AdSense Page Ads

Monday, June 19, 2017

Orang Orang Yang Terbunuh

Seorang remaja Muslim dibunuh Minggu subuh di Virginia, Amerika Serikat. Anak remaja ini baru pulang sahur bersama teman-temannya saat seorang pria tiba-tiba menyerang mereka. 4 orang teman-temannya berhasil melarikan diri, namun gadis ini tertinggal. Jenazahnya ditemukan pagi harinya, dan seorang pria berusia 22 tahun telah ditangkap dengan tuduhan pembunuhan.

Sebelum protes bahwa tidak ada beritanya, ada baiknya melihat screen shot yang saya pasang dibawah. Ada kok beritanya, bersanding dengan berita seorang ibu hamil berkulit hitam ditembak mati polisi karena menghunus pisau (atau gunting) terhadap polisi. Ironisnya, polisi ada di apartemennya karena ia yang memanggil mereka untuk melaporkan pencurian. Ini bukan pertama kalinya orang kulit hitam ditembak mati, sekali waktu bahkan seorang wanita berumur 19 tahun ditembak oleh seorang pemilik rumah setelah wanita ini mengetuk pintu rumah orang ini untuk meminta tolong setelah mengalami kecelakaan mobil.

Apa moral dari cerita ini? Bangsa Barat memang sialan gitu? Orang minoritas selalu ditindas? Nggak juga. Moral dari cerita ini adalah banyak orang 'sakit' di dunia ini. Ada orang yang dengan teganya menabrakkan mobil ke orang-orang yang baru pulang dari Masjid di London Senin subuh ini. Tapi tanggal 3 Juni yang lalu ada orang-orang yang menabrakkan mobil ke pejalan kaki di jembatan London yang terkenal, konon anggota ISIS. Tanggal 18 Mei, ada orang stres yang menabrakkan mobilnya ke pejalan kaki di Times Square New York yang super sibuk.

Kalau membicarakan bom, ada bom di Manchester, dan tiap Natal kita di Indonesia juga kayanya selalu ada ancaman bom di Gereja. Tapi Tamil Eelam di Sri Lanka juga nge-bom kanan kiri. Tahun 1996 ada bom di Manchester juga, tapi yang ini oleh IRA (militan Irlandia). Oktober 2016 3 orang pria di Kansas ditangkap karena ingin mengebom Masjid. Bicara stabbing atau penusukan, tahun 2016 ada orang yang sibuk menyerang orang di restoran dengan golok di Ohio, konon menyebut nama Allah. 31 May tahun ini ada orang yang menusuk orang-orang yang mencoba menghentikan tingkahnya yang menyerang secara verbal dua remaja yang salah satunya Muslim. Dan di tahun 2012, seorang pria di Cina menyerang 22 anak-anak di sebuah sekolah. Di tahun 2016 seorang pria Perancis ditembak mati di Bali setelah mengamuk dan membunuh seorang polisi.

Masih perlu bukti kalau begitu banyak orang 'sakit' di dunia ini?

Kalau kita fokus ke alasan, semua alasan itu bisa dijustifikasi/dibenarkan kok. Sebagaimana seorang pengacara yang sanggup berkelit dan membuat alasan agar tindakan kliennya bisa dibenarkan, begitu pula kita dengan sekelilling kita. "Biar aja, toh Muslim kebiasaan nge-bom kiri kanan", "Syukurin, Cina reseh sih," "Makanya, siapa suruh jadi kafir?". Yang sampai nggak ada hubungannya pun bisa dihubungkan. Berita orang terbunuh di pengeboman saat konser Ariana Grande, reaksinya "Trus kenapa? Begitu banyak orang Islam yang terbunuh di Palestina!" Berita orang Islam dibunuhi di Afrika, reaksinya "Trus kenapa? Begitu banyak yang sudah mereka bantai di seluruh dunia!" Terus aja sih kalau mau cari alasan.

Tapi kalau kita bisa mundur selangkah, kalau kita bisa bijak sejenak, coba deh kita berpikir. Coba lihat segala aksi kekerasan ini dari, yah, aksi tersebut, bukan alasannya. Orang normal ya, orang yang (syukurlah) masih punya nurani, biasanya lihat darah mengucur saja sudah mual dan eneg dan panik. Lihat orang sedih atau menangis, rasanya hati ikut merana. Mencubit anak atau menampar orang rasanya sudah berdosa sekali. Ini kok bisa, bukan hanya aktif melukai namun sampai menghilangkan nyawa orang. Di cerita Harry Potter, konon untuk membuat Horcrux agar hidup abadi caranya adalah dengan membunuh orang, karena membunuh orang adalah tindakan yang demikian mengerikan sehingga jiwa kita terbelah. Saya percaya ini juga yang terjadi di dunia nyata.

Nggak harus ekstrim membunuh lho, pikiran buruk dan kata-kata yang menyerang saja sudah cukup untuk mengikis kemanusiaan kita. Saya ingat dulu pertama kali saya mengenal dan mengucap kata 'F*ck'. Rasanya antara berasa Bad Girl banget, keren dan cool habis, dan anak nggak bener banget, yang akan terjerumus kedalam sex bebas narkoba dan dunia hitam. Dari dulu imajinasi saya memang suka ekstrim nggak jelas. Dua dekade (lebih sedikit) berikutnya, saya mengobrol dengan bos saya kadang dengan santwi terselip kata ajaib itu. Sudah biasa. Makanya saya nggak ngerti kalau ada orang yang tersinggung kalau saya pakai kata "F*ck", karena menurut saya biasa saja.

Sekarang, coba ganti kata 'F*ck' ini dengan makian: "Dasar Cina" "Dasar Kafir" "Dasar Onta", dan seterusnya. Ganti kata 'F'*ck' ini dengan hinaan, "Syukurin" "Rasain" "Semoga (isi yang buruk)". Kalau yang rajin mantengin kolom komentar di fesbuk atau berita online pasti sering melihat yang seperti ini. Atau yang "Wajar diperkosa, lihat bajunya", "Nggak bener sih, makanya mati," dan sejuta penghakiman lainnya. Kita pikir ini biasa, padahal dengan tiap penghakiman, dengan tiap hinaan, dengan tiap ancaman kekerasan dan kearoganan yang kita ucapkan, kemanusiaan kita semakin terkikis.

Nggak kurang dari J. K. Rowling sendiri yang mengecam sentimen anti-Muslim yang riuh dikobarkan media di UK. Jangan ge-er dulu yang Muslim, ini bukan semata karena benci Muslim, tapi karena laku dijual. Sama halnya media yang lebih tertarik ngebahas twitnya Donald Trump daripada detail program kerjanya. Di Indonesia biasanya laku soal Kristenisasi dan sentimen anti-Cina (plus PKI). Sebagaimana yang disadari penulis Harry Potter ini, sentimen anti- apapun sangat berbahaya. Kita nggak bisa mengharapkan dunia yang damai dan aman, kalau kitanya sendiri penuh kenegatifan dan berbahaya.

Begitu banyak ibu-ibu yang ngeshare di medsos bagaimana anak bisa sholeh/beriman, bisa sopan dan menghargai orang lain, pokoknya jadi anak ideal; sementara kita yang dewasa (baca: orang tua) masih jauh dari ideal. Kita yang penuh dengan amarah, yang percaya orang lain ingin melukai kita atau pantas dilukai, kita yang gencar mengkampanyekan "Asal waspada!!" disertai tuduhan tak berdasar dan menjual ketakutan, apa yang sebenarnya kita kontribusikan ke dunia?

Kita nggak harus setuju akan sesuatu untuk tidak bereaksi negatif. Menurut anda kepercayaan anda yang paling benar, ya udah sih, nggak perlu menyerang dan menjelekkan yang kepercayaannya berbeda. Ibaratnya saya yang percaya Harrison Ford pria terseksi di dunia, nggak usah tiap kali ada yang bilang mereka suka aktor lain selain bapak ini saya langsung serang dan saya jelek-jelekkan aktor tersebut, atau saya hina orang tersebut karena saya rasa seleranya rendah.

Bahkan untuk hal-hal yang anda tahu buruk pun, ada banyak cara untuk menyikapi dengan bijak tanpa kehilangan kemanusiaan anda. Anda bisa memisahkan diri dari orang yang terkenal pemabuk karena anda khawatir dia bisa berbahaya saat mabuk, misalnya; tapi nggak usah yang koar-koar "Idih si A itu kan pemabuk, amit-amit banget deh, mau jadi apa kedepannya, palingan bakal mati di selokan itu orang". Jangan membunuh atau melukai seseorang, baik secara fisik maupun mental, karena dengan demikian kita membunuh dan melukai diri kita sendiri.

Seberapa pentingkah ini? Yah, lihat sekeliling anda. Kita hidup di dunia penuh kecurigaan dan kebencian, di era yang berita buruk dan ketakutan dijual karena itu yang laku dijual, di masa dimana kita pun berlomba membaca berita tersensasional seperti memangsa bakso penuh mecin. Tidakkah anda letih? Tidakkah anda merasa terkucil dan sendiri? Apa yang anda lihat di wajah orang lain, harapan atau kecurigaan?

Sudah cukup sekian banyak raga tak bernyawa terserak. Sudah cukup sekian banyak pikiran dan perasaan teraniaya, yang kemudian membuka siklus baru dimana kita saling membunuh dan menyakiti. Sudah cukup. Kekerasan, apapun bentuk dan alasannya, tidak bisa dibiarkan. Pertama kita berpikir, lalu kita berkata, lalu kita berbuat. Sudah cukup. Jangan lagi kita membuat diri kita kehilangan kemanusiaan kita, jangan lagi kita menghancurkan kemanusiaan orang lain. Saya merindukan teduh damainya surga di muka bumi ini, di dalam hidup saya. Kalau anda?

Wednesday, June 14, 2017

The Girl of Fire


The mauve lipstick was erased from my lips
Gently wiped by the touch of your kiss
But it wasn't enough, oh no
I still wanted more, much more

The moment you touch me the fire in me burned
A raging inferno that I cannot quench
Suffocate me in such delight
More, please, more, more, more

You smiled shyly and I giggled nervously
Our fingers entwined and our body swayed
The music was loud and the beat was fast
Yet the world was standing still

Look into my eyes and see the hunger that rise
Softly touch my cheek and feel the fire that burns
I will devour all your love and I will still want more
I want you now. Later. Forever.

I am Yaoya that burns wildly for you
I'll burn down the city just for the sight of you
I will burn at the stake just for a touch from you
And everything else can be damned

Feel the fire rising inside me and glow in its heat
Let me show you what passion is and what desires are
The love that will consume all, energize all
A taste of heaven, a moment of eternity

Tonight, let the fire burn
The flame in my eyes, the inferno in my soul
The burning kisses we share all night
Let it burn, my love, let it burn

And as we turn into ashes and charred remains
As we destroyed ourselves and everything else
It matters not, not now or ever
Let the fire burn gloriously, untamed and undefeated

I am your fire and you are my fuel
So kiss me once more to set the world free
Disappeared in the heat of our feverish affection
Perish in the fury of our fiery embrace

Even as my end is near I will not regret it
Even as I stood there amidst the destroyed town
I will burn down a thousand town and more
Just for a touch from you, a sight of you

Love me, love, for I am bright
For I am beautiful and full of life
For I will burn eternally for you
For I am Yaoya, the girl of fire.

https://en.wikipedia.org/wiki/Yaoya_Oshichi

Monday, June 12, 2017

Saya Kasihan

Jadi tengah malam ada yang sms saya di Instagram, intinya menyalahkan saya karena nggak mempercantik diri saat suami selingkuh. Karena kan lelaki mahluk visual, senang lihat yang cantik-cantik. Err...

