AdSense Page Ads

Wednesday, March 28, 2018

Sarimin dan Orang 'Asing'



Saya di Amrik sini main kartu ras banget lho. Memanfaatkan sepenuhnya ke-Indonesia-an untuk bergaul dengan orang-orang (dan abang-abang ganteng) disini.

"Iya dingin ih, aku kan dari tropis soalnya" Dan abang-abang disini pun meleleh. Imuuuuut!! Makanya saya nggak wow sama orang asing yang numpang tenar di Indonesia. Gue tahu taktik loe, masbro. Kita sama-sama mengeksploitasi ke-asing-an kita hahaha.

Bagi tuan rumah, ada kebanggaan melihat tamunya (apalagi yang, ahem, menarik) mengagumi rumahnya, hingga ingin menjadi bagian keluarga. Iya ga sih? Padahal sama orang rumah sendiri si tuan rumah cuek, atau kadang malah dipaksa memenuhi standar yang lebih tinggi. "Elu kan ga spesial, cuy".

Tapi ke-asing-an itu nggak bertahan lama. Bahasa Inggris patah-patah saat baru tiba disini dianggap imut, tapi kalau masih ga becus setelah sekian tahun ya kok nyebelin. Muka eksotis juga lama-lama bikin bosan, dan akan selalu ada wajah baru yang 'lebih'. Nggak bisa sok asing terus.

Makanya sebenarnya kasihan sih sama orang bule yang numpang beken di Indonesia. Awalnya sih saya kesal, merasa mereka mengeksploitasi kita. Memanfaatkan ke-wow-an kita untuk merasa di awan, bermandi pujian dan "Abang ganteng banget sih!"

Seriusan, banyak lho yang disini mereka nggak ada apa-apanya, lalu di Indonesia diperlakukan bagai seleb, yang tetiba distop minta foto bareng atau semua minta mengobrol. Sementara di negara nya bilang "Hai" ke cewek saja dijutekin. Ya itu, karena di 'rumah'nya mereka nggak spesial.

Disini pun kalau sudah habis masanya, mereka (dan saya) akan nggak spesial lagi. Terus menerus memainkan kartu 'asing' hanya akan seperti Sarimin naik sepeda (topeng monyet). Semua tepuk tangan, semua memuji, lalu semua akan bubar. Sudah selesai hiburannya. Kasihan kan si Sarimin.

Padahal ke-asing-an itu modal lho, yang kalau dipakai dengan baik bisa menjadi asset. Bagi saya yang penulis, saya yang orang Indonesia tinggal di Amerika itu berkah banget. Saya memasukkan pola pikir Indonesia saya di artikel berbahasa Inggris saya, dan cerita Amerika di artikel berbahasa Indonesia.

Hasilnya? Tulisan yang unik dan mengena. Saya pun akan tetap dianggap 'beda', karena saya mampu menawarkan sesuatu yang tidak biasa. Saya tidak perlu (dan tidak bisa) hanya bergantung dari 'saya orang asing' untuk meraih apa yang saya inginkan.

Ini pelajaran bukan hanya untuk orang Indonesia yang diluar negeri, namun juga orang Indonesia dimanapun yang merasa 'asing'. Yang baru pindah ke daerah baru, misalnya, atau yang merasa pola pikirnya berbeda dengan orang sekitar. 

Di masa dimana semua terlihat sama, perbedaan yang digunakan dengan benar bisa menjadi ujung tombak kita, yang membuat kita menonjol dan unik. Kadang yang unik itu identik dengan aneh dan jadi bahan bully, tapi kadang keunikan itu yang justru membuat orang memilih kita.

Perlu keberanian untuk mempertahankan siapa kita, walau berbeda dari kebanyakan. Perlu kepercayaan diri juga, dan dedikasi untuk menjadi pribadi yang 'unik' dengan tetap menghargai kearifan lokal. Ini semua terlihat jelas lho, dan nggak akan pudar oleh waktu.

Perlu pilihan juga, apakah kita akan menjadi positif atau negatif. Artikel ini awalnya berisi omelan terhadap bule-bule yang numpang tenar, tapi itu kan nggak ada faedahnya. Lebih baik saya membantu pembaca saya menyadari potensi diri mereka, daripada menghina orang lain.

Lihat sekeliling anda. Berikan dukungan dan tepuk tangan bagi orang-orang yang 'asing' namun berusaha menggunakan ke-asing-an mereka dengan sepantasnya, bagi orang-orang yang berusaha menjalani hidup dengan perbedaannya. Mereka keren. Kita pun juga bisa jadi keren. 

Dan bagi orang-orang yang masih berusaha menangguk 'like' dan 'follow' dan 'Yu ar so hensom lah' dengan hanya bermodal ke-asing-annya (baca: kebuleannya), kita berikan tepuk tangan dan lempar receh. Yay, Sarimin pintar!

[Note: Untuk para Bule/orang asing yang serius mempelajari segala sesuatu tentang Indonesia karena mereka memang suka/demi pasangan mereka dan bukan demi receh: You guys are awesome!!!]

