know. Stupid remarks. You are there. Always. It's a question on whether or not I notice you. I haven't. Not since the last several weeks.
 
I've seen you around (pun intended), and kinda know what's happening with you. Yet what happened in my world, in my own little mind, was proved to be more distracting than you. My book is officially published. Yay! I met a good friend for the first time ever. I discover LA is even more interesting than what I have known. I learn to say no. I learn to be selfish. I learn to not trust people, ever. I smile and love more. I have been happy. Much too happy.
 
Yet around me, within the big old world, chaos ensued. Monsoon in Southeast Asia that killed thousands. Flood in Texas that hurt so many people. Lies. Treachery. Distrust. Greed. Evil. Like the blood that seeps into the white gown, there is no way to get it off. I saw it spread like black oil in the water, slowly but sure making its way across the water with nothing to stop it. Doesn't mean that nobody tries, a lot of people are knee deep in the water, the black pollution dripping all the way from their elbows and dripping from their hairs, as they tried hard to stop it. But it still goes on. Pandora opened the box and we are f*cked.
 
But that was not why I turned my gaze off you. At least not consciously. You are still beautiful than ever, world. You are still mine, and I am still yours. Sometimes we need a break from reality. Sometimes we need to turn blind eye to find our happiness, and consequently, find a reason to hope. Yet oftentimes, the break went on a little longer than we said it will take. Say, like forever or so. And there you are, ravaged by everything that happened, and here we are, hiding in our perfect little world inside our head.
 
I know you think it's ok. I know you'd say "I'll be fine". And I know you will. I know you know I am scared, that I feel like I can't take it anymore. The sadness, the pain, the misery, I know you know I wanted it to end. But I am a part of you too, am I not? Let me shoulder what I can take. Let me say my prayers and whisper my faith. Let me be the little candlelight that shines us through these dark days, one in many. Let me offer what I can give: smile and happiness. It's not much, but what I can give, I shall give.
 
And when the last song is sung, when the last dance is danced, when you stop existing, be it good or bad, I will still be here. Whether it takes thousands of millennia or a quick few hours, I will still be here. I might dance happily and laugh gaily, but I will not look away from the sorrow in you, and I will still be here. Your pain is etched in my body, yet my smile I will give for free. For you are mine, and I am yours.
 
Hello world, I miss you.

Friday, August 25, 2017

Jangan Silau Oleh Dunia

Lama-lama ngeliat berita tentang bos FT gerah dan muak juga. Jadi sekarang setelah ketahuan uangnya uang nasabah habis dicaci maki? Lah, salah siapa dong dulunya silau melihat gaya doski-doski ini? Melihat bos FT dibandingkan dengan istri bos fesbuk juga bikin eneg. Lu pikir bakal lu bakal ngelirik orang yang dandanannya ala istri bos fesbuk?
 
Let's face it. Jujur aja. Kita tuh cepat banget silau. Melihat orang pakai tas bagus dikit, pakai henpon kinclong dikit, pakai mobil mulus dikit, langsung yang "Oh la la". Coba yang biasa aja, ditoleh juga nggak. Yang kenal sama siapa dan pakai 'benda'nya apa lebih penting daripada isi dalam orangnya. Ayolah, seberapa sering sih kita yang menggunjingkan orang dengan "Tapi dia sih sabar dan baik banget lho, saya kagum sama dia" dibandingkan yang "Lihat nggak tas/jam tangannya??"
 
Kisah nyata: Adik saya yang lagi ngetren di instagramnya RioMotret sebagai model brand campaign untuk NY Fashion Week (iya, adik kandung. Adonannya pas bagus hahaha), waktu dia menang Miss Charm di ajang Miss Tourism Queen International di tahun 2008 nggak ada yang nyapa. Ada juga ditanya: "Siapa yang bawa?" (terjemahan: siapa yang mensponsori); dan bahkan satu Horang Kayah saudara jauh kami dengan manisnya bersabda: "Mana sini, suruh ketemu saya." Umm… Siapa elu coba? Sponsorin atau bahkan tahu dia berangkat juga kagak. Waktu wajahnya terpampang di billboard raksasa persis depan bandara Ngurah Rai dan di pintu masuk taman rekreasi di Bali tetap pada biasa saja. Bolak-balik runway untuk jualan baju malam mewah, tetap nggak dilirik karena keseharian cuek bebek bajunya.
 