Orang ini sih kayaknya memang internet troll tulen, yang memang punya akun buat nyampah aja. Saya cek follower dan yang difollow masih 0 alias kosong, dan post nya baru 1. Bau-baunya dibikin khusus untuk komen tapi nggak mau ketahuan. Saya nggak marah sih sama orang ini, saya kasihan saja.

1) Saya kasihan sama orang model begini yang masih percaya kalau wanita cuma pajangan saja.

Selaku (calon) ibu dari anak-anak si suami, ada juga yang dipilih harus kompeten ya? Yang cerdas, penyayang, kuat, mau dan bisa diajak bekerja sama. Cantik sih memang enak dilihat, tapi pernikahan/hidup bersama kan ga cuma lihat-lihatan. Sudah waktunya kita melihat wanita sebagai ratu, yang kalau rajanya kenapa-kenapa harus siap mengambil alih kerajaan. Rajanya juga jangan kampret dan memperlakukan sang ratu sebagai selir belaka. Kita sebagai pasangan membutuhkan satu sama lain kok. Percaya deh, tampilan fisik saja nggak cukup untuk mempertahankan hubungan; dan kalau memang hubungan cuma karena fisik, awas-awas ditinggal untuk yang lebih menarik. Ini membawa kita ke poin 2.

2) Saya kasihan dengan orang-orang yang berpikir selingkuh itu hal yang hitam-putih.

Kalau lihat poin 1, memang ada pria/wanita yang mutlak mencari hubungan berdasarkan fisik saja. Tapi saya yakin kebanyakan hubungan nggak seperti itu. Harus ada ketertarikan antara satu sama lain sampai akhirnya memutuskan untuk bersama. Sebaliknya, selingkuh juga bukan suatu masalah yang bisa dibereskan dengan cepat seperti menenggak Pan Odol untuk sakit kepala.

Ada banyak faktor mengapa seseorang memutuskan berselingkuh. Tampilan fisik memang salah satu faktor, namun bukan faktor utama. Kesempatan dan kekuasaan lebih berperan, dengan kata lain ada celah dan mampu selingkuh. Kalau begini mau secantik atau sesempurna apapun nggak ngefek. Detail lengkapnya ada di buku saya yang akan terbit sebentar lagi, tapi untuk sekarang coba berpikir: mau sampai kapan harus berubah demi pasangan?

Kalau berubah yang baik demi kesehatan dan alasan higienis ya nggak apa-apa, atau berhenti dari kebiasaan buruk seperti belanja bra tiap ada sale (oops). Tapi kalau yang: "Dia lebih menarik", "Dia lebih penyayang", "Dia lebih jago ilmu agamanya", "Dia lebih kaya/karir lebih stabil" dan sebangsanya, males kan? Kalau memang nggak tahan dan nggak cocok yuk mari bye bye, jangan baru cari alasan pas ketemu yang lebih bagus. Lu pikir gue provider hape yang lu tinggal ganti nomor pas nemu paket yang lebih oke? Diselingkuhi itu menyakitkan lho, yang membawa kita ke poin 3.

3) Saya kasihan sama orang-orang yang diselingkuhi dan harus menerima "penghakiman" model begini.

Yang sms saya pasti nggak tahu saya masih jatuh bangun. Minggu lalu saya depresi nggak jelas karena 10 hari lagi peringatan setahun saya menemukan bukti perselingkuhan mereka. Saya sampai nyaris nggak bisa kerja, dan rasanya seperti mengulang kembali semua mimpi buruk itu.

Saya tahu saya beruntung. Saya punya cukup percaya diri dan common sense/akal sehat untuk tahu bahwa perselingkuhan ini bukan salah saya; bukan karena sesuatu yang "kurang" dari saya, melainkan yang "kurang" dari dia: kurang ajar. Ih saya tega. Maaf ya mantan dan mbak kalau kebetulan baca tulisan ini. Ini memang harus dan sudah terjadi mengingat kepribadian saya dan mantan.

Tapi kan nggak semua seberuntung (dan secuek) saya. Banyak orang yang diselingkuhi, pria atau wanita, yang berpikir itu salah mereka, bahwa mereka yang harusnya 'lebih baik'. Terbayang nggak mas dan mbak yang sudah terpuruk begini mendengar, "Lagian elu sih (isi sendiri kritikmu)", apa nggak jadi tambah terpuruk? Dihakimi bahwa kita penyebab diselingkuhi sudah sakit, apalagi dihakimi itu terjadi karena fisik kita, yang membawa kita ke poin 4.

4) Saya kasihan sama orang yang dituduh jelek dan menganggap dirinya jelek, termasuk saya...

Gimana ngomongnya ya... Saya cari lelaki disini mah gampang hehe. Jalan ke supermarket dengan tampang kucel baru bangun tidur juga masih ada yang nyapa, "Hello beautiful!" Tambah lagi saya dasarnya perhatian dan asik diajak ngobrol, yang sangat dihargai orang-orang disini. Nggak cukup cuma cakep doang. Jadi kalau dibilang saya ditinggal karena kurang cakep ya hmm...

Tapi kalau ini terjadi waktu saya masih di Indonesia, pasti berasa down banget. Tahu diri banget saya nggak sesuai standar mayoritas lelaki di Indonesia. Entah berapa kali pdkt, chatting, dan seterusnya, yang ujung-ujungnya ditolak. Sementara saya pun yang nggak sudi berubah. Kalau mau gue lebih langsing putih bermakeup etc sesuai standar lu, kualitas otak lu juga harus sesuai sama standar gue.

Belum lagi saya cuma laris di sms pas foto profile pake baju yang agak terbuka. Laris diajak check in maksudnya, baik terselubung maupun terang-terangan. Makanya akhirnya saya banting setir sama bule, kalau sama-sama free sex dan playboy sekalian cari yang bisa diajak ngobrol. Tapi tetap saja, tahu banget fisik saya nggak sesuai standar. Butuh waktu lama dan sekian banyak pujian hingga saya merasa nyaman dengan diri saya sendiri.

Lagi-lagi saya beruntung, orang lain belum tentu. Operasi plastik itu mahal lho. Dan kalau memang kulitnya gelap, apa harus di bleach pakai merkuri? Ijazah/pendidikan, kepintaran, kesholehan/ketaatan beragama, semua ini bisa diraih. Nah fisik sesuai 'standar' meraihnya gimana? Apalagi untuk hal-hal yang nggak bisa diubah seperti warna kulit, tinggi badan, tampilan muka, dan sebagainya. Udah? Hidup gue jadi harus selesai gara-gara ga sesuai standar lu? Kita seringkali nggak sadar bahwa omongan yang kita ucapkan itu bisa begitu menyakiti orang lain, yang membawa kita ke poin 5, poin terakhir.

5) Saya kasihan dengan orang-orang yang komentar seperti ini.

Tiap kali saya dengar komentar sinis menghakimi begini saya jadi sedih. Kasihan mereka, hidupnya nggak tenang sampai harus membikin down orang lain untuk merasa baik. Saya tahu karena saya pernah di posisi mereka. Siapa sih yang nggak pernah? Biasanya ngegosipin dengan heboh orang yang kita nggak suka, lalu tanpa tahu cerita aslinya langsung menuduh, "Tuh iya kan, abis dia emang nggak bener banget sih bla bla bla". Ini kelakuan SMP/SMA banget deh, yang sayangnya sering terbawa sampai dewasa.

Tapi terkadang saya menemukan fakta/sisi lain dari orang yang saya omongin, lalu saya jadi malu sendiri karena tuduhan saya salah. Pelan-pelan saya mulai stop menghakimi, atau paling nggak saya simpan di dalam hati dan bukannya disebar. Ini susah, karena tudingan ini biasanya terjadi kalau kita merasa tidak senang dengan orang tersebut, dan menjustifikasi perbuatan tidak menyenangkan kita dengan alasan orang tersebut yang bikin kita nggak hepi.

Kasihan banget kan jadinya orang-orang yang sibuk menebar kebencian dan penghakiman di sosmed? Orang-orang yang memaki dan mengutuk dan mengancam melakukan kekerasan, orang-orang yang penuh kesinisan dan ejekan, orang-orang yang sibuk menuding dan menuduh dan memberi pendapat merendahkan tanpa diminta atau bahkan tanpa kenal. Kebayang nggak gimana 'tenang'nya mereka tidur di malam hari, atau saat menjalankan keseharian mereka?

Dan ini bukan cuma di Indonesia. Di Amerika sini ada nenek-nenek yang dihukum penjara karena terus menghubungi ortu yang anaknya meninggal saat penembakan Sandy Hook dan bilang, "Lu tau kan itu cuma konspirasi? Lu nipu aja, anak lu sebenarnya ga mati kan?" Kebayang nggak perasaan orang tua yang kehilangan anaknya saat itu?

Buat kita yang 'waras', jalannya jelas. Punya hati sedikitlah. Pikir-pikir sebelum posting. Anda berhak menyuarakan pendapat anda, tapi hanya karena anda berhak bukan berarti anda harus. Terkadang diam lebih baik, apalagi kalau motifnya sekedar "Biar tahu rasa dia!" atau ego kita belaka. Buat yang 'sakit', yang nggak mampu bersimpati terhadap orang lain, yang kayak gini nggak usah dibantah. Anda bisa membantu mengkonter dengan menulis hal yang menyejukkan bagi orang yang 'diserang', setidaknya mengingatkan pembaca lain "Begini lho cara bersosmed yang beradab".

Saya nggak mau muluk-muluk "Oh belajar beradab biar Indonesia maju". Nggak lah. Yang begini sih di semua negara ada ya. Saya cuma mau ada lebih sedikit penderitaan di dunia ini, dan lebih banyak kasih. Kalau bersikap baik adalah pilihan, kenapa tidak?

Friday, June 9, 2017

(Re)Born In The USA

In my desperation for the upcoming doom to come (6 more days!), I was reminded of something else. June 15 was the day my relationship was over, but June 25 was the day when my other relationship started. It was the day I leave for, and consequently, arrived in the US.

What was it like to leave the only place you have known all your life, in exchange for something new? My longest flight till that moment was 1.5 hours flight between The Capital and my home island. I was never even been to another island, only those two. Yet there I was, sitting in the waiting room of an airport terminal waiting for my 24-hour flight to start. Excitement ran through me like a spring shower, deliciously refreshing but a bit shocking as well. I, the control freak, started to think the many ways that the trip or flight could get botched. What if they don't accept my visa, what if I don't have all the paperwork, what if they refused my entry and told me to go back home? 

It was absurd, and I know that. Listen girl, I told myself, you got all the paperwork you need, you are of clean background, and your husband-to-be is as clean as can be. You're good, I said, you're good. That calmed me a little bit. I thought of many scenarios that could happen and the best ways to deal with them, all pretty much ended up with, "Well, there's nothing I can do about that…" With that, I had no other option but to chill. 

I knew I got it all good, but it was still scary, very scary for me. People say, "If you are worried, that means you have something to hide,". That was definitely not the case with me. Maybe it's because back home things could still get wrong even when you have everything in order. Maybe because it's the USA and I've read far too many stories how TSA or immigration officer treats you like a criminal. Or maybe, just maybe, because I will end up 8,000 miles away from my comfort zone, with people that don't speak my language and probably don't care much about me. Either way, it was scary.