Waterslide



Holding my phone in my hand
Resisting the urge to throw it away
Defying the temptation to block your number
Time to face my fear
Love is an elaborate water slide
One that I am afraid to take
I saw the plunging depth before me
And I am scared, so very scared
It'll be nicer to just step down
Hide myself under the gazebo
Where I won't get hurt
From the darkness that'll envelope me
Or the cold water that'll shocked me
And yes, nasty surprises that awaits me
But I have been here too long
And I have run away too many times
I don't want to be a coward anymore
I told myself I deserve to be happy
Come what may I will still enjoy the ride
The rushing feeling and adrenaline
The gleeful laughter and unbroken smile
I anchored myself in my mind
I must not run again
The ropes are around me like Gulliver's
Stopping me from sabotaging myself
This is it, the time has come
I see my phone in fear and contempt
Yet still I held it close
It is time to be brave
It is time to take the plunge

Monday, March 26, 2018

Cuma Mau Bilang



Semoga harimu indah
Semoga hatimu lapang
Semoga matamu menemukan sesuatu yang menyenangkan
Semoga mulutmu mengatakan hal yang mendamaikan
Semoga tanganmu menolong orang lain
Semoga pikiranmu indah dan damai
Semoga kamu bisa tersenyum hari ini
Semoga kamu dapat tertawa lepas
Semoga kamu tak merasa sendirian
Semoga kamu tak merasa kesepian
Semoga kamu diberikan kekuatan
Semoga kamu menemukan kesabaran
Semoga kamu menyadari betapa istimewanya kamu
Semoga kamu mengerti indahnya orang lain
Semoga kamu ingat bahwa badai pasti berlalu
Semoga kamu sadar Tuhan memberi ujian sesuai porsinya
Semoga perjalananmu hari ini lancar
Semoga usahamu tak ada kendala
Semoga semua tantangan kamu hadapi dengan semangat
Karena hidup ini indah bila kita rasa indah
Jadi cuma mau bilang,
Semoga harimu indah, teman 😊

Happiness Monday



""Let's dance," the old man said, taking her hand firmly and lead her to the dance floor. She put her hand on his arm and break into a smile, enjoying both the dance and the flirts."

What is happiness? For years I thought it being with someone you love, the little happily ever after, the end to all finale. I have been looking for it as long as I can remember.

Yet when my story ended I was forced to see the world in a different light, and surprisingly, I don't need to depend on anyone to be happy. I can do it by myself.

Happiness is:
- Walking in a flapper dress in the midst of car-chase film crews
- Helping to locate a piece of chain in the middle of the night (not an NSFW story, unfortunately)
- Dancing all night to the music, all smiles and laughter
- Orange banana choco smoothie, made from leftover valentine chocolate
- Adventuring with trains and buses, going to places I've never been
- A night in watching dysfunctional family on TV (GODDAMIT, FRANK!!!)
- Taking racy selfies because I look so pretty (nope, not sharing it)
- Making lewd jokes and sassy insults while killing monsters (Arkham Horror, anyone?)
- Bottled chocolate milk spiked with Kahlua
- Heck yeah, princess cake for breakfast (yay sugar overlord err overload!)

The list is endless. They are mundane things that one might overlook, and that will pass in an instance. I would love to have these moments forever, but it is impossible. Life comprises of fleeting moments, like water dripping from our hands. And we constantly change. What is precious now might not be precious later. 

What to do then? Live in the moment. Enjoy every experience. See things with curiosity and wonder. Life is too short to be unhappy, too large to not be enjoyed. Happy Monday, loves.

Thursday, March 22, 2018

Walking With Spirits



A friend posted a pic of the art installation in Grand Park Metro station in Los Angeles, where it displayed a bunch of people hanging/falling/flying mid-air. The common sentiment was: "I hate it. It's creepy."

I replied that it doesn't creep me at all, and maybe it's because of my upbringing where stories and folklore of people and spirits flying through the air is a common thing. It's spooky as sh*t when you see it, but still a common thing.

Wait, it actually happened? Uh… yea. Ghost stories are abundant back home, especially if you are raised in remote areas. But even among the metropolis city dweller, there are always stories to tell about ghouls and spirits.

For many of us, the concept of psychic reader that read your fortunes is a laughable and weird concept. Psychic power means you can talk and negotiate with spirits and others from the underworld, or with the soul inside you.

"Dead body animated by sorcery? Not happening here," said our guide in Toraja, known for its infamous zombie walk, "With easy access of the road, we can now bring the corpse directly instead of having to animate it through the jungle." 

"Were you praying and calling out to Queen of The Sea?" asked a man on the beach, his face was pale with awe and excitement. We nodded. He laughed gleefully, "I just saw Her carriage disappear into the waves! Bless us all!!"

"Yeah, someone was attacking us on the Night of the Silent Day. Every adult men were chased and choked in their dream," I overheard my family convo. The 13-year-old me saw them bore the same red mark on their necks that morning.

It's mutual hallucination. It's the effort to bring sense to this mad world. It's stupidity because shouldn't we all believe in science and provable facts already? I mean, come on. It's 2018, fellas. We don't even have smallpox anymore.

Yet out there, the story of Wakanda which relies on the ancestors and the great Spirits is not really something new. It is a part of our way of life. Modernization comes and erodes some of it, chipping away the unneeded one, yet still it exists.

And if you don't believe in spirits, will you believe in emotion? Will you believe in life power of animals and plants and human? Which will explain why abandoned places feel so haunting and how forests seemed to be full of 'things'.

The emotion we feel linger. It permeates the physical condition around us. The life force around us linger, traces of life that we can still sense even after the said life is gone. You can call it whatever you want, it will still be there.

This way of thinking allows me to respect my surrounding, be it living things or inanimate objects. I don't want to force myself into places or areas, and I am mindful of how I act. You can call it having a sixth sense, I called it being empathetic.

In 'normal' world, I came out as polite and thoughtful. I will be damned to say it didn't help me in my daily life. Privately, I am at ease with myself and in tune with things around me. Which again, a massive help in my life.

It is sad to hear that to some the flying men art was connected to 9/11 and suicide, where for me it reminds me of magical stories from my childhood. If you do feel that way, look up and tell them it's ok. They're ok now. 

I know that no amount of well-wishing can be a substitute for therapy after traumatic incidents. But it is not just them that you are wishing well, it is your self too. So look up and smile and wish them a peaceful rest. 

And one day, we'll be able to see things as magical once more. Instead of falling people, we'll see them flying freely. And we will walk with the spirits once more, or finally realizing we have done so already. One day. One day.