Saya pun merasakan hal yang sama, yang kayanya semua achievement/pencapaian kami nggak ada artinya karena kami bukan horang kayah. Padahal menurut saya, saya keren banget lho. Nggak banyak orang yang datang ke Amerika dengan modal nol, dan bisa hidup sestabil saya dalam jangka waktu hanya 3 tahun. Bisa kerja kantoran pula. Anda tahu susahnya mencari kerja kantoran disini? Tapi tetap lho, acara keluarga atau jalan ke mal bisa dilihatin dan dinilai dari kepala sampai kaki. Seolah: "gini ya, pencapaian lu boleh keren, tapi kalo 'barang' lu nggak mentereng, jangan harap…"
 
Saya yakin bukan saya saja yang seperti ini. Ayolah, siapa sih yang nggak heboh sendiri saat harus datang ke kondangan? Berapa kali sih anda berpikir atau ditegur "Masa pakai yang itu, jelek sekali kelihatannya"? Seberapa sering anda mendengar orang menilai orang lain dari apa yang ia pakai di acara publik? Kita beli barang karena ingin dilihat, karena ingin menunjukkan siapa kita dan status kita, dimana posisi kita di kancah sosial. Kenapa? Karena kita sendiri melihat orang dari itu. We see what we want to see. Kita melihat apa yang ingin kita lihat. Kita mengasosiasikan 'barang' dengan 'status'. Bos FT ya kelewatan karena membeli 'barang' dengan uang orang (bila terbukti), tapi kita yang mengagungkan 'barang' juga bersalah.
 
Bukan berarti nggak boleh punya 'barang' ya. Mau beli tas semahal pesawat jet pribadi, asal uang sendiri dan sanggup, yuk sana. Menilai orang dari kapasitas 'barang' yang ia miliki juga nggak selalu buruk. Saya kalau diajak kencan, misalnya, juga lihat-lihat apa yang dia miliki. Kita boleh kok (dan harus) memiliki standar ekonomi. Kalau kita terbiasa makan di resto bintang lima dan (calon) pasangan terbiasa makan di warteg, kedepannya sulit karena hubungan yang ideal adalah yang bisa sama-sama nyaman. Salah satu masalah utama dalam hubungan adalah finansial lho. Susah untuk hepi kalau kepikiran uang (dan utang) melulu. Dan ya, kalau mau memanjakan diri sendiri, kenapa tidak? Apa salahnya? Toh hasil keringat sendiri.
 
Yang nggak boleh adalah silau saat melihat 'barang', yang langsung beranggapan seseorang 'Wah' bila memakai benda-benda bermerk, yang menilai seseorang berdasarkan apa yang ia pakai dan bukan dari siapa dia. Ok cowok ini bawa henpon iPhone 8 (yang bahkan belum keluar di pasaran), atau cewek ini bawa tas Hermes, tapi dia gimana ke orang lain? Baik nggak? Ramah nggak? Mau membantu nggak? Bisa dipercaya nggak? Atau anda nggak mau tahu? Yang penting total 'barang' yang dipakai seharga xx juta rupiah, maka dia otomatis lolos jadi best pren anda?
 
Saya suka disini karena nggak ada yang ngelirik dari atas sampai bawah mencoba menghitung total harga barang yang saya pakai sebelum mengobrol dengan saya. Biasanya (apalagi cowok) berhenti sampai di bagian wajah sebelum tersenyum sumringah. [Siapa itu yang bilang muka asli Indonesia kulit gelap itu nggak cakep, heh??]. Saya suka disini karena disini lebih penting bagaimana tampilan saya dan bukannya merk baju yang saya pakai. Saya suka disini karena orang yang walau baru kenal bisa bahagia banget saat saya sapa dengan manisnya, dan bukannya melengos pura-pura nggak kenal. Saya suka disini karena saya bisa menjadi saya, dan saya dilihat sebagai siapa saya dan bukan apa yang saya pakai. Sebaliknya, saya juga nggak silau.
 
Jangan salah, disini ada juga yang minta disambit sandal jepit. Teman yang datang ke acara di KJRI sekali waktu berkata dengan syoknya: "gila, lagi foto bareng bisa-bisanya tetap ngomongin kekayaan orang lain". Teman lain (bule) pernah diusir secara halus dari supermarket di kawasan 'elit' karena disangka gelandangan dengan baju gym buluk dan celana pendeknya. Dia dengan tenangnya menyuruh si manajer membawakan belanjaannya ke mobilnya, dan manajer ini bengong melihat mobil mewahnya. "That's… a really nice car," kata manajer reseh ini, "It is," kata teman saya dengan pedenya.
 