But then I saw my little backpack carry-on, and the rush of excitement was running through me once again. I have spent the last 3 weeks I had in Bali to prepare for my departure. The little brown canvas shoes with a white flower stitched on it - which I wore on that flight - was purchased during that period, along with a pretty pair of dark red flats with a bow on top for my wedding shoes, safely tucked in the checked luggage the size of another carry-on. A copy of Michael Crichton's "Jurassic Park" in English. Gifts for his family (I sounded like the Spaniards coming to find a new world lol). My wedding outfit: the tailor-made Kebaya (traditional lace blouse) and a silk cloth to wear as a skirt with matching sash. My asthma inhaler, 3 of them. The beautiful maroon trench coat that I purchased in Jogjakarta, solely for USA life. Those and very few clothes, that's all I have. And him. I got him waiting for me in the US. And a whole new life with him.

It wasn't until my second flight, when I depart from Taipei, that I realized the consequences of my action. As the plane took off from Taoyuan International Airport, as the lights below us grow dimmer and smaller till there is nothing to be seen, I cried silently on my seat. This is it, I thought to myself, there is no turning back. 5 hours flight to/from Taipei is doable, a lot of Indonesian people do that. The additional 12 hours flight to the US? Not so much. It seemed only the rich and the working can go to the US, I was neither. I've only realized this now, but back then I was very worried. What if I have to go home and I don't have money to go home? What if something happened to my family and I can't help them? What if I can't find a job? What if I have to do manual labor since I sucked at details and have no physical strength at all? For the first time in my adult life, I will be fully relying on someone, and that scared me. And yes, being 23 hours flight away from your home will pretty much turn you into freak out mode.

The first thing I saw when we start the landing process, was the 405. It was amazing. I have never seen any road as large as that one. I mean how many lanes were there, 6 or 8? My fears and worries gladly took the back seat as my curious instinct kicked in in hyperdrive, absorbing every detail and every sensation. This is it, I told myself, USA. I would never, ever thought that I'd be able to come to the USA, let alone to (possibly) stay there. I wouldn't be able to afford it. At the same time, I had thought I will never, ever get married. I simply was not attractive enough. Yet there I was, waiting in the immigration line at LAX. The two things that I thought will never happen, would happen almost simultaneously. It was madness. It was folly. But I'm glad I did.

The hours and days after were times of discovery. I discovered that immigration officers can be cool and efficient and friendly, as I glide flawlessly through the checkpoint, right to the arms of my very surprised husband-to-be who just arrived with a handful of roses. To this day he still accused me of cutting through the line, since nobody can go pass immigration that quickly. Hey, I look innocent, what can I say? I discovered the giganticness of US freeway system, or at least the 405. I discovered that an IHOP entree is large enough to feed a family of 4. I discovered that Katy Perry was probably lying about hot California girls since it was freaking cold. I discovered that yes, there can be fog on the beach in morning time (what blasphemy!). I discovered that cars and vehicles are frighteningly fast, and since everything is so far apart (I lived in Huntington Beach that time), you are stuck there without a car. I discovered that I hate being not in control my own life: no scooter, no permanent ID (yet), no money, no job.

But I learned and adapt quickly. I learned about the transportation system. I got a birth control implant from Planned Parenthood. I visited places like library all on my own. We move to another city 2 months after I arrived, and I learned some more. I learned to master the art of grocery shopping, and with that, the art of cooking. I went and got my state ID by myself. I apply for my conditional green card, and afterward, my social security number. I looked for volunteer jobs. I joined Meetup groups and meet new people. Everything was new to me, and even the sight of different nuts on an autumn sale made me squeal in excitement. Drinkable tap water was life changing, and so does the notion that nutcracker doesn't have to be in the form of a soldier. 

Looking back, it was a girl who left Indonesia almost 4 years ago. Despite her age, it was a young girl who excitedly prepares herself for the trip of her lifetime, who left her home filled with hope and filled with love, a naïve being who believed everything will be perfect. It will be a grown-up woman who'll return home for a visit. A woman who have seen a lot, experienced a lot, and matured from what had happened. A woman who understand more about love, and who knows how to love herself properly. Being in the USA not only taught me about myself and about life, but also about the world itself. The barriers around me were torn down, both in my mind or through the accessible information system. I understand more, and consequently, I love more. I did not evolve, I was reborn: better, stronger, smarter. And to that, albeit all the pain and tears and sadness I went through, I thank my stars. Hello, Ary 2.0. I love you.

Wednesday, June 7, 2017

Melibas Kebencian

Ada orang disini yang pasang billboard tentang Islam. Saya padahal bukan Muslim, tapi sakit hati bacanya. Sama sakit hatinya kalau baca atau mendengar orang menjelek-jelekkan orang keturunan Cina atau umat non-Muslim, atau golongan-golongan lainnya seperti Ahmadiyah, Konghucu, atau bahkan PKI. Rasanya saya seperti dicekoki dengan air comberan yang berbau busuk. Sudah cukuplah dengan segala kebencian ini. 

Jangan buru-buru menuduh ini karena pihak A, B, atau C pada dasarnya memang penuh kebencian, atau karena mereka yang duluan menyakiti dan/atau menzholimi, atau berbagai alasan lainnya. Kalau hobi baca berita global ceritanya sama semua kok, semua pihak bisa jadi kejam dan penuh kebencian, semua golongan bisa jadi militan, semua golongan bisa merasa grupnya yang paling benar dan lebih baik dari orang lain. Hindu dan Budha konon agama damai, tapi masih lho ada grup-grup militannya. 

Soal tuduh-menuduh begini juga bukan akar permasalahan, namun sebuah gejala. Nggak usah deh kitab suci agama, buku Harry Potter pun kalau mau bisa saya argumenkan sebagai buku yang mengajarkan kegelapan dan menyembah setan dengan mengambil bagian-bagian dari buku tersebut. Sebaliknya, saya juga bisa bikin seolah buku itu anugrah terbesar umat manusia, lagi-lagi dengan mengambil cuilan-cuilan dari buku tersebut. Semua interpretasi ini kembali ke orang-orang yang mendengarkan argument saya, dan ini sebenarnya akar permasalahannya: kita nggak kenal satu sama lain. 

Saya nggak yakin si bapak yang pasang billboard ini punya teman orang Islam, karena orang Islam yang saya tahu, baik di Los Angeles maupun di Indonesia, nggak ada yang melakukan hal-hal yang dia tulis. Boro-boro Syekh Puji yang mengawini anak dibawah umur, Aa Gym yang kawin lagi dengan wanita yang lebih muda saja banyak yang protes. Kemungkinan yang dia tulis di billboard ini berdasarkan apa yang dia riset/baca di internet, yang ke-valid-annya sangat diragukan, tapi karena 'cocok' dengan apa yang ingin ia percayai ya yuk mari ditulis. 

Sebelum lompat ke 'Konspirasi media', penting untuk tahu kenapa saya selalu heboh mengklarifikasi hoax atau memaksa teman-teman saya bertanggung jawab akan apa yang mereka sharing/sebarkan. Media jurnalisme resmi, yang benar-benar resmi punya pemimpin redaksi badan hukum dan sebagainya, wajib menulis sebenar-benarnya dan harus mampu mempertanggungjawabkan apa yang ditulis serta mengecek kebenarannya sebelum diterbitkan. Minimal mencoba mengecek kebenarannya. Seperti pepatah disini: "If it's too good to be true, it usually is", kalau kedengarannya terlalu muluk, biasanya memang iya.

Masalahnya banyak dari kita, dan kayaknya termasuk si bapak ini, menggunakan internet untuk mendapatkan info yang ingin kita ketahui, bukan yang harusnya kita ketahui. Paling gampang deh, waktu Pilkada Jakarta kemarin semua teman yang pro-Ahok sibuk posting/sharing berita-berita pro-Ahok, dan yang anti-Ahok melakukan sebaliknya. Yang dari sumber berita resmi seperti Detik, Kompas, Tempo, dan sebangsanya bisa dihitung dengan jari (kalau ada), sisanya dari website blog/opini yang semua bisa menulis tanpa perlu meriset atau berdasarkan fakta. Walhasil yang benci Ahok tambah benci, yang benci anti-Ahok tambah benci, dan si Bapak ini yang berpikir sang Nabi itu pedofil.

Satu hal yang saya pelajari saat jadi imigran disini adalah pentingnya bersikap terbuka, dan tidak pentingnya untuk merasa "Ini gue lho!". Saya ingat [mantan] anak tiri saya yang bertanya kenapa hidung saya aneh bentuknya. Mau marah juga nggak bisa, soalnya dia kan memang belum pernah melihat hidung pesek seperti saya hahaha. Sebaliknya, saya mengobrol dengan orang disini juga nggak yang, "Gini gini, lu harus ngerti gue ini siapa, dan lu harus menghormati siapa gue," lalu tersinggung mampus saat mereka nggak ngerti atau salah-salah kata. Mereka mengucap Indonesia saja susah gitu lho. Saya 4 tahun hidup disini bisa kok ngobrol tanpa mention SARA. Kalau dia orang yang dasarnya reseh, ya udah sih saya nggak ajak ngobrol lagi; ga usah repot.

Tapi banyak dari kita yang merasa itu nggak cukup. Banyak dari kita yang merasa segala sesuatu harus sesuai dengan apa yang kita percayai, dengan apa yang membuat kita nyaman. Bilamana ada yang membuat kita merasa tidak nyaman atau tidak sesuai dengan apa yang kita percayai, maka ancaman tersebut harus dihilangkan. Itulah kenapa orang-orang memilih membaca berita yang membuat mereka nyaman, hoax atau misinformasi peduli setan. Akhirnya pada sibuk sendiri terbelenggu kepicikan diri, yang bilamana terjadi pada individual/orang yang dasarnya memang agak 'sakit', dapat menjadi alasan untuk menyerang orang lain. Pelaku penusukan di Portland, pelaku penusukan di Ohio, bom bunuh diri di Bali, pelaku penembakan kuil Sikh di Wisconsin, ini semua orang-orang 'sakit' yang merasa terpanggil (baca: terjustifikasi) untuk melakukan semua ini karena apa yang mereka putuskan untuk percayai.

Kalau ini di komik-komik atau kartun Jepang, gambarannya pasti Bumi yang diliputi kabut hitam tipis yang semakin lama semakin pekat. Itu kebencian, mas bro dan mbak sis, itu musuh kita yang utama. Bukan grup A, B, dan C, tapi kebencian. Kerakusan juga, karena kerakusan yang akan menyebabkan kebencian bertambah parah. Ketidak-adilan sosial juga disebabkan kerakusan, yang pada akhirnya menyebabkan kebencian. Orang lapar lebih mudah marah dan emosi, bukan?

Yang bisa menghapus kabut hitam ini adalah pengetahuan. Saya nggak bisa membenci Islam karena saya tahu teman-teman saya yang Islam nggak seperti itu. Tapi kalau saya nggak mau tahu, kalau saya menutup diri saya, atau kalau teman-teman saya yang Islam nggak mau terbuka dan/atau nggak mau bersikap baik pada saya karena saya kafir misalnya, wajar saja kalau saya jadi berpikir orang Islam itu nggak banget. You can't hate something that you love. Kamu nggak bisa membenci sesuatu yang kamu sayangi.