Tuesday, March 20, 2018

At The Mattress Store



Clerk: Here, this is the best pillow and you should have it.

Me [touching it]: Oh wow. It does feel amazing.

Clerk: I will go wrap it for you, then.

Me: Oh no, thanks. I don't need it right now.

Clerk: What are you talking about? This pillow is amazing.

Me: Yeah, but I am not looking for pillow right now.

Clerk: This is the best pillow ever, and you should be grateful you found it.

Me: But I don't need one right now, at least not this one.

Clerk: Do you know how many women out there have to sleep with shitty pillow?

Me: Well, that's their business and not mine. I have my preferences.

Clerk: I am trying to remind you how lucky you are to find this extremely comfortable pillow.

Me: Pillows are supposed to be comfortable. What's the big deal?

Clerk: You think you are too good for this pillow?

Me: I think I am not interested.

Clerk: One of these days you will look back and regret not taking this one-of-a-kind pillow.

Me: I sure am. As soon as I forget about the pushy clerk who tried to make me feel bad about not choosing his pillow just because I am not interested. Which is unlikely. 

Clerk: Please stop wasting my time.

Me: Uhh… Well… Okay. 

Clerk: You should be ashamed for not choosing this incredible pillow.

Me: I thought we are done? Please stop wasting *my* time.

Clerk: Wow. You are rude. I hope you are happy with your shitty pillow choices.

Me: [Walking away, decidedly never return]

Clerk [texting friend]: A customer just lead me on and then ghosted me! Where is manner these days??

Monday, March 19, 2018

Hey Para Suami



Hey para suami, sudah lihat foto saya yang terbaru belum? Di IG @Yogezwary. Baju renda pendek berwarna pink, dipadu dengan jins dan jaket Darth Vader, serta choker nan seksi. Buruan lihat deh, saya cakep banget loh.

Saya nggak selalu begini. Kalau bahasa orang sini #GloUp, jadi jauh lebih menarik. Semenjak saya memutuskan untuk berpisah dengan suami saya, saya kayak gini deh, bukan lagi ibu-ibu sumpek yang nggak menarik.

Padahal beban hidup sih sama: tetap harus menjalani komuter yang panjang buat ke kantor, tetap harus capek mencuci piring dan masak, bahkan uang lebih tiris karena tagihan/sewa dibayar sendiri. Tapi senyum saya makin sumringah.

Karena capek hati itu lebih parah dari capek fisik. Saya yang pulang kerja masih harus masak dan lalu mencuci piring itu nggak kenapa saat jomblo, tapi saat melihat suami enteng santai sementara saya repot rasanya gimana gitu.

Atau saya yang harus bangun pagi untuk siap-siap ke kantor atau mengurus anak tiri saya sementara suami sibuk tidur, dan saat dimintai tolong jawabannya: "Aku kan capek! Kamu ga kasihan ya aku sudah kerja untuk keluarga ini?"

Ngerti kok kalian capek, para suami. Makanya kita para istri pengen banget ngebantu kalian, terutama secara emosional. Nikmat banget rasanya bisa bikin kalian bahagia, serasa pahlawan yang bisa membantu dengan cinta.

Tapi kita para istri kan manusia juga. Kita bukannya nggak mau ngerjain tugas rumah tangga, kita cuma nggak mau nggak dihargain. Sharing pekerjaan rumah tangga itu bukan karena kita malas, tapi karena kita ingin melihat andilmu dalam hubungan ini.

"Tapi kan itu tugas istri!" Ya kali ya kalau di Indonesia. Tapi zaman kan sudah berubah. Jaman dulu wanita diam di rumah, pria menafkahi. Hari gini kalau laki-bini nggak kerja mah berat cyn. Jadi, lelaki juga nggak boleh malu berperan ganda.

Kenapa harus seperti ini? Karena mempertahankan hubungan lebih murah daripada memulai hubungan baru hehehe. Kalau istri merasa nggak bahagia/nggak dihargai dia akan jadi bete, lalu anda yang merasa dia 'berubah' pun jadi bete.

Akhirnya jeng jeng jeng, anda dan/atau istri merasa sudah tidak ada cinta lagi, masing2 mencari yang baru, lalu drama ini terulang kembali dengan yang baru. Semua karena anda merasa gengsi membantu membereskan rumah. Rugi kan?

Asal tahu ya, wanita Indonesia itu komoditi prima di Amrik sini. Kulit kecoklatan nan sehat, senyum malu-malu nan menawan, plus penurut, ngemong/merawat, nggak banyak tuntutan, nggak egois, sempurna banget deh.

Kalian yang merasa wanita Indonesia nggak ada harganya pasti belum pernah merasakan ditolak sinis atau dibilang blak-blakan "Loe mah nggak ada apa-apanya". Pasti belum pernah pulang capek dan dijawab, "Terus loe mau gue ngapain?"

Wanita disini banyak yang begitu karena mereka mandiri dan sebenarnya nggak perlu lelaki. Sebaliknya, walau wanita Indonesia juga mandiri banget, tapi kita masih ada sisa kepekaan untuk merawat dan menyayangi pasangan kita.

Nah, sumbangsih anda apa? Karena sori-sori aja ya, wanita Indonesia disini diperlakukan dan dikagumi banget [dan dimanja!], sementara anda nggak dibikinin kopi langsung merasa harga diri terinjak dan mengamuk.

Mungkin analogi yang paling tepat adalah daun singkong. Di Jawa gulai daun singkong itu biasa, di Bali itu dianggap penghinaan karena biasanya daun singkong dipakai untuk makanan babi. Atau tempe yang di Amrik sini ngehits banget karena kandungan gizi tinggi, sementara di Indonesia dianggap makanan 'rendah'.