Pertanyaannya sekarang adalah, apa sih yang menurut anda penting? Ingat lho, memiliki suatu 'barang' bukan tanda kemampuan diri seseorang. Ingat juga, dekat-dekat orang kaya/beken nggak akan membuat anda ketularan kaya/beken. Semahal-mahalnya barang, akan ada yang lebih mahal lagi. Sampai kapan ini akan berlangsung? Kita menulis, menshare, membagikan tentang bagaimana mendidik anak berahlak mulia, tapi kita sendiri silau dengan hal-hal duniawi. Kita merasa harus memiliki suatu benda untuk menjustifikasi nilai kita, dan sebaliknya, kita menilai orang dari benda yang ia pakai. Apa hasilnya? Hasilnya ya bos FT. Jangan hanya menyalahkan mereka akan jalan yang mereka tempuh, karena secara tidak langsung kita pun menciptakan tekanan lingkungan/peer pressure hingga mereka memilih jalan itu.
 
Apa manusia akan bisa berubah? Susah ya hahahaha. Sekali lagi, nggak cuma di Indonesia lho. Seleb-seleb sini juga sering diagung-agungkan karena 'barang' yang mereka punyai. Tapi merubah dunia kan dimulai dari diri kita sendiri. Sanggup nggak kita tersenyum ramah dan menawarkan apa yang kita punya, terlepas dari sandal jepitnya merk Swallow ato merk Havaianas? Pede nggak kita duduk dan ngobrol sama si Mbak manis atau Mas lugu saat kondangan/acara walau kita tahu itu baju yang sama yang mereka pakai ke kondangan sebelumnya? Dan ini bukan karena kita kasihan atau sok baik, tapi benar-benar karena kita nggak perduli sama apa yang mereka pakai.
 
Membuka mata hati itu susah, tapi lebih sulit lagi menutup mata duniawi. Menutup mata duniawi kita membutuhkan kepercayaan-diri, membutuhkan rasa aman terhadap diri kita sendiri, membutuhkan kita mengerti lebih dalam mengenai manusia dan mampu berkata, "So what gitu?" Menutup mata duniawi membutuhkan usaha yang tidak sedikit, karena jauh lebih mudah menilai seseorang secara duniawi daripada secara pribadi. Ibaratnya mengerjakan soal pilihan ganda atau Benar/Salah lebih gampang kan daripada soal "Terangkan mengenai…"
 
Sekali lagi, kagum itu boleh. Punya impian itu nggak kenapa. Saya ingin sekali punya Google Phone, misalnya, ya boleh dong saya bermimpi dan berusaha mengejarnya. Tapi saya nggak ingin (dan semoga nggak akan) menjadikan diri saya sebagai "Si Ary Yang Pakai Google Phone". Apa yang saya pakai tidak mendefinisikan saya. Sebaliknya kalau saya lihat orang pakai Google Phone saya pasti sirik dan heboh berat, tapi bukan berarti mereka mendadak jadi super keren karenanya. It takes more than that to win me over, butuh lebih dari itu untuk membuat saya terkesan.
 
Dunia nggak butuh lebih banyak barang mahal, apalagi yang dibuat dengan mengeksploitasi negara miskin dan dengan buruh yang dibayar tidak selayaknya. Dunia butuh lebih banyak kehangatan dan gelak tawa, butuh lebih banyak penerimaaan dan pengertian. Semua yang kinclong itu indah, tapi pada akhirnya, apa sih yang sebenarnya berharga untuk anda? Apa yang anda inginkan, dan yang lebih penting lagi, apa yang anda butuhkan? Jangan lupakan itu. Jangan silau oleh dunia.

Tuesday, August 22, 2017

Sekedar Tipuan

Duduk melamun di kafe, memandangi foto kue yang diblow up indah untuk mempercantik dinding kafe, sambil merenungi cerita terbaru tentang motivator kondang yang mempidanakan penulis status fesbuk. Ya iya dong, biar bengong tetep mesti updet.

Masalah sama si penulis status ini adalah dia mencari tahu motivator ini siapa, tapi hasil telusuran di gugel nggak sesuai dengan apa yang diaku motivator ini. Ditulislah hasil penelusurannya di fesbuk, dan marahlah si motivator ini. Pake dipidanakan segala si penulis status. Maklum, susah kalau sudah menyangkut urusan dapur.

Terlepas dari urusan pidana ria ini, masih banyak lho orang Indonesia yang nggak paham cara pakai mesin pencari seperti Google, Bing, dan kawan-kawan. Padahal Indonesia dengan jumlah penduduk yang termasuk salah satu terbesar di dunia pastinya juga memiliki pengguna internet yang seabrek.

Banyak alasannya sih kenapa gugel dkk ga laku: koneksi yang nggak stabil, sumber informasi yang kebanyakan Bahasa Inggris, sampai soal malas. Jadilah yang dipakai dan ditelan info dari wassap bbm etc yang nggak bisa dipertanggungjawabkan. Masih ingat kan soal manfaat pete yang ternyata salah terjemahan dari iklan kolagen Purtier? Gagalnya total euy...