Semua teori konspirasi boleh beredar, tapi itu nggak akan mengubah fakta bahwa perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Be good, be kind. Jadilah orang yang baik, yang welas asih. Jangan merebut hak orang lain, termasuk hak untuk tersenyum, hak untuk merasa aman, hak untuk beribadah. Dan kalau anda ingin apa yang anda percayai dicintai orang lain, jadilah gambaran hidup apa yang anda percayai. Model-model Victoria's Secret semuanya super seksi karena perusahaan ini ingin brand/merk mereka terkonotasi dengan imej 'seksi'. Anda ingin apa yang anda percayai dianggap mulia dan paling baik? Bersikaplah seperti itu. Nggak ada gunanya anda marah dianggap jelek bila kelakuan anda memang membuat resah orang lain. Asal tahu saja, billboard si Bapak inilah kenapa orang-orang pro-Trump disini banyak diledek sebagai sampah masyarakat. Action speaks louder than words. Aksi berbicara lebih nyaring daripada sekedar kata-kata.

Jadi sudahan ya saling benci-benciannya. Yuk belajar pintar sedikit, rajin sedikit memilah informasi. Yuk juga belajar berintegritas sedikit, yang mengedepankan kebenaran dan bukan apa yang membuat kita nyaman. Belajar kritis sedikit dan mencari tahu bagaimana dunia itu sebenarnya. Dunia akan kiamat sebentar lagi, karena ketidakpedulian kita dan kebencian kita adalah bom waktu yang akan melumatnya habis. Yuk, kita non-aktifkan bom ini bersama-sama.

Tuesday, June 6, 2017

10 More Days

I can't breathe. I am frantically kicking and grasping my surrounding, trying to not sink deeper. But it is no use. I am drowning. My lungs burn and my heart is ready to explode. With every breathe I take I am drowning even more; it pervades my throat and gag me, choke me. I try to call for help, but no one can hear me. Please. Please help. Please.

You think after almost a year I will get over it. Apparently I have not. The horror and the pain is still as fresh as it was almost a year before, maybe even worse. 10 more days before the D-Day, before I found out about him and her. If anything, it feels a lot worse. Back then my Fight or Flight reaction dominated my mind. Surviving in US took priority: finance arrangement, furnishing my apartment, divorce proceeding. After that I was busy pursuing my 'new' life, always running and running, achieving one accomplishment and then another. I moved so fast that despite my occassional bawling and anger now and then, I don't really stop to let everything sink in. And now it came back with a vengeance.

It is a complicated feeling because I love my life. A lot. As I am writing this I was also busy joking with a fellow bus buddy about going to Tijuana. He teased me mercilessly about my fear of getting stuck at the border, and we were laughing heartily about that. I would dance all night and play games all day. If I was told this is the life I will have in exchange to the end of us, I might still go with it. Yet I am still getting drowned in the emotion, the tears still fell on my cheeks. I am still looking at the calendar with heavy heart, as if counting the days I had left to live.

I have tried to snapped out of it, heaven knows I've tried. My social agenda in June/July is packed. I asked a friend to stay with me during the weekend so I have someone to hold. I call another one, over and over and over. We talked nonsense on the phone, but my friend knew what lies hidden beneath the jokes: "Don't leave me. Don't let me be alone. Stay with me." All I want right now, all I need is someone to hug me tight and let me cry on his/her shoulder, while he/she gently pat my head. All I need is to feel safe once more, to know I am not alone.

But I can't. It has been going on too long. I can't keep depending on other people. They might think I am crazy, or worse, leave me. Which is a laughable idea, actually. It'll take a lot, and I mean A LOT, for my closest friends to walk away from me. But that doesn't mean I should take them for granted and keep burdening them with this (temporary) insanity. I am a good girl. Good girl doesn't make trouble for herself or other people. I am a good girl. I have always been a good girl, have I not?

Hidden beneath my layer of anger and disgust towards him was that question: "I have been a good girl, so why did you go?" It was a question unspoken, quickly killed with a snap of "Oh silly girl, you know why!" everytime it passed my mind. And I do know why. The logical part of me understand everything. The logical part of me watches everything unfold and acknowledge the pain of every one involves. The logical part of me knows that this is how it should be, there is no other way.

Yet still I ask: "Why did you do it? I love you." Because I did love him. With all my heart. I did give him my everything: my love, my heart, my trust. I thought we could make it through the end of our days. We couldn't even make it to our 3rd anniversary. And I loved him so much. I couldn't even say it out loud before, because people will think I am stupid if I said I love a man who treated me so bad; or worse, think that I don't respect what they did for me or respect myself. That's why I played it cool, I downplayed it by acting strong and laughed at his life choices. I joke about things and rolled my eyes when talking about him. I wasn't strong or brave enough to admit it then, but I am now. I loved him.

I lost my love that day, both him and the love I had in me. It was a beautiful love. I nurtured it and guard it with all my might, yet it was killed that day. Logic can't help me now in my state of grief. There is no amount of reasoning that can help me snap out of the emotion that binds me, I have to snap free myself by letting my emotion run its course. It helps to talk/write about it, as it enables me to see it from a different perspective. Right now I have gain (some of) my composure back, and I understand what I really want is for none of this to happen. I want his love that's only for me. I want the beautiful love that I have for him. Or, at the very least, for the love to not be thrown out so casually and so mercilessly.

I can't have it, though. Even if I can travel through time, I won't have it back. Both he and I only acted true to our personality and even the current outcome, devastating as it is for us, is probably still the best and the kindest. It doesn't matter how wonderful or how strong one's love is, if it doesn't complement the other person it still can't and wont work. All that is left for me is to properly weep and grieved for the killed love, the tears and sadness that I have refuse to acknowledge for the past 12 months. 

I have wore my pride as an armor to protect the weak woman inside. Now that the woman is strong enough, it is time to put the armor aside and let me gathered the remains of my love. It is time to laid her to rest and let her nourish the soil of my soul. Love, like energy, can not be destroyed. It can change into different forms or stay inert until the right time comes, but it can never be destroyed. I loved him, and it's ok to say it out loud. It is okay to curl in a fetal position on my bed and cry myself to sleep over it. 10 more days to go. It's ok. It's ok.

Friday, June 2, 2017

Unashamed With Love

I saw an old picture of me on Facebook, taken about a year ago. I was dining at The Perch, a swanky rooftop bistro in Los Angeles, drinking a glass of martini called The Writer's Block. I remember how lonely and sad I was that day, and how I finally get the term 'drink your sorrow away'. But that woman didn't know, her worse was yet to come.

In about two weeks after that day, she'll find out her husband's infidelity. She'll become the mad woman, the scorned wife. She'll have many altercations with her soon-to-be ex-husband, each that will cut her deep regardless how savage and how upper-handed she was. She'll be happy again, she'll love again, and she'll find her true self. But her broken glass slippers will cut and mangled her feet, and even a year after, she'll still find shards in her feet, and in her heart.

I have been told so many times to let him go. You deserve better, they say, you deserve to be happy. And I am. I am happy. I spent two nights in a row playing board game, laughing my heart out. I sleep whenever I want to, and cook any meal I want. Bus drivers who know me will honk and wave cheerily at me when they passed me on the road, and the regulars greet me happily when they saw me on the bus. I am prettier, healthier, and more confident these days. Yes, I am happy.

But then the memories came crashing in, and suddenly I will find myself in an emotional lockdown again, much too disturbed to move or to save myself. Even though I forgive him, even feeling sorry for him, even though I know what happened was inevitable, I still can't escape the pain of the past. No matter how many times I said to 'Let it go', it still drives me insane at times like now. March is the month where he crossed the line and set the separation in motion. May is the month he cheated on me. June is the month I found out about his infidelity. I still remember each date and what happened on the day of, and as those days came closer this year I found myself in the same emotional turmoil I faced when it happened last year.

Am I being stupid? I keep telling myself that as I write this, silently crying my heart out inside my cubicle. He's not worth it. I don't want him back. I am happy with who I am right now. It was not a good relationship. I deserve better. I worth more than what he thinks of me. But then why this heart is hurting so bad?

Because you can't put a price on love, that's why. Because regardless of how catastrophic the end of the relationship was, in the beginning, there was love. You can't logic this one out and wiped out the memories and feelings you have in an instant. It doesn't mean you still love the person, because I know I don't. Care for him, maybe, but I have no desire of having him in my life anymore. Not loving somebody anymore doesn't mean you can easily forget or let go of what you and that person have in the past. It is not a sign of weakness. It is a sign of how strongly you feel about that person, and it's perfectly fine.

I have tried to put everything behind, to not remember the butterfly in my stomach when I met him, or how good it feels to be in love with him. I have tried to not be angry at him every time I saw a loving post or two I made a few years back, courtesy of Facebook's "On This Day" app, or feeling duped and stupid for believing in him. I know it wasn't anyone intention to end up like this, it just how life is. Yet still I typed the silly question to my friend, "I am a good girl, right? A little crazy and can be difficult, but still a good girl, right?". 

I was mum for so long, even though my closest friend knows what's going on. Beneath the laughter and the energetic attitude, there was a woman who was still trying to heal her wounds. I was not crazy for loving him. I was not weak for staying with him and understanding him. I am not embarrassed, I shouldn't be embarrassed to admit I am still hurting. It became pathological if it consumed my life, but seeing what a jolly person I normally am, I'd say a relapse now and then is still understandable. Despite the predicament that we're in right now, I used to love this man, dammit.  

Interesting days will come when my Facebook feed shows pure love and excitement in the first two years we're together, the beginning of coldness in the third, and the full-blown madness on the fourth; all on the same date, just different years. Horrible days will come when my Facebook feed shows the madness I felt when I found out his affair, and when I tried hard to cope-up with it. Painful days will come when my Facebook feed shows me the process of us getting a visa together, and I will quietly ask myself again "why?" even though I know the answer. 

There was no 'why'. It just happened. Sometimes relationship didn't work out. Sometimes love is just ain't enough. I've been hurt enough that I refuse to be hurt again by being embarrassed about how I feel. I loved him, and there is nothing wrong with that. I don't love him now, but that doesn't mean I have to erase everything about him. I can't, even if I manage to destroy and erase every single thing that linked me to him. What happened between me and him is a part of my life. If I still feel sad about it, if I still feel hurt, that is fine. It shows how much feeling I have for him. After all, he was, borrowing his words, my hopes and dreams. Love is not something to be ashamed of.

I would cry a bit more, I would weep in my sleep, but eventually, the wound will heal and the scar will beautify me, instead of hurting me like it is right now. I can take my time. There is no point of rushing it anyway. As a friend nicely pointed out: "Stop rebounding on your rebounds". I need to let it heal completely so I can be whole again, instead of becoming a patchwork doll, or one with the needle(s) still left inside that'll prick the next person that hold me tight. It took me 4.5 years and another woman to leave him physically, it's perfectly fine to take, say, another 4.5 years to leave him mentally. I'll get there someday, when the wound stop hurting and the tears stop falling. This year is obviously not the time, but I'll get there someday.

Wednesday, May 31, 2017

Rejeki Anak Baik

Kemarin saya kongkow bersama satu grup mahasiswa S2 dari berbagai negara. Pada masih muda dan cihui banget lho, bahagia jadinya. Eh nggak, nggak, bukan begitu maksud saya. Saya takjub saja melihat dimana saya berada sekarang, dan orang-orang disekeliling saya.

Yang bikin saya betah di Amerika adalah, orang-orang yang saya temui kebanyakan nggak nge-judge, nggak menghakimi. Ada sih pastinya, tapi kebanyakan orang-orang yang saya temui di social setting/acara iseng nggak reseh. Saya bisa datang ke acara yang isinya semua orang yang tidak saya kenal, dan tetap pulang dengan hati bahagia setelah puas haha hihi semalam suntuk. Nggak ada yang ngeliatin dari atas sampai bawah dengan mencibir seolah saya paling nista sejagad, nggak harus juga saling berusaha membuktikan siapa dirinya (baca: pamer barang/ pendidikan/ pekerjaan/ status sosial). Nggak rempong dunia deh.