Nggak ada yang memalukan lho untuk menjadi suami dan ayah yang baik, yang memberi contoh dengan menghargai pasangan anda. Membuat orang bahagia juga ibadah kan? Plus, senyuman bahagia orang tercinta itu akan membuat hubungan makin tokcer.

Jangan tunggu sampai perpisahan terjadi, sampai ketidakbahagiaan istri anda membuat hubungan anda berakhir dan lalu anda melihat dia semakin cantik dan mekar sempurna setelah berpisah. Lalu entah anda sibuk menyumpahi "Dasar pelacur!" atau sibuk meratapi nasib. Rugi.

Seriusan lho. Biar pun cuek dan jarang dandan saya mah nggak kurang tawaran. Senyum hangat dan sifat pengertian itu kombinasi dahsyat. Jadi jangan sampai begini ya, para suami. Lihat foto saya baik-baik dan camkan sekali lagi: RUGI!!!

Wednesday, March 14, 2018

My Love is Like Pi



My love is like Pi
It is irrational, both number and logic
Why do I want you, why do I don't
You can never really tell

My love is like Pi
It keeps on going till the endless end
Repeating itself without a doubt
Because, you know, that's what love is

My love is like Pi
It has big and small things (err numbers)
Just like life, where nothing is constant
The highs will always come with the lows

My love is like Pi
It is 22/7, never 24/7
I need time for myself too, honey boo
Time to find that person I love in me

My love is like Pi
It gives more the better you are
Better computer extracted larger Pi digits
(Perfect analogy of what you can get from me!)

My love is like Pi
You need it to come to a full circle
Or at least measure how far you've gone
It ain't perfect, but it'll still be a treat

My love is like Pi
It is intriguing and addicting
It is confusing and mesmerizing
But hey, I will always be around

On and on it goes like Pi
Round and round like Pi
Stubbornly enchanting like Pi
And yes, mmm, sweet as Pie

Sunday, March 11, 2018

Insecurity



Sometimes I want to be somebody else

A little skinnier, perhaps
Less pudgy fat and ugly rolls
Tummy that doesn't bulge
Thigh without stretchmarks

A little smoother, perhaps
Manicured hand and pedicured feet
Skin soft like silk and all aglow
Smell that rivals a thousand roses

A little prettier, perhaps
Perfect complexion and flawless skin
Makeup as beautiful as painting
Smile that launched a thousand ships

But why do I need to change?
Isn't my laughter contagious?
Don't I bring the summer with me?
Am I not making people happy?

Why wouldn't it be enough,
I thought defiantly
Enough that I care, Enough that I love
Enough that I am what I am

[But that's not why you don't change,
Said a gentle voice in me
You don't change not because of love
You don't change because of fear]

[A skin care or workout routine is nothing
Not to a strong mind like yours
An all-in body treatment is affordable
You are smart enough to find a way]

[But rejection is a different matter
When you have done so much
Yet the perfect you still got rejected
That is a heavier burden to bear]

[So why change? Why go extra?
At least you have excuse if rejected
"It's my physique, it's how I look"
Instead of admitting it is you, all along]

[Chin up, girl, because you are perfect
Bees attracted to different flowers
That doesn't mean any of the flowers
are less beautiful or imperfect]

[Change if you must, if you want
But do it for yourself and your growth
Do it for the sake of achievement
But not for chasing "Happily ever after"]

As usual my conscience is right
To the right person I'm alright
But what am I to me?
Have I really accept myself?

If I want to change myself I could
I just need to stop being scared
It is ok if people rejected me
It is not for them anyway, but for me

That "somebody else" will still be me
Different look or style or attitude
Yet the same person inside
Merely experimenting with life

Now wouldn't that be fun and exciting?

Thursday, March 8, 2018

Making Dreams Reality



It's not even 10 am, but I was standing in the office kitchen munching on two mini chocolate bars, a couple handful of popped corn snack, some tortilla chips, and a cup of celery-potato soup.

The reason? I just got paid. My book royalty from Indonesia kicks in a few days ago, and I found out about it yesterday. In my true "first-things-first" style I did my day as usual, wrote an article to thank my readers, and seemingly cool about it.

This morning realization kicks in. People in Indonesia actually bought my book. They could have bought a meal for two, or internet/data quota for their social life. They could have bought two movie tickets or a cup of very, very fancy coffee. Nope. They choose to buy my book.

It's not even an easy book to read. It was a self-improvement book that talks about getting yourself together after you got cheated on. It was a book that none of you wish to read. It's a good book, just a difficult topic.

But it happened. So far I have 1200+ followers on Instagram. 1,800+ followers on my personal Facebook account. 1000+ followers on the Facebook page for my blog. Over 3 million hit on my blog. And some 300 people bought my book.

Oh yes, and around this time last year when my face was pretty much plastered all over the internet as the mascot/face of scorned wife cheated by the husband. My viral article last year opened the floodgate and established that cheating is never right.

How big is this? Humongous. I am not a beautiful socialite. I am not globe-trotting nor telling stories of exotic and faraway places. I don't write dreams or pretty words; I write reality, which is always difficult to swallow. Yet here I am.

So there is room in this world after all, for quirky thoughts and rambling mind, for calls of hope and shared emotions. There is room for trust and encouragements, for kind words and unfaltering faith. For human to be human.

And if the fact that my writing is well accepted by other people is already groundbreaking, imagine how I feel receiving messages, even long after that viral article came out, on how I inspired them or how they too thrive to make the best of life.

Me. Seriously. Me. The problematic, nap-loving, IDGAF me. Are they mad?! Is it a wonder that I binge-eat at the pantry before 10 am? I feel like a dog that finally catches its tail and doesn't know what to do with life anymore.

Yet of course I know what to do. I am going to keep on writing. The goal from the start was always to connect people, to make my readers say, "My feeling exactly!" or "I did not know that, but now I know". And if I can reach just one person with my writing, it'll all be worth it.