Padahal gugel itu teman baik kita lho. Apalagi yang hobi stalking hahaha. Dari semenjak saya di Indonesia, kalau mau ketemuan orang dari online dating pasti saya gugel habis-habisan. Disini apalagi, yang serial killernya horor-horor. Saya nggak mau ketemuan kalau saya merasa orang ini bukan seperti apa yang dia tulis di profilnya. Gini ya, perusahaan aja disini ada yang minta nama akun sosial media biar bisa dicek, apalagi yang mau kencan cuma berdua. Safety first. Utamakan Selamat. Bukan pak Slamet.

Gugel itu juga penting biar anda nggak dikadalin. Diajak investasi? Gugel aja perusahaan investasinya, cari link yang resmi dan kredibel. Sekali lagi, RESMI dan KREDIBEL. Nggak susah mendaftar jadi penulis tamu di situs-situs, apalagi sekedar bikin website dengan tampilan wah. Saya misalnya, bisa aja ngaku saya pemilik perusahaan jasa penulis lepas Yogezwary Words. Masalah benar atau nggak, emangnya ada yang mau ngecek?

Ada pula soal masalah hukum. Sering banget saya lihat di forum imigrasi atau kawin campur orang bertanya pertanyaan yang sebenarnya ada jawabannya di website resmi imigrasi. FYI, disini resminya nggak boleh lho mengisi formulir [imigrasi] dibantu orang lain. Di bagian akhir harus tanda tangan bahwa kita mengerti apa yang ditanyakan, plus nama orang yang membantu kita (kalau ada). Kenapa? Karena kita harus mengerti apa yang ditanyakan dan bukan ho oh-ho oh aja.

Anda pikir bagaimana saya bisa bertahan hidup disini? Gugel itu best pren saya banget. Mungkin 80% yang saya tahu disini itu berkat gugel. Waktu kita pindah ke Los Angeles, saya kok yang mengajarkan si Akang sistem bis/kereta disini. Padahal dia yang punya negara. Gugel juga yang mengajarkan apa hak dan kewajiban saya. Waktu si Akang mengumumkan bisa membuat saya dideportasi kapan saja setelah saya meninggalkan dia, respon saya cuma satu: Try me. Coba aja.

Gimana terus cara ngegugel yang baik dan benar? Latihan, latihan, latihan. Terus terbitkan rasa penasaran dan rasa kritis. Tetap objektif dan jangan cuma memilih apa yang ingin kita baca/ketahui, karena kebenaran itu nggak selalu indah ataupun nyaman. Si A dan B penulis di website 789 misalnya, cari tahu bagaimana bisa menjadi penulis disitu. Jangan telan mentah-mentah semua klaim yang ada di internet. 

Kalau anda baca portfolio online saya misalnya, semua perusahaan tempat saya pernah bekerja terlihat begitu keren dan glamor [#kibasrambut]. Ini saya nggak pake bohong lho, cuma pemilihan kata-katanya saja yang bagus. Mana berani saya bohong di internet, gampang banget soalnya ketahuannya hahaha. Tapi nggak berarti saya nggak bisa memolesnya. Tergantung si pembaca yang mau bersusah-payah mengecek dan cross check apakah yang saya tulis sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

Jangan ditanya soal scam. Setelah tulisan saya viral, banyak banget yang ngaku-ngaku jadi saya, bikin akun palsu, ngajak chat mesum. Stress nggak sih? Ada juga yang cerita dimintain uang sama pacar gantengnya yang nemu di internet. Saya pernah diajak chat oleh orang yang foto fesbuknya nyolong foto gubernur Moskow. Kayanya semua yang di internet itu sekedar tipuan gitu.

Balik lagi sih, kitanya mau belajar pintar nggak? Dulu kita nggih ndoro iya baginda raja selama berabad-abad, lalu iya meneer 350 tahun, masa nggak capek hidup terus diatur orang lain? Bersikap kritis itu penting untuk menemukan jati diri kita, untuk menentukan siapa kita. Sekali lagi, kritis yang objektif ya. Kalau kritis yang subjektif alias cuma mau menerima info dan ide yang sesuai, ya sama saja tetap di dalam tempurung.

Pulsa internet di Indonesia sayangnya memang mahal, dan koneksinya pun bikin stres. Percaya deh, nggak heran banyak bule yang mencari orang Indonesia. Kita sudah terlatih sabar dan nrimo oleh koneksi internet hahaha. Tapi jangan menyerah untuk menjadi cerdas, untuk tetap kritis. Batas-batas dunia telah luruh dengan keberadaan internet. Kita bukan lagi hanya warga negara Indonesia, kita pun bagian dari warga dunia alias global citizen. Sudah siap menerima peran ini? Kita bisa kok. Jangan takut.

Selamat ngegugel...

Search This Blog