Tentunya yang somse (sombong sengak) juga ada, apalagi kalau mereka memang punya alasan untuk somse. Biasanya sih saya nggak nemu yang begini di acara-acara yang saya temui, tahu diri juga sama penghasilan soalnya, jadi ke acara yang sesuai kantong hihihi. Tapi contohnya para mas-mas S2 berondong ganteng itu, mereka keuangan mapan jaya lho tapi nggak rese sama saya. Kenapa juga harus rese? Kan kita semua memang setara, bukan?

Rasanya nikmat bebas merdeka banget lho diperlakukan seperti manusia yang setara. Padahal kalau dipikir-pikir siapa saya, admin kantoran gaji UMR yang mobil saja tidak punya. Boro-boro pakai tas mahal, barang paling mahal di badan saya hanya kalung emas pemberian Ibu saya. Kuliah juga cuma S1, dan baru di Amrik 4 tahun, dengan bahasa yang masih blepotan. Jadi ingat waktu teman kuliah mantan pacar saya pulang liburan dari program S2 di Australia, yang mendadak lupa Bahasa Indonesia. Apalah saya coba???

Saya, ternyata, adalah Ary Yogeswary. Paling nggak begitu menurut orang-orang disini. Bukan admin kantor miskin dengan apartemen sebesar kamar kos-kosan di daerah kampus, bukan imigran yang kesini dan numpang hidup dengan nebeng/memanfaatkan suaminya (baca: gold digger/cewek matre atau sekalian mail-order bride). Saya adalah Ary Yogeswary, yang seru kalau diajak ngobrol, yang selalu siap diajak 'gila', yang ceria dan menyenangkan. Sudah, itu saja. Nggak penting berapa gaji saya, apa pendidikan saya, dan seterusnya. Yang penting saya sebagai pribadi. Mereka nyaman dengan saya, ya sudah cukup sekian.

Lagi-lagi, ini saya beruntung selalu menemukan orang-orang yang seperti ini. Banyak juga kok yang menghakimi nggak karuan. Mantan suami saya sempat terhenyak lho (jyaaaah… bahasanya) saat melihat mal-mal di tengah kota Jakarta. Maklum, sebelumnya di Indonesia cuma ke Rumpin (di dekat BSD) dan Pare-pare. Jadi dia dengan manisnya berpikir Indonesia itu lebih 'kurang' daripada daerah asalnya. Saya bawa ke Grand Indonesia dan Senayan City dong. Cihui. Biar gaji rupiah tapi kelas nongkrong mesti tetep asoy. #kibasrambut

Nah, masalahnya, yang menghakimi nggak karuan ini lebih sedikit daripada yang asik-asik aja. Ngerti banget kalau agak pilih-pilih saat PDKT atau di-PDKT-in, tapi kadang di Indonesia baru ngelirik aja udah dicemberutin. Dianggap 'kurang' sedikit (kurang kaya, kurang cakep, kurang cihui), langsung pasang muka "You can't sit with us. Loe ga boleh duduk dekat-dekat gue." Berapa banyak sih dari kita yang bisa bilang, "Oh gue kenal dia di kawinannya ABC, kita ngobrol bareng dan ternyata seru banget!" Jujur saja, setahun hidup sendiri disini saya punya jauh lebih banyak teman daripada 5 tahun hidup di Denpasar.

Buat saya, memandang rendah, menghakimi, menilai seseorang itu sangat nggak manusiawi; apalagi untuk hal-hal yang diluar kendali kita seperti status sosial, pendidikan, atau modal ortu di dompet. Biar sepatu saya cuma diskonan Target (Departement Store sekelas Matahari), tapi bukan berarti saya nggak bisa bikin kamu merasa nyaman, bukan berarti saya nggak bisa ngebantuin kalau kamu lagi butuh bantuan. Dan saya rasa orang disini mengerti itu. Nggak penting apa yang saya pakai, yang penting apa yang kamu rasakan saat bersama/kongkow dengan saya.

Kalau mau menggali lebih dalam lagi, ini juga terkait asas manfaat. Saya ingat waktu di Indonesia kadang mendengar "Wah, enak dong elu temennya [sebut nama anak pejabat/artis/dan sebagainya]". Tapi kan dia temenan sama anaknya, nggak ada urusan sama emak/bapaknya, batin saya. Makanya orang-orang yang status sosialnya lumayan tinggi semua orang ingin jadi best pren, tapi yang biasa aja tolong duduk manis di pojokan. Terus yang orang biasa, muka biasa, nggak ada faedah secara sosial, sana kelaut ajah…

Saya kedengarannya tega, tapi ini benar lho. Contoh paling nyata adalah saat saya kuliah dulu, yang banyak teman-teman sejawat mencibir saat saya getol main ke fakultas ekonomi. Maklum, konon cerita kita anak FK kan yang paling te-o-pe. Tapi orang-orang FE inilah yang membantu saya lulus mata kuliah statistic dengan gemilang, disaat rekan-rekan FK saya sibuk "Wat de pak is this!!!" Kita nggak pernah tahu bagaimana seseorang akan bisa membantu kita didepannya, jadi nggak ada salahnya selalu bersikap ramah dan manusiawi terhadap orang lain. Jangan juga cari teman hanya karena ada perlunya. 

Ini omongan basi yang diulang berkali-kali, tapi hidup sendirian hampir 13 ribu kilometer jauhnya dari rumah membuat saya benar-benar mengerti akan hal ini. Orang-orang di bis yang mengajak saya mengobrol, teman kongkow yang walau ketemu hanya sekali dua tapi tetap heboh saat tak sengaja bertemu lagi, rekan kerja yang ga pake #kibasrambut saat beli mobil atau rumah baru. Kadang-kadang kita nggak perlu alasan untuk menolong atau bersikap ramah. Salah. Kita nggak pernah perlu alasan untuk berbuat baik. Just do it. Lakuin aja.

Tapi saya nggak akan senyaman ini kalau sayanya minta disambit sendal. Saya nggak akan senyaman ini kalau saya yang asas manfaat, kalau saya yang asik ngejudge/ menghakimi orang, kalau saya pilih-pilih kapan dan dengan siapa saya akan berlaku beradab. Apa yang kita terima biasanya sih apa yang kita berikan. Tuhan Maha Adil, kan? Tinggal kitanya yang sadar diri atau nggak hihihi.

Di dunia yang penuh pertentangan (karena jualan permusuhan itu lebih laris daripada jualan gorengan), sangat mudah untuk melabeli orang lain dan berpikir kita 'beda'. Dan ini harusnya nggak terjadi. Minggu lalu 2 orang meninggal karena bereaksi terhadap seorang gila yang memaki-maki 2 wanita Muslim di Portland, Oregon. Kalau mau dirunut lebih jauh, saya bisa menikah dan hidup disini karena di tahun 1965 pengadilan Amerika memutuskan pernikahan antar ras bukanlah tindakan kriminal. Dan di tahun 1955, satu dekade sebelumnya dengan Rosa Parks sebagai ujung tombaknya, diputuskan bahwa pemisahan tempat duduk antara kulit putih dan kulit hitam tidaklah konstitusional, tidak boleh terjadi.

Nggak ada lho yang maksa mereka mengambil keputusan itu. Di jaman 1950-1960an jumlah penduduk kulit putih itu 90%, mayoritas banget. Negara-negara lain di dunia juga belum seperti sekarang yang lantang menuntut penegakan hak asasi. Bisa saja saat itu pemerintah dan penduduk mayoritas pura-pura bego, toh nggak ada faedah langsungnya. Tapi mereka nggak lho. Mereka malah memperjuangkan hak-hak minoritas karena, yah, itu hal yang harus dilakukan. Keadilan bagi semua. [Asal tahu, ada lho yang membela dan kekeh mempertahankan pemisahan ras ini berdasarkan dalil agama/kutipan ayat Alkitab, dengan alasan itu percampuran ras sangat tidak Kristiani].

Hasilnya? Negara mereka maju, karena warga negara terlindungi haknya. Rasisme sih tetap ada, kita sayangnya belum menemukan vaksin untuk kebodohan dan ketidakpedulian, tapi prinsip dasar bahwa setiap orang setara itu sudah merasuk dalam diri mereka. Mau membangun infrastruktur atau program ini itu pun yang harus melibatkan dan demi seluruh masyarakat, bukan pilih-pilih tergantung mana yang demo paling kenceng. Dan itulah kenapa si janda kembang ini (jyaaaaah) bisa hidup aman dan damai di Los Angeles.

Semua berawal dari kita. Sudah mampukah kita melihat seseorang sebagai siapa dirinya, ataukah kita masih silau dengan 'bawaan'nya? Atau lebih parah lagi, berasa jadi asisten nggak resminya malaikat maut dan sibuk menentukan siapa masuk surga dan siapa yang nggak? Hidup tuh cuma sebentar lho. Be happy. Berbahagialah. Perlakukan orang sebagaimana kita ingin diperlakukan, dan jangan mendahului Tuhan dengan sok tahu menentukan faedah orang. Itu luar biasa lho pahalanya, karena tiap kali saya berdoa saya selalu nggak lupa berterimakasih pada Tuhan akan kebaikan orang-orang ini. Senyuman anda, keramahan anda, sikap anda yang tak memandang rendah orang lain, itu semua akan mengubah hidup orang lain, dan akan mengubah dunia.

Jadi, sudahkah anda bersikap ramah dan manusiawi hari ini?

Update: barusan dikasi kupon bis gratis sama sopir bis huhuhu. Sebelumnya sopir bis jurusan lain (yang kenalan saya) sibuk dadah dadah saat lewat. Bener deh, saya nggak pernah merasa sendirian disini. It pays to be nice. Jadi orang baik itu banyak rejekinya.

Monday, May 22, 2017

Surga Di Muka Bumi

Di Amerika sini saya belajar apa itu 'kindness' atau kebaikan. Dari awal saya sampai disini, sampai hampir 4 tahun saya menetap, begitu banyak orang yang menebar kebaikan untuk saya. Kayaknya hidup saya disini selalu dikelilingi senyuman dan tawa hangat. Orang di komplek apartemen saya, orang yang Kebetulan bertemu dijalan, semua dengan perjuangannya masing-masing, semua dengan senyum dan sapaan ramah masing-masing.

Inilah yang bikin saya jadi pusing tiap kali membaca timeline fesbuk teman-teman Indonesia. Rasanya seperti menonton film horror murahan yang hanya pamer paha dan dada (kebetulan syutingnya di ke-ep-ce), menghibur nggak bikin frustasi iya. Semua berlomba-lomba menulis tulisan paling wah, paling gres, paling bombastis demi rating, like, dan share. Entah demi materi maupun demi terlihat 'pintar', semua menebar berita dan opini dan opini dibalik berita, tanpa memikirkan apa dampaknya. 

Diantara semua clickbait (Baca: headline/judul menggantung yang membuat anda penasaran dan mengklik untuk membaca isi berita yang biasanya nol besar alias nggak sebombastis judulnya) yang dishare dengan patuhnya, seringkali bahkan tanpa membaca penuh isi berita, ada ketidak-perdulian yang mengakar, ada ketidak-percayadirian yang tersembunyi, ada kemarahan dan kebodohan yang membelit hebat.