Because the world is so big and frightening. Yet it is less so when you don't feel so alone, when you realize there are other people who shared your thoughts and even your fear. And it is always great to learn to love other people.

I texted my best friend this morning, "I did good, right?" He texted back: "Yes, you done good." I blushed hard and grinned happily. I guess, yeah. I did good.

Wednesday, March 7, 2018

Semua Akan Menjadi Lebih Baik



Hari ini tepat setahun yang lalu saya menulis tentang perselingkuhan suami saya, menyentil dengan "Halo Selingkuhan Suami Saya". Apa rasanya dari wanita yang patah hati dan tiba-tiba blog saya dibaca 2 juta orang? Mau pingsan.

Setahun kemudian saya mengecek tabungan saya. Royalti dari buku "Dear, Mantan Tersayang" ternyata sudah masuk, tanpa sepengetahuan saya. Apa rasanya dari wanita yang harus berdikari dan tiba-tiba menerima royalty buku? Serasa di awan.

Semua akan menjadi lebih baik.

Saya tahu saya hoki. Kebetulan jalannya pas, dan saya memiliki bukan hanya keoptimisan tingkat dewa, namun juga kesigapan untuk mengambil langkah yang tepat. Saya juga hoki karena saya tahan banting. Tapi bukan berarti jalan saya mudah.

Rasa yang masih teringat saat saya bangun sendiri setelah diusir oleh suami saya dari apartemen kami. Saat saya berjalan seperti zombie, menahan tangis saat membeli piring dan sendok garpu untuk makan, bertanya "Kenapa begini jadinya?"

Rasa yang masih teringat saat saya sendiri di Los Angeles sementara ia berlibur ke Indonesia. Sebelum berangkat saya memberikan buku buatan saya, kumpulan kisah cinta kami dari blog yang saya miliki. Dan ia tetap pergi.

Rasa yang masih teringat saat saya menemukan bukti perselingkuhannya, dan kehampaan yang ada setelahnya. Semua pertengkaran kami hingga saya memutuskan untuk pergi. Dia yang sibuk dengan hapenya berkata: "Jangan lupa bajumu yang di pojokan."

Rasa yang masih teringat saat saya tertawa dan menangis histeris membaca segala pujian untuk si mbak di fesbuk, betapa ia merawat orang tuanya; sementara baru beberapa minggu sebelumnya ia menjelekkan keluarga saya.

Semua pertengkaran dan sakit hati. Semua kata-kata kasar penuh amarah. Semua "Ini salah loe!" dan "Gue yang sengsara disini!" Semua omongan betapa saya nggak berharga. Betapa saya nggak tahu diri. Betapa banyak yang ia lakukan untuk saya.

Dan itu bukan sekali dua. Tempat tinggal kami yang berdekatan membuat kami kadang bertemu. Drama kami yang menjadi teman, lalu bertengkar dan seolah tidak kenal satu sama lain terjadi berulang kali. Nggak terhitung "Selamat tinggal" yang saya ucapkan.

Sakit? Banget. Bikin frustasi? Sangat. Yang kadang serasa begitu gelap dan tak berujung, dan membuat saya bertanya: "Saya salah apa sih?" Yang seringkali masih teringat masa lalu dan airmata pun merebak, berpikir: "Kok bisa sih?"

Tapi saya percaya semua akan menjadi lebih baik. Saya yang belajar mencari teman di riuhnya kota Los Angeles. Saya yang berusaha meningkatkan karir saya walau ijazah saya nggak terpakai disini. Saya yang memberanikan diri mematahkan omongannya bahwa saya nggak layak dicintai.

Dan ya, semua memang menjadi lebih baik. Yang mengikuti akun Instagram saya (@yogezwary) pasti tahu saya tampak bahagia menjelajah Los Angeles. Saya lulus ujian lisensi agen reksadana, yang mana hanya segelintir orang yang bisa lulus. Soal pasangan jangan ditanya. Nggak kurang pilihan.

Seperti halnya luka fisik, luka hati pun akan sembuh oleh waktu. Tidak memungkiri bahwa seperti halnya luka fisik, kadang luka hati bisa menyebabkan cacat permanen. Namun bukan berarti kita tidak bisa beradaptasi, bukan?

Perjalanan hidup kita bukanlah tentang si A atau si B yang menyakiti kita, bukanlah soal si X atau si Y yang merebut milik kita. Perjalanan hidup kita adalah tentang [Nama Anda Disini] menjadi lebih baik, berkembang dan bertumbuh mekar sempurna.

Ibarat koreng, biasanya yang akhirnya lama sembuhnya atau menyebabkan bekas adalah koreng yang terus dikorek-korek, bukannya didiamkan dan diberi obat. Begitu pula dengan masa lalu yang menyakitkan, diamkan dan fokus pada diri anda sendiri.

Karena ini semua tentang anda. Kita nggak bisa memaksakan bagaimana orang berpikir dan bertindak. Terus terpaku pada sesuatu yang diluar kuasa kita hanya akan membuat kita frustasi dan menghambat kemajuan kita.

Apakah saya masih sedih? Iya. Kadang masih lho, saat sedang seru dengan orang lain saya masih terpikir "Coba kalau mantan bisa lihat biar tahu rugi banget dia selingkuh." Tapi kadang juga terpikir "Eh mantan pasti suka acara ini!" lalu teringat kalau kami tidak berbicara lagi. Sedih. 

Bisakah saya terus hidup di masa lalu? Bisa banget. Itu akan seperti memaksakan memakai seragam SMP yang lengannya saja nggak muat, atau seperti memakai sepatu jaman SD dulu yang jelas sangat kesempitan. Pertanyaannya, apakah saya mau?