Siapa kita sebenarnya? Kenapa kita begitu marah, begitu bodoh? Kenapa kita menurut akan apa saja yang tertulis di media yang tidak memiliki kredibilitas, menyalurkan emosi kita terhadap tulisan yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan, membuang waktu kita dalam kemarahan dan kenegatifan? Kenapa kita hanya membeo atau mengembik "Setujuuuuuuuuu" tanpa memikirkan masak-masak apa yang kita setujui? Atau bahkan siapa yang kita setujui? Kenapa kita tidak marah atau bertolak saat tokoh panutan [medsos] kita jelas-jelas terlihat menyebar berita palsu, kenapa kita pilih-pilih apa yang kita bela dan apa yang pura-pura kita tidak lihat? Kemana integritas kita? Kemana nalar dan nurani kita?

Tutup semua akses dari luar dan fokuslah pada diri anda. Siapa anda? Apa sebenarnya anda? Sudahkah anda menjadi cerminanNya?

Orang sini memiliki banyak alasan untuk tidak ramah terhadap saya. Saya terlihat berbeda dari mereka. Bahasa Inggris saya tata bahasanya masih belepotan. Saya kurang mengerti adat istiadat disini. Saya bukan salah satu dari mereka. Nggak apa-apa, pikir saya. Sulit dapat kerja pun saya nggak menganggap ini diskriminasi. Wajar toh kalau mereka lebih nyaman dengan 'sebangsa'nya. Saya pun kalau di Indonesia menerima CV seseorang dari negara Vanuatu atau negara yang tidak begitu dikenal lainnya pasti agak ragu. Ada begitu banyak hal lain yang saya syukuri disini: air keran bersih siap minum, naik taksi online tanpa drama, kesetaraan hak dan kebebasan dari gossip miring.

Semua ini menjadi sebuah lingkaran yang terus berputar: saya yang memilih menjadi santai dan bahagia membuat orang disekitar saya pun menjadi santai, saya yang memilih tidak keberatan diajak berbincang membuat orang lain tidak merasa sendiri, saya yang memilih sigap membantu orang (karena saya tahu nggak enaknya minta tolong saat butuh bantuan) membuat orang lain pun sigap membantu saya. 3 tahun 11 bulan disini, dan pengalaman baik yang saya rasakan jauh, jauh melebihi pengalaman buruk saya. Saya bahagia. Dan kebahagiaan saya membuat orang lain merasa bahagia.

Kembali lagi ke media sosial, apa yang anda rasakan? Apakah anda bahagia, merasa damai dan tenang? Apakah anda merasa mandiri, berintegritas, memberikan sumbangsih yang berharga untuk sekitar anda? Apakah anda merasa puas dengan siapa diri anda dan apa yang anda lakukan?

Kita tidak lagi hidup di jaman kerajaan, dimana yang bisa memberi perintah hanyalah keluarga bangsawan dan orang-orang yang ditunjuknya. Tidak ada lagi punggawa kerajaan yang memberikan titah untuk para rakyat biasa, atau Kompeni yang memberikan instruksi untuk orang jajahannya. Orang-orang pemerintahan kita yang memilih, yang membuat kita bisa membusungkan dada karena nasib mereka sebenarnya ada di tangan kita; namun sebaliknya juga membuat kita bisa terpuruk akan besarnya beban, karena apa yang kita pilih akan menentukan nasib banyak orang kedepannya, bukan hanya nasib kita. Di masa dimana semua batas gugur bagai daun jati di musim kemarau, suara dan pikiran kita menjadi lebih berarti dari sebelumnya.

Jadi apa yang akan anda kumandangkan? Apa yang akan anda berikan bagi dunia ini? Mau anda bawa kemana orang-orang di sekeliling anda? Mau anda bawa kemana diri anda? Sudahkah anda melihat teduhnya hati Sang Pencipta di mata anda saat anda melihat cermin? Sudahkah anda melihat kasih lembut Sang Maha Pemaaf di senyuman anda saat anda melihat cermin? Sudahkan anda melihat damai surga di raut wajah anda?

Kita berpikir hanya tsunami raksasa yang bisa mengubah tampilan pantai, namun tetesan air yang terus-menerus sebenarnya akan mampu membolongi batu. Kita tidak perlu menjadi ombak besar yang bergemuruh, cukuplah menjadi riak-riak kecil yang secara konstan menghiasi badan air dan dengan demikian mempengaruhi kehidupan didalamnya. Bila kita tenang, bahagia, nyaman dengan diri kita sendiri, maka orang lain pun bisa menjadi tenang, bahagia, dan nyaman dengan diri mereka. 

Dan nggak apa-apa lho kalau anda merasa benar dan yang lain salah, karena benar salah itu relatif. Yang nggak relatif alias absolut adalah kita nggak boleh menyakiti mahluk hidup, apalagi sesama manusia. Seperti ini: dua kali tiga tambah empat hasilnya relatif, yang jawab 10 itu benar ((2x3)+4), yang jawab 14 juga benar (2x(3+4)). Kita bisa berantem sampai bego antara 10 vs 14, sampai saling menghina dan memaki, tapi yang tahu yang paling benar ya yang membuat soal (baca: Tuhan). Tapi angka dua dan tiga adalah bilangan prima (bilangan yang hanya bisa dibagi dengan angka satu dan dirinya sendiri), ini sudah absolut.

Apa yang absolut di dunia ini, di hidup anda? Di hidup saya, yang absolut adalah senyum ramah orang-orang yang saya temui dijalan, tawa hangat teman di Indonesia saat saya video call, perasaan bahwa saya berguna bagi orang lain, dan saya mampu membuat orang lain merasa bahagia dengan dirinya sendiri. Diantara gemuruh suara negatif dan godaaan pikiran buruk, saya memilih untuk berlindung dalam ketenangan saya. Apa saya salah? Mungkin. Apa saya benar? Mungkin. Apa saya merasa hidup saya berarti? Iya. 

Di dunia yang penuh kegelapan dan ketidakpastian, saya ingin menjadi lilin kecil yang memberikan keteduhan; seberkas cahaya yang bisa membuat orang-orang yang melihat tidak lagi merasa sendiri dan hilang. Dan saya nggak mau mikirin mereka itu siapa, apa nanti kita akan masuk surga bareng atau nggak, apa nanti saya atau dia dirajam di neraka. Itu urusan belakangan, pe-er yang masih sedang dinilai si pembuat soal. Saya cuma nggak ingin orang lain merasa sedih, saya cuma ingin orang lain merasa bahagia, walau hanya sebentar, hanya sebatas bertukar senyuman. Toh nggak ada yang berkurang dari saya saat saya memikirkan kebahagiaan/perasaan orang lain. Nggak usah pelit.

Kalau anda bagaimana? Apa yang ingin anda dapatkan untuk diri anda? Apa yang ingin anda capai untuk dunia ini? Karena apa yang anda lakukan akan mempengaruhi orang yang bersinggungan dengan anda. Mampukah anda naik tingkat menjadi 'manajer' diri anda sendiri, dimana anda membuat keputusan berdasarkan apa yang anda pikir benar dan bukannya karena 'suruhan' (langsung dan tidak langsung) orang lain? Sudahkah anda memiliki integritas dan kejujuran yang konon ciri khas orang 'berkelas' (gentleman)? Sudahkah anda berusaha sedapat mungkin memberikan yang terbaik untuk dunia, yaitu memberikan dunia yang terbaik dari diri anda tanpa melukai atau merampas hak orang lain?

Perubahan dimulai dari kita. Dari orang-orang yang membaca tulisan ini, yang mampu mengerti dan mau memahaminya. Surga tidak harus menunggu hingga kita mati nanti. Surga dan kedamaian bisa dimulai sekarang, di muka bumi ini. Sekarang, sudah siapkah anda mencapai ketenangan dan kedamaian? Nggak bakalan mudah, karena berdamai dengan diri sendiri itu sulit, dan juga berdamai dengan tekanan sosial. Tapi percaya deh, hidup akan jadi jauh lebih menyenangkan :) . Yuk, kita nikmati indahnya hidup bersama-sama.

Wednesday, May 10, 2017

Ibu Pertiwi, Nge-Teh Yuk

Ibu Pertiwi apa kabar? Duduk Bu, bareng saya. Kita nge-teh sambil ngobrol dan ngemil gorengan. Di Los Angeles sini yang paling dekat dengan ngemil gorengan itu adalah ngemil tempe mendoan di Wong Java, yang royal banget ngasi cabe rawitnya. Hashtag #bahagia.

Sini Bu, bersandar di pundak saya. Yuk saya peluk agar Ibu tidak merasa sendirian. Biar saya membantu memanggul beban Ibu walau hanya secuil saja. Bukan hanya saya saja lho Bu, begitu banyak yang ingin memeluk Ibu dan meringankan beban Ibu. Angkat dagu Ibu tinggi, jangan malu Ibuku sayang. 

Saya cuma bisa membayangkan frustasinya Ibu. Sekian dekade berjuang membebaskan diri dan rakyat Ibu dari penjajahan, 72 tahun kemudian kita masih dijajah. Rakyat kecil masih ditindas dan haknya dirampas. Masih jauh, jauh sekali kita dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang menjadi dasar negara kita. 

Banyak yang mendadak malu menjadi orang Indonesia. Banyak yang memaki dan putus harapan pada Indonesia. Saya tahu, itu juga beban pikiran Ibu. Ibarat pendukung Trump vs anti Trump: yang anti Trump menuduh pendukung Trump orang kampung yang tidak bisa berpikir panjang, yang pendukung Trump menuduh yang anti Trump itu antek asing yang akan menghancurkan nilai-nilai agama dan budaya luhung Amerika. Persis banget kan seperti berantem saat ini di Indonesia? Dan Ibu yang rasanya jadi ingin menenggak P***dol sekotak karena pusing melihat pertengkaran anak-anak Ibu.

Tapi saya nggak malu kok Bu jadi orang Indonesia, bahkan saat ini semua terjadi. Saya tinggal di Amerika sini bangga sekali dengan ke-Indonesia-an saya. Saya nggak bangga karena budaya kita unik atau karena alam kita indah. Kan saya nggak ada sumbangsihnya disitu, songong banget saya ngebanggain yang bukan buatan saya. Saya bangga akan siapa kita sebagai manusia Indonesia.

Yang ekstrim radikal begini kan baru ya Bu. Ikut-ikutan agenda global ceritanya. Sebelumnya bukankah kita hidup dengan tenang? Saya selalu menjelaskan kepada orang sini bahwa Indonesia sudah terlatih dengan perbedaan. Coba ingat ada berapa suku di Indonesia dengan budaya dan bahasa yang berbeda. Di era dimana batas-batas dunia semakin memudar dan akan menghilang seluruhnya, Indonesia sudah belajar terlebih dahulu untuk hidup dengan perbedaan. Kita sudah mencuri start.

Iya Bu, saya mengerti. Yuk sambil diminum tehnya. Saya mengerti bahwa Ibu kesal banyak dari orang Indonesia yang bermental pemalas dan tidak mau konfrontasi. Resiko sih ya, kalau alamnya begitu memaafkan sehingga mental pun ala kerupuk. Seumur hidup bergantung pada rizki alam dan penguasa feudal sehingga tidak terlatih untuk berpikir sendiri. Padahal kalau kita mau berpikir ya Bu, kalau saja.

Sekian dekade yang lalu ada anak-anak muda yang memaksakan dirinya untuk berpikir. Bukan hanya mereka berhasil menyatukan Indonesia, namun juga berhasil membuat Indonesia sebagai negara merdeka. Mereka membentuk negara lho Bu. Pasti Ibu bangga sekali saat itu. Anak-anak muda ini bisa saja menutup mata terhadap penderitaan bangsanya dan hidup nyaman sebagai priyayi, tapi nggak lho Bu, mereka angkat senjata dan angkat suara. Hebat banget deh. Nah kan, Ibu tersenyum.

Dan sekarang saatnya kita angkat senjata lagi, tapi kali ini bukan dengan bambu runcing dan laras panjang. Kali ini kita angkat bicara di media sosial, senjata kita adalah pendidikan. Pendidikan bahwa kita semua setara dan seimbang, bahwa kita punya harapan dan kita punya hak, bahwa kita lebih dari sekedar sapi perah dan keset para penguasa. Pendidikan bahwa hidup itu nggak selalu harus susah, bahwa birokrasi nggak harus selalu mahal, bahwa penguasa nggak selalu harus korup.

Saya tahu Ibu tahu risikonya masih sama bagi para pejuang ini: yang satu kaki di liang kubur dan satu kaki di dalam penjara. Ibu nggak suka melihat mereka harus mengorbankan dirinya, nggak tega melihat nasib mereka kedepannya, tapi Ibu nggak punya pilihan. Maaf ya Ibu harus berada di posisi ini, maaf ya Ibu harus melihat anak-anak Ibu terkorbankan seperti ini. Walau Ibu tahu mereka rela, tapi di hati Ibu, Ibu pasti tetap nggak rela.

Sama seperti di jaman sebelum kemerdekaan dulu, Ibu kirimkan anak-anak bangsa terbaik ke luar negeri agar mereka bisa belajar akan standar kelayakan hidup yang lebih baik. Berharap mereka akan pulang dengan pemikiran yang luas dan matang, mampu melihat lebih gambling dan bisa menolong saudara-saudara mereka yang tertindas. Sekian puluh tahun yang lalu anak-anak bangsa belajar bahwa perlakuan penjajah terhadap rakyat negerinya tidak bisa dibiarkan, bahwa setiap manusia memiliki hak asasi yang sama, terlepas dari siapa mereka. 71 tahun yang lalu akhirnya kita merdeka.

Sayangnya kali ini sedikit berbeda, Bu. Anak-anak bangsa yang mengenyam pendidikan di luar negeri, yang memiliki akses internet dan kemampuan mengakses informasi, banyak diantaranya yang menjadi tawanan. Sebagian dari mereka tawanan keadaan: tidak bisa pulang karena hanya di luar negeri mereka dapat berkarya maksimal demi Indonesia, atau sudah pulang namun terbelenggu kondisi di Indonesia. Sebagian lagi tawanan kenyamanan: memilih tidak pulang dan tidak peduli karena sudah patah arang dan terlalu nyaman di negara orang, atau hidup berkecukupan di Indonesia sehingga tidak lagi melihat kesetaraan hak warga negara Indonesia sebagai sebuah hal yang mendesak. Jadilah saat ini akhirnya kita sibuk bertengkar sendiri, pertengkaran yang pastinya membuat Ibu frustasi. 

Sandang Pangan Papan yang cukup bagi semua rakyat Indonesia, itu saja yang Ibu butuhkan. Namun ketersediaan sandang pangan papan yang cukup membutuhkan infrastruktur yang memadai, daya beli yang kuat, kepastian hukum yang mengikat. Dan semua ini membutuhkan persatuan Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, semua harus melihat sesama rakyat Indonesia sebagai saudara. Tanpa adanya pengertian akan persamaan hak dan bila masih ada pengkotak-kotakkan masyarakat berdasarkan SARA, minoritas mayoritas, status sosial dan hal lainnya, tidak akan ada kepastian hukum. Tanpa adanya kepastian hukum, ekonomi tidak terkontrol dan daya beli tidak terjamin. Tanpa adanya kepastian sistem ekonomi, termasuk didalamnya pemasukan pajak, infrastruktur tidak terjamin. Ini lho Bu yang harus kita perjuangkan. Kok banyak yang lupa ya, Bu?

Gimana Bu? Ibu masih percaya sama anak-anak bangsa ini? Saya juga sih. Api pengetahuan itu nyalanya sulit, tapi bila sudah menyala seperti api sekam, sulit dipadamkan. Bagi yang tahu hak dan kewajibannya, bagi yang mampu menghargai hak dan kewajiban orang lain, bakalan sulit untuk begitu saja merampas atau melihat hak orang lain terampas. Rasa kenyamanan dan keamanan, rasa dihargai dan memiliki hak itu bagaikan madu termanis, yang sekali saja menyentuh bibir kita tak akan terlupa selamanya.

Saya ingin Indonesia bisa seperti di Amerika sini Ibu. Saya rasa inilah kenapa Ibu mengirimkan saya sendiri. Saya ingin Indonesia bisa menghargai wanitanya. Saya ingin Indonesia yang bebas dari birokrasi korup. Saya ingin Indonesia yang warga negaranya bisa memperoleh air bersih dan listrik dengan mudah, yang bisa mendapatkan kepastian hidup bernegara, yang surat-surat kependudukan seperti KTP atau sertifikat tanah/rumah mudah didapatkan. Saya ingin Indonesia yang tidak menganggap sebagian warganya sebagai warga kelas dua hanya karena apa yang mereka percayai, apa garis keturunan mereka, atau dimana (pulau/daerah) mereka tinggal. Pasti bisa kan Bu? Ibu percaya itu kan?

Perjuangan jaman dahulu pun butuh waktu yang lama untuk mulai bergerak. Belum saatnya saya dan Ibu berputus asa. Mungkin orang-orang yang aksi damai demi Ahok di pelosok kedepannya akan melakukan aksi yang sama saat pejabat pemerintahan di daerah mereka bertingkah dan menindas rakyat di daerah mereka. Jadi nggak cuma sekedar ikut-ikutan. Atau ibu-ibu arisan yang heboh rumpi ria mengirimkan karangan bunga akan sama hebohnya saat mendengar berita pembuatan KTP di daerah mereka dipersulit, dan bukannya bayar calo mereka malah bersatu-padu berdemo di depan kantor kelurahan. Kenapa nggak, ya Bu?

Dunia sudah di titik nadir, Ibu. Begitu banyak kebingungan dan kebencian, ketakutan dan kesengsaraan. Kita sibuk mengangkat senjata melawan musuh ini dan itu, padahal yang harus kita lawan adalah kegelapan. Kegelapan dalam hati kita, kegelapan dalam pikiran kita. Kita meneriakkan maklumat perang terhadap lawan-lawan kita, padahal yang harus kita perangi adalah keserakahan dalam diri kita yang bukan hanya memangsa kita sendiri, namun juga orang lain. Tidakkah Ibu bisa mencium bau anyir darah yang semakin kuat, dan panasnya tubuh-tubuh yang membusuk?

Minum lagi tehnya Ibu, mumpung masih agak panas. Wangi melati yang lembut dan manis gula batu, cukupkan untuk menghangatkan hati Ibu saat ini? Wangi harapan, Ibu Pertiwi, harapan Ibu dan saya. Harapan bahwa anak-anak bangsa akan mengerti akan nilai sesamanya, akan mengerti akan pentingnya persatuan, akan mengerti akan pentingnya masa depan untuk semua. Harapan bahwa saat pengertian itu terjadi, belum terlambat bagi kita semua. Dulu kita bisa merdeka, sekarang kita bisa merdeka lagi, kan? Semoga ya Ibu Pertiwi tersayang. Semoga.

Monday, May 1, 2017

Little People

When the chair feels a little too big
And you think you don't fit in
Desperately moving to fill up the space
Worrying every moment you look like a fool

When the shoes feel a little too big
And you think you can't keep them on
Trying hard to shuffle and not stumble and fall
Fearing the moment your face hit the ground

When the mantle feels a little too big
And you think you are drowned inside it
Fighting with all you have to carry it with dignity
When inside you know you can't go much more

We're the little people, you and I
Sitting in the throne that is too big for us
Walking in the shoes that are too big for us
Carrying the mantle that is too big for us

And the world is maddeningly huge
The tasks are viciously heavy
The doubts are crushing us without mercy
And us, the little people, are only little

We want it to stop
We want it to end
We want to scream "That's enough!"
But still we prevail

And slowly but sure the little people won't be so little anymore
We'll sit a bit straighter in the chair
We'll walk more confidently in those shoes
We'll carry the mantle with air of grace

We grew into them through perseverance
Through trials and tribulations
Through countless of "Damn it all!"
Through many whispers of "I can do this"

The tasks didn't get smaller
The little people got bigger
Changes that's too little to perceived
Till one day it all simply fit in

Then we'll wake up and found ourselves in a bigger chair
In a pair of bigger shoes
Carrying a bigger mantle
And we'll say to ourselves: "Dafuq?"

We'll be little people once more
Over and over and over again
But we'll also grow into the tasks
Over and over and over again

Chin up little people,
Shine that bright happy smile
You won't be little forever
We'll just have to trudge through

Head high, little people
Have faith in you, no matter what
Even if you found yourself little again
You made it then, you'll make it again

Be humble, big people
For you can be little any time
Stay true, stay faithful
Big or small, you'll always be you

Love ya', little people
Proud of ya', big people
Things may come and things will go
But you, you will always have you

Monday, April 24, 2017

Perjuangan Belum Selesai

Buat yang masih mengharu biru Ahok kalah, udah nggak usah ekstrim sibuk menyerang Anies-Sandi. Yang semua tindakannya sibuk dibikin meme dan dibahas di blog-blog ga jelas, dan di-share dengan taatnya ke seantero jagat maya. Do'i belum pada naik lho, jangan sampai udah basi/kehabisan tenaga saat do'i dilantik dan yang harusnya bener diperjuangkan/ dipermasalahkan jadi nggak ada artinya.

Fun fact: Saat Trump dilantik, semua kebijakannya dan perkataannya dan perbuatannya disorot publik. Sekarang menjelang 100 hari kepemimpinannya orang sudah nggak terlalu heboh dan perduli lagi.

Kekhawatiran masyarakat terhadap sinyalemen 'ini orang nggak bener' itu wajar banget. Berat buat do'i-do'i karena bagi banyak orang Ahok sudah identik dengan 'Bersih' dan 'anti korupsi'. Trump disini sudah dicap 'kampret', jadi sudah bukan sinyalemen lagi, tapi dianggap fakta normal. Bedanya adalah Trump kampret pun masih bisa dijegal oleh sistem pemerintahan Amrik, kongres senat dan kawan-kawan; sementara kalau di Indonesia pejabat negara kampret ya kita tinggal gigit jari.

Tapi apa iya? Apa iya kita segitu nggak punya suaranya? Sampai kapan mau jadi wong cilik ya cuma bisa menunduk-nunduk dihadapan priyayi belian? Priyayi belian karena jadi priyayinya dengan membeli kekuasaan, bukan karena terlahir apalagi karena tugas yang diemban.

Indonesia adalah negara demokratis, yang berarti tiap warga negara Indonesia memiliki hak suara yang sama. Nggak perduli anda di ujung hutan yang tak terjangkau listrik atau di tengah gemerlapnya ibukota, suara anda bernilai. Bodohnya kita masih memakai pola pikir feudal, sehingga pemilihan anggota DPR/MPR dan sebagainya atau bahkan kepala daerah hanya sekedar mencoblos saja, tanpa memikirkan bagaimana menuntut pertanggungjawabannya kedepan, tanpa memikirkan janji-janjinya masuk akal atau tidak. Kita dengan mudahnya menghibahkan hak suara kita.