Semua akan menjadi lebih baik. Percaya deh. Bangkit perlahan, dan berjalan maju selangkah demi selangkah. Rasa takut dan ingin menyerah itu akan datang, namun tetap berjalan terus menuju cahaya. Semua akan menjadi lebih baik. Pasti.

[Baca lebih lanjut tentang move on dan pengembangan diri di buku "Dear Mantan Tersayang", tersedia di toko buku besar atau Gramedia online. Jangan menyerah. Kita pasti bisa :) ]

Monday, March 5, 2018

Terang Lilin Di Kegelapan



"Loe mah enak, hidup loe ga pernah susah." kata teman saya jaman dulu. Hummm.... Gimana ya? Bukan nggak pernah susah, tapi nggak berasa susah?

5 tahun saya tinggal di Amerika, baru musim dingin kali ini saya baik-baik saja. 4 musim dingin sebelumnya parah, yang saya sakit-sakitan dan rasanya musim dingin panjang banget.

Tahun ini tiba-tiba sudah bulan Maret. Sebentar lagi April. Saya nggak sekalipun cuti sakit karena kena flu. Dingin pun nggak berasa. Mungkin karena saya sudah beradaptasi.

"Dan karena kamu ga depresi lagi," tukas teman saya. Saya bengong. Sumpah nggak berasa depresi lho. Hidup terlihat susah, tapi nggak separah itu rasanya.

Saat saya melihat kebelakang, teman saya benar. Saat itu saya depresi. Yang rasanya seperti berenang melawan arus dan setiap saat bisa tertarik dan tenggelam.

Saya beruntung. Saya dasarnya optimis dan pantang menyerah. Dan yang paling penting: saya nggak memiliki tendensi depresi secara klinis. Yang berarti saya bisa keluar dari depresi saya.

Yang saya ingat saat itu terus berjalan, satu kaki didepan kaki lainnya. Seperti saat saya ikut hiking ke Gunung Batur, nggak kelihatan seberapa jauh saya melangkah karena tertutup kabut. Tiba-tiba sudah di puncak saja.

Yang sangat membantu juga adalah kepercayaan saya akan sesuatu yang lebih besar dari saya dan kepasrahan saya. Saya nggak becus ritual agama, tapi saya percaya kuasaNya.

Pemikiran saya selalu: Tuhan nggak akan memberikan cobaan yang nggak bisa saya hadapi; dan kalau pun iya, pasti akan dibantu kok, nggak akan ditinggal begitu saja.

Walhasil seberat apapun cobaan, saya selalu yakin bisa menghadapinya. Dan kalau saya merengek minta bantuan tapi dicuekin, saya anggap itu berarti saya harusnya bisa menghadapinya sendiri.

Punya iman seperti ini lumayan susah untuk (merasa) depresi. Tapi bukan berarti tiap ada yang depresi lalu kita cap tidak beriman atau "Banyakin berdoa sana"

Depresi itu ibarat berada di lubang gelap yang nggak kelihatan jalan keluarnya. Dengan menyalahkan si penderita atau membuatnya merasa terkucil, kita semakin membuatnya terpuruk.

Memaksakan pendapat kita dengan "Loe harusnya..." hanya akan memperburuk keadaan. Belum tentu yang kita anggap "Cuma segitu saja..." juga mudah bagi orang lain.

Ini bukan masalah kuat tidaknya iman, atau kuat tidaknya seseorang. Cara kita menyikapi masalah berbeda tergantung dari kepribadian dan pengalaman hidup kita. Nggak bisa semua disamakan.

Seringkali yang kita perlukan hanya seseorang disamping kita. Nggak perlu ngasi saran. Nggak perlu menghakimi. Cukup diam saja disamping orang ini.

Kalau depresi seperti terpuruk dalam kegelapan, jadilah terang lilin yang menemaninya sampai ia siap untuk bangun dan berjalan mencari jalan keluar. Itu saja.

Karena kalau kita berpikir bahwa Tuhan akan memberikan jalan, kenapa bukan kita yang menjadi jalan Tuhan? Menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong orang?

Di dunia yang penuh dengan "Saya", sulit untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Nggak ada faedahnya. Menyusahkan. Ini orang juga paling lebay. Nggak penting.

Saya kasih tahu ya, keberadaan anda dan cahaya jiwa anda bisa jadi penentu akan hidup seseorang, penolongnya agar ia tak terjerumus lebih dalam. Kurang penting gimana?

Matahari bersinar lebih cerah setelah saya bebas dari depresi, dan itu karena sekian banyak orang yang menerangi saya di kegelapan hingga saya mampu menemukan jalan keluar.

Jangan putus harapan, dan jangan pula berpaling. Cahaya Tuhan ada disekitar kita, di dalam jiwa kita. Sudah saatnya kita membuatnya bersinar terang. Matahari kan bersinar, dan begitupula diri kita.

Salam terang dari Los Angeles.

Let's Talk About Sex


I once dated a guy who insisted that I have had sex with two guys at the same time. I remember it hurt me so bad and I was trying to convince him I was not that kind of girl.

Looking back, he should've been proud if it was true. I mean, if I can get double the pleasure but I am still loyal to his dick, doesn't it say something about his sexual prowess?

The same guy, after a bitter break up, was accusing me of sleeping with all of my [new] boyfriend's friends. Which is a lot. I cried in humiliation that time, because it was not true.

Now I see it differently. Hey, at least one of us got laid. And again, if he can make me loyal to him despite all the men I could have f*cked, doesn't it say something about himself?

I wish I can tell you that this guy is a hardcore conservative Southeast Asian man with obvious patriarchy and self-confidence issue, but nope. He's your regular white American Joe.

Which shows that derogatory link between women and sex is not confined only to remote conservative area of the world. Like stupidity and ignorance, it's everywhere.