Kalau masih berharap pemerintah/anggota dewan/kepala daerah/otoritas yang terhormat akan mendadak memikirkan nasib anda dan membuat Indonesia akan jadi lebih baik, sini saya sambit bantal, lanjutin lagi tidurnya sana. Pemerintah yang perduli dimulai dengan masyarakat yang perduli, bukan sebaliknya. Banyak peraturan-peraturan di Amerika sini (kalau tidak semua) dimulai dengan desakan masyarakat. Ada sih yang titipan pengusaha, tapi tetap suara masyarakat harus didengar. Anggota kongres / senat / pemerintahan yang nekat pura-pura budeg, siap-siap tidak dipilih lagi kedepannya, bagus kalau tidak dipecat saat itu juga.

Buat yang memilih Ahok-Djarot, perjuangan masih belum selesai. Si Oom ini masih menjabat 6 bulan lagi lho, pastikan program-program si Oom aman. Catat yang benar apa yang anda rasakan, program apa yang menurut anda berguna dan harus tetap dilaksanakan. Foto kalau perlu, dokumentasikan. Anda nggak memperjuangkan Ahok-Djarot, anda memperjuangkan Jakarta yang lebih baik. Kalau Ahok menang pun 5 tahun kedepan dia nggak bisa lagi mengurus Jakarta, bukan? Jangan bergantung pada satu orang, yakin kita bersama bisa.

Buat yang memilih Anies-Sandi, perjuangan juga masih belum selesai. Kawal terus apa yang dikampanyekan do'i-do'i ini, karena anda lebih bernilai dari sekedar sapi-sapi kampanye. Mereka butuh suara anda untuk menang, anda berhak menuntut apa yang mereka janjikan. Lihat sekeliling anda dan jujurlah, apa perubahan Jakarta yang menurut anda berarti, apa program yang menurut anda membantu, pastikan kalau gubernur selanjutnya tetap membuat Jakarta tetap lebih baik. Kalau aplikasi QLUE itu berguna, jangan rela tiba-tiba dihapus. Kalau sempat bebas pungli, jangan mau tiba-tiba dipalak PNS lagi. Jakarta bukan sekedar ego kalian untuk memilih jawara ala Indonesian Idol atau Akademi Dangdut, Jakarta juga milik anak cucu kakek nenek cicit buyut kalian, yang semuanya berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Kenapa harus repot begini? Karena kita di Jakarta adalah tolok ukur masyarakat di daerah. Kalau kalian berhasil memperjuangkan hak-hak kalian di Jakarta, yang didaerah lain pun akan bisa tergerak dan memperjuangkan hak-hak mereka. Nggak usahlah buang-buang waktu nyinyirin lawan, membuat meme atau blog ini itu meledek masing-masing pasangan. Bego amat kalau masih sibuk ngeshare begituan, yang untung kan yang bikin blog/meme etc; padahal belum tentu juga yang bikin beneran anti pasangan tertentu, bisa jadi segala oke demi jualan iklan laris. 

Perjuangan kita masih jauh, Mas dan Mbak. Saatnya kita merebut suara kita, saatnya kita membuat suara kita berarti sehingga kedepannya orang-orang calon pemimpin pikir-pikir sebelum maju atau melakukan sesuatu. Nggak harus dengan demo sekian milyar orang pula, tapi dengan bersenjatakan fakta dan persatuan antar masyarakat. Jakarta milik kita bersama lho. Anda boleh saling nggak setuju dengan berbagai hal, misalnya soal boleh/tidaknya potong sapi di pinggir jalan, tapi hal-hal yang mendasar seperti jaminan pelayanan masyarakat yang sepantasnya yang terjangkau tanpa pungli harus diperjuangkan bersama. Masuk akal kan?

Thursday, April 20, 2017

Makasih Sudah Menyekolahkan Aku

Bu,
Hari Kartini nih. Pasti Ibu sibuk mengurus si dedek centil keponakanku. Terbayang hebohnya dia dipakaikan baju kebaya dan melenggak lenggok cantik di TK nya. Dari jaman kita TK sampai sekarang anaknya si Kakak yang TK, tiap Hari Kartini berarti sibuk deh anak perempuan berdandan. Tapi buatku yang jauh di Los Angeles, Hari Kartini nggak cuma setahun sekali. Buatku tiap hari Hari Kartini.

Tiap pagi aku bangun aku diingatkan bahwa aku ada disini didekatnya Chris Pratt (kenal juga nggak padahal, tapi kan lebih dekat daripada kalau aku di Denpasar) karena Ibu yang dengan semangat Kartini memacu anak-anak perempuan Ibu untuk belajar. Ensiklopedi dan buku-buku yang Ibu beli, kursusan yang harus kita ikuti, dan tekad Ibu agar semua anak Ibu lulus kuliah, ini semua modal yang Ibu berikan pada anak-anak perempuan ibu sampai kita jadi (ahem) hebat dibidangnya.

Nggak, aku disini nggak ditanya apa itu proses fotosintesis saat melamar pekerjaan, juga nggak ditanya bagaimana menghitung percepatan benda bergerak saat nge-date, apalagi disuruh menyebutkan 5 ekspor utama Republik Kongo. Di pekerjaan juga nggak terpakai ilmu Mikrobiologi atau Parasitologi, dan jelas Farmakologi serta Histologi juga tidak tersentuh. Tapi semua 'ilmu' lain yang aku dapat saat sekolah itu terpakai lho.

Saat sekolah, aku belajar:
- Bersosialisasi: Bukan yang hapalan buku, tapi bagaimana berinteraksi dengan guru teman dan orang lain.
- Deadline: Alias peer. Belajar mencari waktu untuk menyelesaikannya dan mencari jalan keluar kalau tidak selesai.
- Aksi dan konsekuensi: Kalau salah, terlambat, tidak mematuhi aturan, siap-siap disetrap.
- Tanggung jawab pada diri sendiri: Terutama saat kuliah, saat tidak ada lagi yang mengawasi.
- Logika: Ilmu alam itu pakai logika, nggak bisa cuma dihapal.
- Hapalan: Karena ilmu sosial (sejarah, geografi etc) itu bagaimana kita melihat sesuatu dengan cepat dan mampu mengingat poin-poin pentingnya.
- Melihat secara garis besar/tidak berpikiran sempit: Dengan sedemikian banyak yang harus dipelajari, cari mati kalau masih nekat hanya menghapal buta.

Jadi saat aku:
* Mengurus perpanjangan green card, memohon nomor penduduk, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan birokrasi: pelajaran PPKn dan Geografi lah yang punya andil (baca: belajar membaca/mengartikan formulir dan membaca cepat menentukan hal-hal apa yang penting)
* Mengurus keuanganku: jelas matematika dan ekonomi/akuntansi yang berperan. Paling nggak tahu kalau keuangan sudah nggak seimbang dan bisa mengalokasikan dana dengan sesuai.
* Gonjang-ganjing rumah tangga: terimakasih banyak untuk Ilmu Alam yang memaksa saya terbiasa melihat segala sesuatu secara utuh dan mengambil keputusan dengan kepala jernih dan bukan emosi sesaat.
* Berkenalan bertemu orang baru dan mencari teman di negeri orang: setelah drama emo / ABG saat SMA dan ospek saat kuliah, ini mah kecilllll
* Mencari pekerjaan dan beradaptasi dengan atasan: apa kabar guru-guru sekolah yang sok cihui dan dosen-dosen yang sok penting hihihi? (Mayoritas guru/dosenku sih oke ya huhu, jadi kalau pak/bu guru/dosen ada yang baca jangan tersinggung #kisskiss)

Aku disini success story lho Bu. Belum sesukses yang bisa membiayai kalian semua ke Disneyland sayangnya (pergi sendiri saja kayaknya belum sanggup/nggak rela bayarnya), tapi bisa dibilang American Success Story. Imigran yang belajar melakukan apa-apa sendiri, yang 5 bulan kerja full time sudah bisa sewa apartemen sendiri, yang walau pisah dari suami masih sanggup jalan-jalan ke negara bagian lain dan hidup dengan aman dan nyaman, yang nggak tergantung dari bantuan pemerintah apalagi bantuan orang tua. Disini banyak lho Bu yang biar seumur aku masih menadahkan tangan ke orang tua. Bangga nggak sih Ibu sama aku? Aku bangga sama aku hehehe.

Dan ini semua karena Ibu. Ini semua karena Ibu memperjuangkan pendidikanku. Walau kadang sirik melihat teman-teman yang tampak lebih makmur berkat orangtuanya, aku tahu 'modal' yang sudah Ibu berikan padaku adalah sesuatu yang tidak akan pernah habis dan tidak bisa diambil dariku. Dan aku berharap akan lebih banyak orang mampu menyadari hal ini.

Anak perempuan kan bukan hanya barang ya, Ibu. Pastilah cita-cita banyak orang tua (kalau bukan seluruh orang tua) supaya anak perempuan mereka berkeluarga bahagia, anak suami lengkap. Tapi untuk mencapai itu kan perlu modal. Kalau pernikahan adalah sebuah perusahaan, tentu kandidat partner/rekan bisnis utama yang akan dipilih adalah yang bisa memajukan perusahaan, bukan yang cuma ada disitu menghias kantor. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan rekan bisnis utama (baca: suami) dan ia harus mengurus agar dirinya plus karyawan (baca: anak-anak) tetap terjamin? Bagus kalau perusahaan utama (baca: orang tua suami/istri) masih mau dan bisa turun tangan, kalau tidak?

Sama seperti perusahaan, punya gelar tinggi-tinggi tidak menjamin bisa menjalankan perusahaan. Makanya suka sebal kalau melihat orang yang pasang status membenarkan ibu RT berpendidikan tinggi "Bagus kan anak bisa diasuh lulusan S2", tapi masih rajin main copas berita hoax. Malu sama gelar gitu. Nggak punya gelar pun bukan berarti karyawan (baca: anak-anak) nggak terurus. Nggak usah jauh-jauh, lihat Menteri Susi. Salah banget kalau berumah tangga hanya melihat pendidikan pasangan. Walau pendidikan bagus itu membantu karena kita terbiasa dengan logika dan metode ilmiah dan sebagainya, tapi balik lagi ke apa yang bisa dan telah kita pelajari, iya nggak Bu?

Aku di sekolah juga belajar utang piutang. Ini sebabnya aku tahu bahwa utangku ke Ibu yang telah memperjuangkan pendidikanku mungkin tidak akan pernah terbayar. Apa yang kupelajari saat kuliah dan sekolah adalah modal hidupku. Dan bila kelak aku berkeluarga (lagi), itu juga yang akan menjadi modal anak-anakku. Sampai akhir hayat kita, aku akan tetap berhutang pada Ibu. Jadi Ibu jangan takut kehilanganku ya, bahwa aku kabur dan melupakan Ibu. Konon kan setelah menikah wanita jadi milik suami. Tenang saja, nggak begitu kok. Hutangku masih banyak, mesti tahu diri. Lagipula, aku senang dekat-dekat Ibuku tersayang. Kiss kiss muah muah dari Los Angeles. Makasih ya sudah menyekolahkan aku, Kartini Spesialku. Ai lop yu pull.

PS: Ajik/Babe ku tersayang, makasih juga ya. Jangan ngambek klo nggak di mention, kan Ajik nggak Kartinian xixixi. Lop yu tu!!!!

Search This Blog