Another guy once told me that in the wake of sexual accusations, it is important that men played it safe and not making any move unless the women initiate it.

Great logic, but how do you describe 'initiate'? Is it by a play of words? Touches? How we dressed or where we take this guy? How, precisely, can we give consent?

For instance, me being flirtatious is not a sign of consent. My social media presence is filled with innuendos and lewd jokes, for fuck's sake. That's how I roll. That's who I am.

Neither should I be considered 'inviting' if I wore a skimpy dress at the club, because believe me, it can get extremely hot and suffocating there.

The easiest, I guess, is for either party to ask or to state their opinion. "Are you comfortable with this?" "Are you ok moving forward?" "Can we have sex?". You get the drift.

But we are terrified with rejection, and sometimes saying yes or no is a burden of its own. It's easier to walk the fine grey line and not committed to anything.

For women, especially, sometimes asking for sex feels dirty, feels desperate. We want to be desired, and not beg for it. We also don't want to be seen as a horny slut.

But sex is fun. Period. If such intimacy is what women want, then we should be allowed to expressed it without fear of being judged. It takes balls, but vaginas can take better pounding than balls, anyway.

Breaking the derogatory link between women and sex is a path to sexual equality, and thus, much better [sexual] experience all around. Safer too, as consent will be more open.

Women shouldn't be [made] ashamed if they want sex, or loving it just as much as men do. Ladies, there is nothing wrong with enjoying ourselves. It's damn sexy, as a matter of fact.

The guy who insulted me clearly didn't think that way. But as with any low self-confidence d-bag out there, it is not my task to stroke his ego and soothe his self-confidence. I, of course, could be stroking something else.

It's 2018. It's high time we start to vocalize our thoughts. The worse we can get is a rejection. Embarassing? Yes. End of the world? No. We can do this. Let's stop guessing around.

And nope. Not gonna feel bad about my sexual appetite. Why should I? Sex is like dancing, it's much more enjoyable when both parties are having fun. So yeah, time to have fun.

Saturday, March 3, 2018

Avocado Toast and A Cup of PositiviTea



Organic blue tortilla chips. A mix of olives from the olive bar. A nice cup of cold-brew coffee. Cute smoothies in mason jars. Cocktails after work. Avocado toast.

If a few years ago you told me this was what my daily meal will be I would laugh at your face. Seriously? That's for wuss and hippies. That's for entitled people. Down with entitlement!!!

As crazy as it sounds to you, but when I looked back at my old Facebook posts I sounded all bitter and sad, not at all the bubbly, happy, inappropriate (ahem) gal I am now. The reason? I was with one.

Negativity is contagious. It seeps into your skin, poisoned your mind, and debilitate you as you slowly lost the light within yourself. Along negativity comes fear, then hate, then anger, then aggression.

The scary part is, you don't know that is happening. You don't know that you are slowly becoming as negative as the person who transmits it to you, you just know that you feel so 'done' with the world.

What changed? I started to hang with more people. Friends, dates, unofficial boyfriends. With every new friend I make, I learn something new and see the world from their perspectives:

- Farmer's market greens are sooo much better than pre-packaged leafy greens in the grocery store. The addition $2 I paid is nothing considering the taste and the shelf life are infinitely better.

- The cool hipster-looking workers in stores like Trader Joe's or Sprouts or Whole Foods are a whole lot less intimidating once you get used to them. The items still cost more, but you can easily plan it out.

- You can make a fancy cheese platter for less than $15 if you know how and what to buy. Or your own fancy smoothies. Or your own oh-so-hip cold brew coffee with the smoothest taste and ample caffeine punch.

The list goes on and on. 

A lot of it was taught directly. Me, sitting with my best friend nibbling on cheese and olives. Me, accompanying a friend to shop at farmer's market every week. Me, 'kidnapped' for my first Universal Studio experience.

All you need is that one taste, somebody to explain it to you, and an open mind. I now know what good coffee tastes like. I now know what good beer tastes like. I now know what top-notch barbecue tastes like.

Surround yourself with good things, and only good things will come to you. We are what we choose to be, but since negativity is contagious, it is important to be careful to what we are exposed to.

In a mad, mad world like right now, it's easy to say we can't escape negativity. We can. It's challenging, especially since we're now all so connected, but we can if we know how.

The key is to expose yourself to things that will enhance you, with an open mind and a hunger, even lust, for (experiences in) life. Life is more than just ugly comments in social media, isn't it?

I learn about kindness, ambition, passion, sense of justice, and so much more from people I've met. I learn about the different way of thinking and different way of living lives. They are all good.

I don't always agree on what they choose to do, but I don't want them to be 'perfect' as per my standard, anyway. All their differences taught me acceptance, to see things past what I 'don't like'. 

In the end, it's not about getting used to avocado toast. It's about knowing it exists, and instead of making it a menace, you get to know it, try it, and even if you still hate it afterward, at least you know what you are hating.

Wouldn't it be nice if life is like this? Readying ourselves for a full blast of psychedelic life in vivid color, as opposed to hid ourselves and internally growing hatred and anger, fueled by our baseless fear?

Cutting out toxic (read: overly negative) people from your life is a really good first step. Like I said, the difference between me 3 years ago and me right now is so profound.

However, you also need to be brave. Get out there and experience the world. Try to do it with as little prejudice as possible, as if you are a clean slate ready to be rocked by colors of the world.

As my sauntering-in-fancy-dress-at-the-opera persona will tell you, (or my swing-dancing-till-you-drop persona, or my board-gaming-is-life persona, or my little-lady-in-big-city persona, you get the idea), it is oh so worth it.

Our only limit to experience good things in life is ourselves. Correction. Our only limit to experience life itself is ourselves. Down with negativity! On with the grand bright world we have!

And yes. Avocado toast is not that bad. I still prefer regular eggs and bacon especially with green stir-fry on the side, but it's not bad at all. Not bad at all.

Thursday, March 1, 2018

Melangkah Maju



6 tahun yang lalu saya nekat pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan seorang pria yang saya kenal lewat internet. Menggapai mimpi, ceritanya. Cuma ingin jadi Cinderella sekali saja.

6 tahun kemudian, saya hidup sendiri di Los Angeles. Pertemuan saya dengan pria itu membuka jalan saya untuk bisa menjadi penduduk resmi Amerika, dengan segala drama diantaranya.

Apa yang saya kejar 6 tahun yang lalu? Jawabannya receh banget: cinta. Nggak kebayang saat itu akan berakhir hidup disini, saat itu saya hanya ingin bertemu dengan pria yang tampaknya mau menerima saya apa adanya. 

Sama seperti Upik Abu, saya nggak berharap yang muluk-muluk. Saya hanya ingin bersama seseorang yang tampak bahagia sekali SMS-an sama saya, walau hanya semalam dua. Ingin sekali saja menjadi bagaikan putri dimata seseorang.

Tapi kami jatuh cinta. Cerita berikutnya adalah cerita cinta yang sedemikian dahsyatnya sampai saya bisa menulis buku essay tentang kami. Disusul dengan perpisahan yang sedemikian pahitnya sampai menjadi artikel viral dan buku terbitan Grasindo.

Seorang teman saya berujar, "Gue masih sakit melihat foto-foto lama kalian di fesbuk. Kalian terlihat begitu mencintai satu sama lain. Kok bisa sih?" Saya cuma bisa tersenyum pahit. Saya juga nggak tahu kenapa bisa begini akhirnya.

Kalau dipikir baik-baik, saya sebenarnya tahu kenapa. Saya saja yang menolak melihat adanya ketidakcocokan diantara kami dan memilih berharap semua akan menjadi lebih baik. Tapi sekedar tahu sebabnya nggak membuat melupakan dia lebih gampang.

"Hal yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk pasanganmu berikutnya adalah melupakan mantanmu," ujar teman baik saya. Saya melihatnya dengan marah bercampur malu. Dia tahu saya sudah, dan masih, mencoba.

Saya hapal buku "Dear, Mantan Tersayang" itu luar dalam, namanya juga saya yang menulis. Bagaimana move on dari mantan dengan melihat kondisi yang ada secara obyektif. Melihat daftar teman, gebetan, dan acara social saya yang padat, tampaknya saya sudah sukses move on.

Tapi ada masa dimana saya kembali terpuruk, dimana tiap saya membuka mulut saya sibuk membicarakan hal buruk yang ia lakukan pada saya. Masa dimana saya seperti orang gila, terpekur mengingat masa lalu dengan pahit.

Kalau sudah seperti itu, biasanya saya hanya bisa bersembunyi di balik selimut, menunggu segala ledakan emosional itu reda. Setelahnya saya akan merasa begitu lemah, begitu kotor karena ternyata ia masih mengontrol pikiran saya.

Lalu saya akan menyibukkan diri dengan berbagai hal, berkeras menutup mulut saya seolah saya dan dia tak pernah terjadi. Dan saya akan lupa. Saya akan bahagia. Sampai ada sesuatu yang mengingatkan saya padanya dan badai emosi itu datang kembali.

Menyebalkan ya? Nggak ada habisnya. Sudah gitu. Sampai kapan begini terus? Sayangnya walau saya punya seribu alasan untuk membencinya, saya punya sepuluh ribu alasan untuk tidak membencinya. Masih lho berpikir: "Dia ga sejelek itu kok."

Padahal bukan masalah jelek atau baik. Saya harus move on bukan karena kisah kami selesai, tapi karena dia bukan karakter yang saya perlukan dalam cerita saya yang sekarang. Ibarat kepingan jigsaw, bukan dia yang saya perlukan untuk melengkapi jigsaw saya.

Bagaimanapun saya mencoba, saya nggak bisa membayangkan, bahkan sebagai teman sekalipun, dia di dalam kehidupan saya yang sekarang. Benar-benar lain dunia. Kami sudah mencoba lho, tapi akhirnya kami hanya bertukar berita lama dan lalu bertengkar hebat. Lagi.

Kadang-kadang logika ini masuk, dan kadang-kadang saya sibuk mewek/menangis sendirian. Move on itu sulit, apalagi move on dari sesuatu yang sangat berharga bagi kita, sesuatu yang penuh kenangan indah. Kita nggak rela untuk pergi.

Tapi dengan setiap kenangan baru yang saya buat, dengan setiap gelak tawa dan kebahagiaan yang saya temukan, selangkah demi selangkah saya berjalan pergi. Saya yang sekarang lebih baik dari saya 2 tahun lalu, saat masalah kami dimulai. Saya di masa depan pasti akan lebih baik lagi.

Dan suatu saat saya akan bisa menjawab pertanyaan tentang mantan saya dengan tawa lepas, "Ah gilingan, itu kacau banget! Untung sudah lewat hahaha", tanpa perlu bercerita 3 jam nonstop tentang bagaimana saya terluka.

Perlu sekian lama saya bisa melupakan pacar pertama saya, dan akan butuh waktu yang lebih lama lagi untuk melupakan suami pertama saya. Mau bagaimana lagi? Perasaan kan nggak bisa dipaksa. Saya harus terus melangkah maju, walau selambat siput.

Hari ini fesbuk mengingatkan saya akan foto-foto saya bersamanya. Nggak seperti tahun lalu yang membuat saya banjir air mata, kali ini saya hanya tersenyum sedih dan lanjut dengan kehidupan saya. Suatu saat nanti ya, mantan, saya akan sepenuhnya lepas dari mu. Pasti kok. Pasti.

Search This Blog